Oleh: Dwi Kurniadi (Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FAI UMS)
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Rum: 41)
Dunia kini berdenyut dalam irama yang ganjil. Di satu sisi, kita memiliki teknologi yang mampu mengirim manusia ke angkasa, menciptakan kota pintar, bahkan merekayasa genetika. Namun di sisi lain, bumi rumah kita satu-satunya sedang terbatuk, mengeluh dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang masih bersedia mendengarkan. Hutan-hutan yang dulunya seperti surau alami kini terpangkas sunyi, sungai-sungai kehilangan nyanyiannya, dan langit memudar warnanya, seolah ikut berkabung atas dosa-dosa peradaban (Marlia, Susanti, dan Kurniawan t.t.).
Kita telah lama membunuh makna dengan mesin. Kita menukar tasbih dedaunan dengan algoritma yang rakus, menggantikan hikmah air dengan statistik curah hujan, dan melupakan bahwa di balik setiap tetes embun, ada kehadiran Ilahi yang sedang menyapa kita dengan lembut. Krisis lingkungan bukan sekadar akibat dari polusi karbon atau deforestasi, ia adalah luka teologis, robeknya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan (Hossein Nasr 2021).
Ziauddin Sardar, seorang pemikir Muslim kontemporer asal Pakistan yang dikenal luas sebagai futuris, kritikus budaya, cendekiawan Islam, dan penulis produktif dalam isu-isu modernitas, sains, peradaban, dan masa depan dari perspektif dunia Islam. Zaman ini, yang oleh Sardar disebut sebagai post-normal times adalah zaman ketidakpastian, kompleksitas, dan paradoks (Sardar 2010b). Di sinilah kita menemukan fakta bahwa masa depan yang kita bangun dengan angkuh telah kehilangan akarnya. Ia melayang tanpa akar spiritual. Masa depan menjadi proyek para teknokrat dan pebisnis, bukan lagi hasil tafakur dan cinta. Masa depan menjadi milik mereka yang bisa membayarnya, bukan mereka yang mencintainya.
Sardar dalam kritiknya terhadap modernitas Barat melihat bahwa ilmu pengetahuan yang kehilangan nilai spiritual hanyalah pisau yang tajam tanpa arah (Sardar 2010a). Ia bisa mengukir atau membunuh, tergantung siapa yang memegangnya. Maka dari itu, ia menawarkan satu kerangka alternatif yakni eco-futurology, cara melihat dan merancang masa depan dengan kacamata cinta terhadap bumi dan kesadaran terhadap batas-batas keberadaan manusia.
Ziauddin Sardar dan Etika Eco-Futurology
Futurisme islam yang berakar pada bumi. Ziauddin Sardar bukan hanya futuris, ia adalah penyair zaman yang memilih menulis masa depan dengan tinta kehati-hatian dan pena penuh empati. Ia melihat bahwa imajinasi tentang masa depan telah dibajak oleh korporasi, negara adidaya, dan ilmuwan yang bekerja bukan untuk umat, tetapi untuk kemajuan semu. Maka ia menyerukan revolusi diam-diam dalam cara kita membayangkan masa depan.
Eco-futurology adalah jawaban terhadap masa depan yang dibangun di atas reruntuhan ekologis. Ia bukan semata seruan untuk “go green”, tetapi suatu panggilan profetik untuk kembali menempatkan alam sebagai subjek, bukan objek. Dalam Islam, bumi adalah amanah. Manusia bukan penguasa yang berhak merusak, tapi khalifah yang dituntut untuk merawat. Kata khalifah dalam Al-Qur’an bukan gelar dominatif, tapi beban moral dan spiritual. Kita adalah penjaga kebun Tuhan, bukan perampoknya (Sardar 2003).
Dalam pandangan Sardar, cinta terhadap alam bukanlah romantisme kosong. Ia adalah bentuk dari cinta terhadap kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan adalah sesuatu yang suci dalam diri setiap makhluk dari semut hingga samudra adalah bagian dari jaring suci itu. Maka ketika manusia menyakiti alam, ia sebenarnya sedang mencederai dirinya sendiri. Ketika hutan dibakar, jiwa manusia ikut terbakar. Ketika sungai dicemari, nurani ikut keruh (Fuad t.t.).
