Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Masjid Hagia Sophia, Menjadi Harapan Baru Peradaban Manusia

Harun Nur Rosyid Abbas by Harun Nur Rosyid Abbas
Juli 25, 2020
in Esai
0
Masjid Hagia Sophia, Menjadi Harapan Baru Peradaban Manusia
44
SHARES
261
VIEWS

Begitu banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya peradaban Islam, khususnya di akhir kekhalifahan Utsmani yang berpusat di Istanbul, Turki. Faktor-faktor tersebut antara lain karena umat Islam mulai meninggalkan ajaran Islam, yang larut dalam kesenangan duniawi. Harapan nampak tertinggal.

Dari para masyarakat elit sampai masyarakat tenggalam dalam kubangan syahwat hedonisme dan materialisme. Pelanggaran terhadap syariat Islam menjadi sesuatu hal yang lumrah sehingga membuka pintu merebaknya aliran sesat, bid’ah, syirik, dan khurafat.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Oleh sebab maksiat dan pelanggaran syariat Islam yang merajalela, loyalitas kepada Allah, lalu berubah menjadi disloyalitas. Inilah pertalian sebab akibat yang menghubungkan antara satu pelanggaran syariat Islam dengan pelanggaran lainnya, yang berdampak pada berkurang atau bahkan hilangnya loyalitas kita kepada Allah Swt.

Baca Juga: Pembukaan Hagia Sophia, Tanggung Jawab Kesetiaan dan Penghormatan Alur sejarah

Padahal, sebagai muslim, loyalitas tertinggi hanya kepada Allah Swt. Ketika seorang Muslim mengucapkan kalimah tauhid, yaitu la Ilaha Illallah, kalimah tauhid ini menghendaki kita untuk betul-betul meyakini bahwasanya tiada Tuhan yang patut disembah. Melainkan hanya kepada Allah semata.

Setelah itu, kalimat tauhid yang agung ini mengarahkan untuk kepatuhan kita kepada Allah Swt sebagai tuhan yang Esa. Pemahaman seperti ini yang telah mengantarkan umat Islam di era sebelumnya ke pintu kejayaan.

****

Dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam, termasuk dalam hal wala’ dan bara’ (loyalitas dan pengingkaran), seorang muslim tidak cukup dengan mengikhlaskan niatnya kepada Allah. Tetapi ia juga harus melakukan semua ini sesuai dengan kehendak Allah yang kemudian dituangkan dalam konsep yang diturunkan kepada Rasul-Nya, sebagai tuntunan dan pandangan. (Jasiman, Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, 2005: 24).

Sementara itu, syahadat Rasul, yaitu kalimah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, merupakan sebuah ikrar bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah Swt untuk menyampaikan risalah dari Allah kepada manusia. Beliaulah yang menyampaikan min hajul wala’ wal bara’ dari Allah Swt.

Mulai dari dasar-dasar fisiologis hingga tata cara pelaksanaannya. Rasul Saw memberikan tuntunan, panduan dan keteladanannya. Kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Runtuhnya Sebuah Peradaban

Dampak dari semua masalah tersebut adalah runtuhnya fondasi peradaban, sehingga kemudian goncangan yang datang dari eksternal. Secepatnya mampu merobohkan sisa-sisa peradaban Islam yang pada awalnya dibangun atas fondasi syariat Islam.

Kejadian tersebut, persis seperti diingatkan Rasulullah saw dalam suatu hadis yg berbunyi:  “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya: Apakah karena sedikitnya jumlah kita? Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit al-wahan. Seseorang bertanya: Ya Rasulullah, apakah al-wahan itu? Nabi saw bersabda: (Wahan itu adalah) Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud).

