Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Titik Temu Islam dan Sains dalam Pemikiran Buya Syafii Maarif: Menuju Masa Depan Kemanusiaan

Dwi Kurniadi by Dwi Kurniadi
September 22, 2026
in Esai, Narasi
0
Titik Temu Islam dan Sains dalam Pemikiran Buya Syafii Maarif: Menuju Masa Depan Kemanusiaan
9
SHARES
53
VIEWS

Oleh: Dwi Kurniadi (Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FAI UMS)

Manusia modern hidup dalam zaman yang bergerak begitu cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengambil alih berbagai pekerjaan manusia, informasi beredar tanpa batas melalui media sosial, dan teknologi semakin masuk ke hampir seluruh ruang kehidupan. Kemajuan tersebut memang memberikan banyak kemudahan. Namun, dibalik kemudahan itu muncul persoalan yang tidak sederhana: perang masih terjadi, kerusakan lingkungan semakin parah, ketimpangan sosial terus melebar, sementara teknologi yang semestinya memudahkan kehidupan justru dapat melahirkan dehumanisasi.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kondisi ini memperlihatkan sebuah paradoks. Manusia semakin pintar secara teknologi, tetapi belum tentu semakin bijaksana secara moral. Sains berkembang pesat, tetapi tidak selalu diikuti dengan kedewasaan dalam menggunakannya. Ilmu pengetahuan yang seharusnya memuliakan manusia bahkan dapat berubah menjadi alat dominasi politik, ekonomi, dan kekuasaan. Pendidikan pun perlahan dapat kehilangan orientasi kemanusiaannya ketika hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan pasar kerja.

Di tengah persoalan tersebut, pemikiran Ahmad Syafii Maarif menjadi penting untuk dibaca kembali. Buya Syafii bukan hanya seorang intelektual muslim, tetapi juga seorang moralis yang banyak berbicara tentang kemanusiaan, keadaban, dan integritas moral. Ia tidak memandang Islam sebagai agama yang anti terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Islam dan sains dapat berjalan beriringan karena keduanya memiliki titik temu dalam upaya membangun kehidupan manusia yang lebih baik.

Islam dan Sains: Mencari Titik Temu dalam Peradaban

Buya Syafii tumbuh dalam tradisi Islam modernis Muhammadiyah, tetapi pemikirannya tidak berhenti pada batas organisasi. Ia terbuka terhadap berbagai pemikiran global dan perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang mempengaruhi pemikirannya adalah Fazlur Rahman. Dari Rahman, Buya memperoleh pandangan bahwa Al-Qur’an perlu dipahami secara kontekstual dan progresif. Islam tidak cukup berhenti pada simbol dan ritual, tetapi harus hadir sebagai kekuatan moral yang membebaskan manusia dari ketidakadilan.

Bagi Buya, Islam merupakan agama kemanusiaan. Islam tidak hadir untuk menciptakan permusuhan, melainkan untuk menghadirkan keadilan dan kasih sayang. Karena itu, keberagamaan yang eksklusif, sempit, dan penuh kebencian perlu dikritisi. Islam justru harus menjadi kekuatan intelektual yang mampu membaca perubahan zaman. Salah satu persoalan umat Islam, menurut gagasan yang dikembangkan Buya, adalah lemahnya budaya membaca dan tradisi intelektual, padahal sejarah Islam pernah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berkembang begitu maju pada masa kejayaan peradaban Islam.

Di sinilah muncul gagasan tentang titik temu atau kalimatun sawa’ antara Islam dan sains. Agama dan sains sering dipandang sebagai dua wilayah yang berbeda: agama dianggap sebagai wilayah iman, sedangkan sains sebagai wilayah rasio. Namun, Buya Syafii tidak melihat keduanya sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan. Islam dan sains justru dapat saling melengkapi. Wahyu memberikan arah moral dan spiritual, sedangkan akal membantu manusia memahami realitas kehidupan.

Al-Qur’an sendiri sejak awal memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas intelektual memiliki posisi penting dalam Islam. Karena itu, umat Islam tidak semestinya takut terhadap modernitas dan perkembangan sains. Yang diperlukan adalah sikap kritis. Sains perlu dikembangkan, tetapi arahnya harus ditujukan bagi kemaslahatan manusia, bukan semata-mata kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Masalah muncul ketika sains dilepaskan dari moralitas. Peradaban modern telah menghasilkan berbagai teknologi luar biasa, tetapi teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menciptakan perang, mengeksploitasi alam, memperkuat dominasi ekonomi, dan menindas kelompok yang lemah. Dengan demikian, persoalan utama bukanlah keberadaan sains, melainkan arah penggunaannya.

Ketika Kemajuan Kehilangan Kompas Moral

Krisis lingkungan menjadi contoh yang sangat jelas. Kerusakan hutan, pencemaran laut, perubahan iklim, dan berbagai bencana ekologis menunjukkan bahwa manusia sering memperlakukan alam hanya sebagai objek eksploitasi. Keuntungan ekonomi ditempatkan di atas keberlanjutan kehidupan. Dalam perspektif Buya, persoalan ekologis bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan peradaban.

Islam sebenarnya memiliki dasar etis yang kuat dalam membangun hubungan manusia dengan alam. Tauhid tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga melahirkan kesadaran bahwa seluruh ciptaan saling terhubung. Manusia bukan penguasa mutlak atas bumi, melainkan khalifah yang menerima amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, alam tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai sumber ekonomi. Merusak lingkungan berarti merusak keseimbangan ciptaan dan mengabaikan tanggung jawab manusia sebagai penjaga kehidupan.