Sardar memandang bahwa eco-futurology harus dilandasi oleh pluralisme epistemik, ilmu bukan hanya milik barat, bukan hanya produk laboratorium, tapi juga tumbuh dari tanah, langit, dan tradisi. Dalam banyak budaya Timur, termasuk Islam, alam tidak pernah dilihat sebagai benda mati. Ia adalah makhluk yang hidup, bertasbih, dan berzikir. Dalam surat Ar-Rahman, Tuhan menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dalam keseimbangan. Maka siapa yang merusak keseimbangan itu, berarti melawan struktur Ilahi (Uluum dan Nugroho t.t.).
Eco-futurology ala Sardar mengajak kita untuk membayangkan masa depan yang tidak hanya layak huni secara fisik, tetapi juga layak dihuni secara spiritual. Kota masa depan bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi ruang yang ramah bagi tumbuhan, burung, anak-anak, dan orang-orang yang berdzikir dalam diam. Kemajuan bukan lagi soal GDP, tapi seberapa damai manusia hidup bersama alam dan sesamanya.
Eco-Theology dan Cinta terhadap Alam sebagai Jalan Iman
Dalam terang agama, terutama Islam, alam adalah kitab terbuka kitāb manẓūr, saudara dari wahyu tertulis. Alam berbicara dalam bahasa yang hening, tapi padat makna. Gemuruh petir, mekarnya bunga, gugurnya daun, semua adalah tanda. Tuhan menaburkan ayat-Nya di udara, di tanah, dan di laut. Maka membaca alam adalah bagian dari ibadah. Menyayangi alam adalah bagian dari keimanan (Nugroho 2022).
Inilah inti dari eco-theology, suatu teologi yang memandang lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual. Alam bukan properti, melainkan keluarga. Gunung adalah kakak, laut adalah ibu, dan tanah adalah pangkuan kasih sayang Tuhan. Maka ketika kita menebang pohon sembarangan, kita bukan hanya merusak oksigen, tapi juga mencederai keluarga spiritual kita (Widiastuty dan Anwar 2025).
Eco-theology tidak membatasi Tuhan di mimbar masjid atau altar gereja. Ia mengajak kita menemukan Tuhan di riak air, di gerimis sore, di angin yang mengusap wajah. Teologi ini tidak menjauh dari dunia, tapi justru menyelami dunia untuk menemukan kehadiran Ilahi dalam bentuk yang paling nyata ciptaan-Nya (Iswanto 2015).
Di sinilah eco-futurology dan eco-theology berjumpa, keduanya meyakini bahwa masa depan tidak bisa dibangun tanpa hati yang hijau. Hijau bukan hanya warna daun, tetapi warna jiwa yang mencintai keseimbangan, keheningan, dan kesucian. Masa depan yang benar bukan yang penuh sensor dan drone, tapi yang penuh pohon dan doa. Masa depan yang benar bukan yang menindas alam dengan teknologi, tapi yang bersujud di hadapan keagungan ciptaan-Nya (Aidah, Amalia, dan Aqida 2025).
Keduanya menolak pendekatan sekuler terhadap lingkungan. Mereka mengajak kita berwudhu dengan air yang disyukuri, bukan diboroskan. Mereka mengajak kita shalat dalam naungan pohon, bukan dalam ruangan berpendingin yang melukai lapisan ozon. Mereka mengajak kita kembali kepada Islam yang menyatu dengan alam. Islam dan Nabi Muhammad yang mencintai unta, menyuruh tanam pohon walau kiamat tiba, dan melarang mencemari sungai bahkan dalam perang.
Membaca Masa Depan Hijau dengan Cinta
Membaca masa depan dengan hati yang hijau adalah membaca masa depan dengan cinta. Bukan cinta yang ringan dan manis seperti puisi pop, tapi cinta yang getir, berat, dan penuh tanggung jawab. Cinta yang membuat kita enggan menebang, segan mencemari, dan takut menyakiti. Karena kita tahu, setiap luka pada bumi adalah luka pada jiwa.
Ziauddin Sardar mengajak kita untuk menulis masa depan bukan dengan data, tapi dengan doa. Bukan dengan ambisi, tapi dengan amanah. Ia menyulam eco-futurology dengan benang-benang iman, dan menunjukkan bahwa merawat bumi bukanlah tugas teknis, tapi ibadah. Sementara eco-theology menunjukkan bahwa Tuhan masih berbicara lewat dedaunan dan hujan, jika kita mau mendengarkan (Wahono 2012).
Maka mari kita letakkan tangan kita di atas tanah, rasakan detak jantung bumi, dan biarkan hati kita ikut berdetak hijau. Karena siapa yang mencintai bumi, dialah yang mencintai kehidupan. Dan siapa yang mencintai kehidupan, niscaya ia sedang dalam perjalanan pulang kepada Tuhan.