Oleh : Naufal Febrian
Ada jeda panjang yang tak pernah kuundang, tapi selalu datang ketika namamu terlintas. Seperti embusan angin dari hutan paru-paru bumi yang kau cintai kerinduan itu merayap pelan, mengisi celah-celah yang coba kupenuhi dengan kesibukan dan alasan-alasan yang tak pernah benar-benar bekerja.
Gadis lucu yang tawanya selalu pecah tanpa izin, aku merindukanmu dengan cara yang sederhana tapi menyesakkan. Kadang rasanya seperti menarik napas terlalu dalam di tengah senyap, berharap ada aroma familiar darimu aroma tanah basah setelah hujan, aroma keringat lelah yang jujur, aroma hidup yang tak pernah kau sembunyikan.
Aku merindukan caramu bercerita sambil memainkan ujung rambutmu; caramu mengernyitkan dahi ketika marah, tapi tetap terlihat lucu; caramu memandang langit seolah ada sesuatu yang hanya kamu yang bisa lihat. Dan aku merindukan diriku ketika bersamamu versi yang lebih ringan, lebih hidup, lebih berani.
Dunia terus bergerak, tapi hatiku masih tertinggal di kota yang kurindukan berpijaknya. Di antara daun-daun yang jatuh dan akar-akar yang mencengkeram tanah, ada kenangan kita yang menolak layu.
Gadis lucu di paru-paru bumi, jika kerinduan adalah napas, maka mungkin aku sudah kehabisan udara. Sebab sejak perpisahan beberapa waktu lalu, bernapas saja terasa seperti mengulang-ulang kehilangan yang sama.