Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ketika FYP Berisik, Bagaimana Menemukan Makna Al-Qur’an di Dunia Serba Scroll??

Hilya Kamila Salsabila by Hilya Kamila Salsabila
Oktober 17, 2025
in Esai, Narasi
0
Ketika FYP Berisik, Bagaimana Menemukan Makna Al-Qur’an di Dunia Serba Scroll??
21
SHARES
123
VIEWS

Oleh: Hilya Kamila Salsabila

Kini, generasi muda hidup dalam pertarungan antara algoritma dan ayat. Di satu sisi, layar ponsel terus memanggil dengan konten instan dan menggoda, FYP yang “berisik”. Dimana FYP di TikTok, Reels, dan YouTube Shorts berlomba merebut perhatian. Di sisi lain, Al-Qur’an menuntut ketenangan hati agar makna ayat bisa diresapi. Dalam dunia penuh scroll, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana cara Gen Z menemukan makna Al-Qur’an meskipun dunia digital terus mendikte cara kita membaca dan berpikir?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kita tidak bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an hanya sebatas membaca, tetapi juga perlu mendengarkan, menghayati, menafsirkan, dan menyalakan maknanya dalam kehidupan, bahkan di tengah dunia yang serba cepat, serba scroll dan penuh gulir layar. Sekaligus, membuka ruang untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran Al-Qur’an agar tetap relevan dengan ritme generasi digital.

Fenomena FYP (For You Page) menjadikan konten singkat sebagai gaya hidup cepat, instan, dan adiktif (kecanduan). Gen Z bisa menghabiskan waktu berjam-jam menggulir video berdurasi 15–30 detik tanpa sadar. Di era digital ini, algoritma seperti For You Page (FYP) di TikTok dapat membentuk perilaku dan rasa ingin selalu terhubung, bahkan menimbulkan Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan remaja. Fenomena ini menjadi cermin betapa kuatnya arus tren dan tekanan sosial digital (Polone, Kamuli, and Nggilu, 2025). Ketika itu terjadi, ruang renungan (tadabbur) nyaris tak tersisa. Masalahnya: Al-Qur’an bukan konten hiburan cepat. Ia menuntut ketenangan jiwa dan konsentrasi hati. Jika kita terus-menerus “diguyur” stimulasi digital, bagaimana mungkin kita menyerap pesan ayat dengan kewarasan batin? Fenomena ini relevan sekali dalam ranah pengembangan materi pembelajaran Al-Qur’an. Karena jika materi dan metode kita tetap “tradisional klasik” tanpa adaptasi, bisa jadi makna Qur’ani akan tersisih oleh arus konten cepat yang mendominasi wawasan generasi baru.

Dari Scroll ke Tadabbur Mikro

Alih-alih menentang dunia digital, kita bisa menempuh jalan adaptif, menghadirkan konsep tadabbur mikro. Artinya, ayat-ayat Al-Qur’an disajikan dalam potongan kecil, tapi diiringi ajakan untuk berhenti sejenak dan merenung. Misalnya: 1.) Menyimak satu ayat pendek selama 30 detik, lalu bertanya dalam hati: apa pesan yang ingin Allah sampaikan hari ini? 2.) Membagikan video reflektif satu menit, bukan sekadar potongan motivasi kosong. 3.) Mendengarkan murottal sambil beraktivitas, dengan tetap menjaga fokus penuh saat mendengar. Dengan cara ini, kita tidak menjauh dari teknologi, tapi menjinakkannya agar menjadi ruang zikir dan renung, bukan sekadar hiburan cepat.

Tarjih Tafsir di Era Digital

Dalam karya Al-Tarjih fi al-Tafsir: antara Makna Al-Qur’an dan Tindakan Manusia dijelaskan bahwa tafsir tidak boleh berhenti pada makna, tetapi harus menyentuh tindakan manusia (Nurrohim, 2019). Prinsip ini relevan untuk dunia digital: tafsir bukan hanya soal teks, tapi juga konteks.

Dalam riset lain, Tahsin Learning Strategy and Method to Improve the Al-Qur’an Reading Quality, ditemukan bahwa kombinasi metode audio, visual, dan evaluatif mampu meningkatkan kualitas pembelajaran Qur’an (Ismail et al. 2023). Ini menandakan bahwa pendekatan multimedial tidak hanya memikat perhatian generasi digital, tetapi juga efektif dalam memperdalam pemahaman.

Selain itu, dalam penelitian “Improving Learning Outcomes of Tahsin Al-Qur’an using MyQuran-Mobile Application” di Surakarta, menunjukkan bahwa aplikasi mobile (MyQuran) dapat meningkatkan pemahaman tajwid secara signifikan ketika digabung dengan materi interaktif (Salsabilla dan Nurrohim 2024). Dalam konteks dunia scroll ini, aplikasi seperti itu bisa menjadi jembatan agar anak muda bisa “bertemu ayat” dalam bentuk digital yang menarik dan relevan.

