Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

KH. Abu Dardiri: Peletak Fondasi Dakwah Muhammadiyah di Bumi Purbalingga

Bimba Valid Fathony by Bimba Valid Fathony
November 20, 2025
in Esai, Narasi
0
KH. Abu Dardiri: Peletak Fondasi Dakwah Muhammadiyah di Bumi Purbalingga
27
SHARES
161
VIEWS

Oleh: Bimba Valid Fathony, S.Ag. M.Ag.

Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912. Pendirian organisasi ini untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Sebagai sebuah organisasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, Muhammadiyah selalu berupaya untuk menyebarkan dakwah Islam sebagaimana yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW., baik melaui lembaga pendidikan maupun amal usaha sosial lainya. Seiring berjalanya waktu, Muhammadiyah terus berkembang dan memiliki pengaruh luas di Indonesia sehingga organisasi ini berhasil diterima secara luas oleh masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Gencarnya dakwah Muhammadiyah ke berbagai penjuru Nusantara telah berhasil mencetak tokoh-tokoh hebat yang turut berkiprah dalam perkembangan dakwah Muhammadiyah. Salahsatu tokoh tersebut yaitu KH. Abu Dardiri.

Riwayat Hidup KH. Abu Dardiri

K.H. Abu Dardiri dilahirkan di Gombong pada tanggal 24 Agustus tahun 1895. Terkait riwayat kehidupan di masa kecil dan riwayat pendidikanya kurang diketahui secara pasti. Namun K.H. Abu Dardiri pernah bekerja sebagai pegawai kereta api S.D.S, lalu kemudian berpindah bekerja di pabrik gula (yang kemungkinan berada di Kalibagor Banyumas). Kemudian tinggal dan menetap di Purbalingga, disana beliau menjalani usaha percetakan, dengan didukung peralatan yang sederhana yaitu dari batu (steendrukkerij) dengan kapasitas cetak 300-500 lembar per hari disitu beliau juga menerbitkan buku kecil-tipis tentang agama Islam. Beliau juga merupakan ketua Muhammadiyah di Purbalingga saat Muhammadiyah Purbalingga berdiri di tahun 1920.

KH. Abu Dardiri merupakan Konsul Pimpinan Muhammadiyah Daerah Banyumas, sejak tahun 1930 ketika beliau masih muda, sampai tahun 1963 dimasa usia lanjutnya. Dengan lamanya jabatan konsul yang beliau jabat beliau digelari “Konsul Abadi” PP Muhammadiyah. Sebelum menjabat sebagai konsul Muhammadiyah KH. Abu Dardiri menjabat sebagai ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Purbalingga.

Pada zaman penjajahan oleh Jepang, KH. Abu Dardiri menjadi Sjumokatyo (Kepala Jawatan Agama) Karesidenan Banyumas. Dalam jabatannya ketika itu, beliau mengusulkan kepada Pemerintah Jepang, agar di Sekolah-sekolah Rakyat disediakan guru-guru agama untuk memberi pelajaran Agama Islam. Usul itu dikabulkan hingga pada akhirnya semua Sekolah Rakyat di daerah Banyumas diberi pelajaran Agama Islam. Kemudian, menyusul Sekolah Rakyat di daerah-daerah Karesidenan Kediri dan Pekalongan siswa-siswanya diberi pelajaran Agama Islam. Kiprah KH. Abu Dardiri ini sangat menentukan dalam proses memperjuangkan usul pembentukan Kemenag.

Pengusul Pembentukan Kementrian Agama

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, KH. Abu Dardiri menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Banyumas dan mewakili KNI Banyumas dalam sidang KNI seluruh Jawa.  Ketika KNI Banyumas bersidang pada awal bulan November 1945, beliau mengusulkan agar kementrian agama dibentuk secara terpisah dan tidak digabungkan dengan kementrian pengajaran.

KH. Abu Dardiri dan KH. Saleh Su’aidy memperjuangkan usul pembentukan Kementerian Agama dalam sidang pleno KNIP di Jakarta. Saat berangkat ke Ibu Kota, KH. Abu Dardiri dan KH. Saleh Su’aidy juga ditemani oleh Sukoso Wirjosaputro, yang juga merupakan anggota KNI Banyumas. Melalui ketiga tokoh itulah, usul pendirian Kemenag dari KNI daerah Banyumas disuarakan.