Pandangan tersebut juga berkaitan erat dengan pendidikan. Buya Syafii melihat pendidikan sebagai salah satu fondasi penting masa depan bangsa. Namun, pendidikan akan kehilangan rohnya apabila hanya diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja. Sekolah dan universitas tidak cukup hanya mencetak manusia yang kompetitif secara ekonomi. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, jujur, kritis, dan memiliki kepedulian sosial.

Pendidikan yang terlalu menekankan hafalan dan formalitas akademik dapat menghasilkan manusia yang pintar secara teknis tetapi miskin kepekaan sosial. Padahal, inti pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan harus membuat seseorang mampu memahami penderitaan orang lain, menghargai perbedaan, dan menjaga integritas moral. Dalam konteks ini, pendidikan humanistik memiliki hubungan erat dengan Islam karena Islam tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak.

Kritik Buya terhadap modernitas dengan demikian bukanlah penolakan terhadap sains. Ia tetap mengakui bahwa ilmu pengetahuan penting bagi kemajuan kehidupan manusia. Yang dikritiknya adalah ketika sains kehilangan kendali etika dan moral. Kemajuan yang hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, kekuasaan, atau penguasaan teknologi dapat membuat manusia melupakan tujuan sebenarnya dari pembangunan: menjaga kehidupan dan memuliakan manusia.

AI, Masa Depan, dan Kembalinya Kemanusiaan

Tantangan tersebut semakin kompleks ketika manusia memasuki era digital dan AI. Teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi. AI mampu mempercepat pekerjaan, membuka akses pengetahuan, dan menciptakan berbagai inovasi. Namun, teknologi juga membawa persoalan etik: manipulasi informasi, pengawasan digital, penyebaran informasi palsu, polarisasi sosial, hingga kemungkinan semakin kuatnya dominasi kelompok tertentu.

Media sosial memperlihatkan paradoks serupa. Manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat secara emosional. Teknologi dapat memperluas komunikasi, tetapi juga menciptakan keterasingan. Informasi yang begitu cepat dapat memperkaya pengetahuan, tetapi algoritma juga dapat memperkuat konflik dan kebisingan di ruang publik.

Dalam kondisi tersebut, pemikiran Buya Syafii kembali menemukan relevansinya. Teknologi hanyalah alat; arah penggunaannya bergantung pada nilai manusia yang mengendalikannya. Masa depan AI tidak boleh hanya diarahkan untuk memperluas keuntungan industri. Teknologi perlu digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan kehidupan manusia secara adil dan bermartabat.

Karena itu, spiritualitas menjadi penting. Manusia membutuhkan fondasi moral agar tidak menjadi budak teknologi yang diciptakannya sendiri. Sains membutuhkan etika agar tidak kehilangan arah, sementara agama membutuhkan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan agar tidak terasing dari perubahan zaman. Keduanya perlu dipertemukan dalam satu visi: membangun peradaban yang maju sekaligus berkeadaban.

Reaktualisasi pemikiran Buya Syafii juga penting bagi Indonesia. Keberagaman, toleransi, persaudaraan, dan semangat kebangsaan harus tetap dijaga di tengah menguatnya politik identitas dan konflik sosial. Perubahan sosial tidak cukup dilakukan melalui politik kekuasaan. Literasi, pendidikan, dialog, dan gerakan kebudayaan juga menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat.

Pada akhirnya, persoalan terbesar manusia modern bukan kekurangan teknologi, melainkan kehilangan kompas moral. Manusia mampu menciptakan mesin yang semakin canggih, tetapi masih menghadapi perang, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan hilangnya keadaban publik. Karena itu, kemajuan tidak boleh hanya diukur dari seberapa tinggi teknologi berkembang, tetapi juga dari sejauh mana manusia mampu menjaga keadilan, lingkungan, empati, dan martabat sesamanya.

Pemikiran Buya Syafii Maarif menawarkan sebuah titik temu atau kalimatun sawa’ antara Islam, sains, dan kemanusiaan. Islam tidak harus berhadapan dengan modernitas, dan sains tidak harus berjalan tanpa nilai. Wahyu dan akal dapat berjalan bersama. Ilmu pengetahuan dapat berkembang, tetapi tetap diarahkan oleh moral. Teknologi dapat semakin maju, tetapi manusia tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.

Dengan demikian, masa depan tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi dan kepintaran AI. Masa depan membutuhkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus nurani, kecerdasan sekaligus kebijaksanaan, serta kemajuan teknologi yang berjalan bersama tanggung jawab moral. Di tengah dunia yang semakin kompleks, gagasan Buya Syafii Maarif mengingatkan kita bahwa tujuan akhir ilmu pengetahuan bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, tetapi memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap digunakan untuk memuliakan manusia dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Terkait

Tags: AgamaAhmad Syafii MaarifAl-QuranIndonesiaIslamMuhammadiyahpendidikanPeradaban
Previous Post

Membaca Masa Depan dengan Hati yang Hijau: Menyulam Eco-Futurology Ziauddin Sardar dengan Eco-Theology

Next Post

Reaktualisasi Al-Qur’an di Abad Modern: Membumikan Teologi Al-Ma’un K.H Ahmad Dahlan

Dwi Kurniadi

Dwi Kurniadi

Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS

Next Post
Reaktualisasi Al-Qur’an di Abad Modern: Membumikan Teologi Al-Ma’un K.H Ahmad Dahlan

Reaktualisasi Al-Qur’an di Abad Modern: Membumikan Teologi Al-Ma’un K.H Ahmad Dahlan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.