Menguatkan Literasi Qur’ani: Antara Platform dan Partisipasi

Dalam proyek literasi Qur’an di Masjid Al-Hidayah Joyotakan, Surakarta, diterapkan metode interaktif-partisipatif yang tercipta dari 2 arah, yakni seorang guru dan muridnya, dan terbukti mampu meningkatkan motivasi anak-anak dalam belajar Al-Qur’an (Muhammad Rofiq Al Firdaus et al. 2025). Pendekatan ini menjadi relevan di era serba cepat karena mendorong peserta untuk tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif mencerna makna. Sementara itu, integrasi pembelajaran Al-Qur’an dengan platform digital di sekolah-sekolah Islam juga menekankan adanya pemanfaatan teknologi yang bukan sekadar untuk administrasi, melainkan sebagai sarana menghidupkan literasi Qur’ani.

Lebih lanjut, sebuah kajian menunjukkan bahwa perkembangan digital telah memperluas akses terhadap tafsir sekaligus menghadirkan tantangan terkait validitas konten serta perlunya pembaruan metode analisis dalam ranah digital. Hal ini menegaskan bahwa tafsir digital bukan hanya soal medium, tetapi juga tentang bagaimana materi keislaman diolah agar tetap autentik dan relevan (Priatin et al. 2025). Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa materi pembelajaran Al-Qur’an yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik terbukti lebih layak dan efektif setelah melalui proses validasi ahli (Suwarno et al. 2023).  Temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan materi Qur’ani yang kontekstual dan sesuai dengan karakter pembelajar. Sementara itu, temuan terbaru menunjukkan bahwa literasi digital kini menjadi kunci dalam membantu peserta didik tidak hanya memahami kandungan Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga bersikap kritis terhadap konten keagamaan yang beredar di dunia maya (Ismi Rohimatun Ni’mah and Bashori, 2025).

Dengan seluruh kajian tersebut, arah baru pembelajaran Al-Qur’an bagi Gen Z menjadi jelas, bukan meninggalkan tradisi, tetapi menemukan kembali makna melalui media yang mereka gunakan setiap hari. Scroll bisa menjadi ladang zikir, dan FYP bisa menjadi ruang tadabbur, jika materi Qur’an dikemas dengan kreatif dan kontekstual.

Berikut beberapa cara praktis agar makna Al-Qur’an tetap bisa ditemukan di dunia scroll:

  1. Tadabbur mikro digital : artinya, menyajikan satu ayat pendek dalam format konten digital (teks + audio + pertanyaan reflektif) yang mudah diakses dalam waktu singkat. Misalnya, video 60 detik yang menyajikan ayat dan renungan singkat.
  2. Kombinasi media audio & visual : peserta bisa mendengarkan bacaan murottal sambil melihat teks berjalan atau visualisasi yang menjelaskan makna ayat. Format ini memadukan gaya digital dengan kedalaman spiritual.
  3. Aplikasi interaktif Qur’an : aplikasi dengan fitur latihan tajwid, evaluasi otomatis, atau murottal interaktif bisa membuat pembelajaran terasa seperti “scroll yang berkah”, bukan sekadar konten hiburan.
  4. Forum diskusi mini dalam platform sosial : setelah membaca ayat, peserta dapat berdiskusi singkat di kolom komentar atau grup tertutup tentang makna yang mereka tangkap. Dengan demikian, scroll tidak hanya konsumsi pasif tetapi juga refleksi kolektif.
  5. Keterpaduan offline-online : materi digital menjadi pembuka, kemudian dilanjutkan dengan sesi offline (kelompok tadabbur, kajian ayat) agar makna tidak sekadar dipahami di permukaan.

Dengan strategi-strategi itu, generasi Z tak lagi sekadar terseret arus keseruan FYP. Mereka justru bisa mengubah dunia scroll menjadi ruang perjumpaan dengan makna , tempat ayat-ayat bukan hanya lewat di layar, tapi hadir, menyapa, dan menggugah hati untuk bergerak.

Oleh: Astyra Gita kinanti

Terkait

Tags: AgamaalquranIslampendidikanPeradaban
Previous Post

Pengenalan Asmaul Husna Melalui Buku Bergambar sebagai Upaya Membangun Dasar Keimanan Anak

Next Post

Game-Based Learning Tahsin: Solusi Inovatif atau Sekadar Gimmick?

Hilya Kamila Salsabila

Hilya Kamila Salsabila

Next Post
Game-Based Learning Tahsin: Solusi Inovatif atau Sekadar Gimmick?

Game-Based Learning Tahsin: Solusi Inovatif atau Sekadar Gimmick?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.