Pada saat diadakan sidang KNI seluruh Jawa, dengan Pemerintah Pusat di Jakarta, 24-28 November 1945, KH. Abu Dardiri mengemukakan agar urusan agama jangan dimasukkan dalam Kementerian Pengajaran. Sidang inilah merupakan sebagai titik mula lahirnya Kementerian Agama (Kemenag) RI. KH. Abu Dardiri mengusulkan supaya dibentuk Kementerian Agama yang khusus.

Usulan itu diterima Pada 3 Januari 1946, Presiden Sukarno akhirnya mengeluarkan surat keputusan untuk membentuk Kemenag RI. Berdirinya institusi ini ditetapkan melalui surat Ketetapan Pemerintah Nomor: 1/SD/1946 di Yogyakarta. Menteri agama pertama saat itu adalah Prof. HM Rasyidi, yang juga salah satu tokoh Muhammadiyah.

KH. Abu Dardiri juga menjabat sebagai penghulu naib atau kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Banyumas. Pada bulan November 1956, beliau berhenti dari jabatannya sebagai Kepala KUA Banyumas dengan hak pensiun. KH. Abu Dardiri wafat pada 1 Agustus 1967 di usia 72 tahun. Beliau meninggalkan 2 orang isteri dan 5 orang anak.

Sejarah Berdirinya Muhammadiyah di Purbalingga

Persebaran Muhammadiyah ke berbagai penjuru Nusantara dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota. Gagasan KH. Ahmad Dahlan ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Kiyai Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Nusantara. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Kabupaten Purbalingga merupakan salahsatu kabupaten di Jawa Tengah yang sudah terjangkau dakwah Muhammadiyah. Masyarakat Muslim Purbalingga pertama kali mengenal Muhammadiyah yaitu ketika Kiyai Khotib yang diutus oleh Kiyai Abu ‘Amar (Penghulu Landraad) untuk ke Yogyakarta guna mempelajari ajaran KH. Ahmad Dahlan sebelum tahun 1920 dan diperkirakan Muhammadiyah sudah masuk dan dikenal oleh masyarakat Muslim Purbalingga sekitar tahun 1918 yang dimulai lewat pengajian di desa-desa.

Sepulang Kiyai Khotib dari Yogyakarta, Kyai Khotib dan Kyai Abu ‘Amar kemudian mengadakan pengajian-pengajian yang disebut dengan “Mambangil Mambahis”. Pada tahun 1920 Kyai Haji Ahmad Dahlan berkunjung ke Purbalingga. Kemudian setelah para tokoh mengikuti pengajian mereka mengembangkan ilmunya dengan mengadakan pengajian di desa masing-masing. Mereka pun di desanya memberi nama kelompok pengajiannya dengan nama yang sama yaitu “Mambangil Mambahis”. Dari situlah kemudian berkembang, mendirikan suatu organisasi yang disebut Muhammadiyah, sementara mereka di desanya masing-masing mendirikan Ranting Muhammadiyah. Tepatnya pada tanggal 30 Juni 1922 resmi berdiri Muhammdiyah cabang Purbalingga. Secara De Facto periode pertama dengan KH. Abu Dardiri sebagai ketua dan KH. Sya’roni sebagai wakilnya. Muhammdiyah   Cabang   Purbalingga   resmi   berdiri  dengan  surat  ketetapan  dari  Hoof  De  Bestuur  Muhammdiyah  Yogyakarta No.5  tanggal 1 Januari 1923. Pada perkembangannya Muhammdiyah Cabang Purbalingga selanjutnya dimotivasi oleh Kyai Haji Djawari Hasyim dan Kyai Haji Syarbini.

Pusat Muhammadiyah Purbalingga awalnya berada di kompleks Masjid At-Taqwa, Kelurahan Purbalingga Wetan (Depan Kantor Kejaksaan Negeri) sebelum berpindah ke “Balai Muslimin” yang saat ini berganti nama menjadi Pendopo KH Ahmad Dahlan (Sekarang kompleks SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga). Setelah pindah dengan adanya kantor pusat yang baru menjadi ghirah baru para kader Muhammadiyah untuk memajukan syiar Islam di Purbalingga. Kantor pusat baru ini awalnya gedung yang dipinjam partai Masyumi yang kemudian dibeli oleh Muhammadiyah, KH. Abu Dardiri merupakan donatur yang melunasi pembelian gedung dan tanah tersebut.

Editor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: AgamaIndonesiaIslamMuhammadiyahPeradaban
Previous Post

Gadis Lucu di Paru-Paru Bumi, Aku Merindukanmu.

Next Post

Dinamika Budaya Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Bimba Valid Fathony

Bimba Valid Fathony

Next Post
Dinamika Budaya Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Dinamika Budaya Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.