Ketika umat Islam terlalu cinta kepada duniawi, padahal Islam telah menjelaskan dengan tegas bahwa kehidupan abadi adalah di akhirat. Maka bukan saja kehidupan akhirat yang akan merugi, namun juga kemuliaan kehidupan di dunia juga akan tercabut. Sehingga jadilah umat Islam seperti yang digambarkan dalam hadis di atas. Tidak ada rasa takut di hati para musuh, yaitu kaum kuffar terhadap umat Islam.

****

Padahal, dalam kondisi seperti itu, yaitu seperti makanan di atas meja hidangan yang diperebutkan para pemangsa, jumlah kita umat Islam adalah mayoritas. Jumlah kita lebih banyak dari umat lain. Terlalu cinta kepada dunia dan takut mati, sehingga menyebabkan mereka hedonis dan materialistis adalah konsekuensi logis ketika syariat Islam ditinggalkan.

Hal ini diperkuat oleh teori Ibnu Khaldun yang hidup di masa Daulah Abbasiyah . Menurut Ibnu Khaldun, faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal dari pada eksternal.

Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewahan. Sikap ini tidak hanya negatif, tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Ibu Khaldun juga menyorot perilaku akhlak tercela di kalangan masyarakat kota dan para pembesar kerajaan, keluarga serta keturunan mereka.

Fenomena ini yang harusnya menjadi refleksi ditengah-tengah kondisi bangsa kita yang sedang dilanda dengan berbagai kabar yang tidak mengenakan, mulai dari wabah hingga praktik keadilan yang tidak sebenarnya.

Munculnya Perilaku tercela

Perilaku tercela yang melanggar syariat Islam ini sebagai penyebab runtuhnya sebuah peradaban yang tercantum dalam Al Qur’an “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup di negeri itu (supaya menaati Allah). Tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra: 16).

Pencurian (korupsi), kerusakan moral, berzina, itu adalah rekayasa dalam mata pencaharian, berbohong, judi, menipu, menyimpang dari keimanan dan riba semuanya adalah penyebab runtuhnya peradaban Islam.

Dalam aspek ekonomi misalnya, Islam melarang riba, sementara sistem kafir membolehkannya. Ketika umat Islam menggunakan sistem riba dalam ekonomi, maka itulah tanda kehancuran dan kemunduran. Sebab, ukuran kebangkitan dan kejayaan dari prespektif Islam adalah berdasarkan pandangan Islam halal dan haram.

Baca Juga: Ketika Pemilu Datang: Ada Harapan atau Ratapan Baru?

Umat Islam akan mundur kalau meninggalkan ajaran Islam, karena sejarah telah menunjukkan bahwa ajaran Islam mampu menjadi puncak kejayaan. Dengan dibukanya Hagia Sophia sebagai masjid mudah-mudahan menjadi harapan baru untuk kaum muslimin berbenah diri membangkitkan kembali sejarah peradaban mulia yang mungkin dirasa hilang itu. Harapan yang pasti ada, dan harapan yang akan selalu ada.

Oleh sebab itu, untuk mencegah umat Islam agar tidak terjatuh dalam lubang hitam kehidupan duniawi yang hedonis dan materialistis, maka mengembalikan ummat dan bangsa ini dalam kehidupan yang berlandaskan pada nilai-nilai syariat Islam dalam setiap dimensi kehidupan adalah suatu keniscayaan.

Artinya, penegakan syariat Islam dengan segenap qanun-qanunnya adalah jalan menuju kembalinya peradaban Islam, karena syariat Islam adalah sebuah syariat yang di bawa oleh para utusan Allah SWT.

Terkait

Tags: KemajuanPembukaan Hagia SophiaPeradaban
Previous Post

Pembukaan Hagia Sophia, Tanggung Jawab Kesetiaan dan Penghormatan Alur sejarah

Next Post

Hagia Sophia Effect dan Politik Global Erdogan

Harun Nur Rosyid Abbas

Harun Nur Rosyid Abbas

Next Post
fungsi hagia sophia

Hagia Sophia Effect dan Politik Global Erdogan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.