Menurut Yudi Latief, “Problem Pancasila adalah terlalu surplus ucapan dan terlalu minus tindakan. Dan inilah yang menimbulkan keraguan banyak orang akan kesaktian nilai-nilai pancasila dalam kenyataan hidup sehari-hari”.
Masyarakat kita mengalami krisis keteladanan. Stockholder yang rakus dan serakah melakukan tindakan kriminal berupa korupsi telah menjadi budaya lokal birokrasi.
Negara demokrasi yang salah urus adalah yang paling mudah dikendalikan korporasi yang punya uang banyak. Wakil rakyat dan pejabat negara mudah saja disortir membuat undang-undang yang menguntungkan korporasi dan menyengsarakan rakyat.
Kenapa Banyak Masalah?
Di sisi lain, kita mempertanyakan ulang sebetulnya apa yang dimaksudkan orang kebanggaan keluarga di mata pasangan atau anak-anak dan masyarakat? Benarkah yang memiliki uang banyak, kaya, artinya itu diukur dari materi.
Akhir-akhir ini terungkap banyak kasus mengenai korupsi, apa mereka membanggakan masyarakat, keluarga dan pasangan? Pastinya yang didambakan oleh semua orang ialah reputasi terpuji dan kredibilitas. Kita menyadari bahwa sesunguhnya penguasa harus tetap arif, tanpa memahami amanah adalah anugerah maka kekuasaan bisa menjadi bencana.
Baca Juga: Salafi dan Pemegang Otoritas Sertifikasi Bid’ah dan Sunah
Menurut Thomas Aquinas kekuasaan manusia itu tak pernah mutlak dan selalu terbatas. Karena bagi Thomas Aquinas semua manusia itu ciptaan Allah maka dilarang bagi manusia untuk merasa lebih unggul. Tugas penguasa tak lain adalah melindungi kepentingan rakyat dan menjamin keamanan bagi rakyatnya.
Lihat Nabi Sulaiman
Kisah Nabi Sulaiman dalam ajaran Islam memberikan refleksi mengenai hal ini, modal utama dia menjadi pemimpin ialah pengetahuan dan sikap rendah hati. Sikap itu terwujud dengan perangai Sulaiman yang suka bersyukur. Kekuasaan yang megah tak membuat Sulaiman pongah. Padahal kekuasaan dan pengetahuan berhimpun pada dirinya.
Kebijakan Sulaiman tetap menjadi kenangan yang mengagumkan. Sosoknya hadir untuk selamanya. Kekuasaan unggul dan hebat itu ada batasnya. Batas itu namanya kematian. Batas yang akhirnya dilalui oleh raja sekalipun. Sulaiman kini sudah bertemu dengan ajal. Tak seorangpun mengetahui maut menjemputnya.
Tongkat kekuasaan yang digerogoti rayap itu pertanda sederhana. Rayap itu membawa berita kematian. Lagi-lagi Sulaiman diingatkan oleh binantang kecil, hina dan tak dihiraukan.
Spirit Pancasila Hadir dalam Kehidupan
Sejarah sebagai sarana penghayatan kehidupan, menjadi point penting untuk menangkap nilai secara emotif. Kita melihat bagaimana founding father bangsa memberikan suri teladan yang baik bagi kehidupan. Ghirah ini harus tetap ditanam, dipupuk dan dipelihara. Tan Malaka , Hatta, Roesman Anwar, Yoseph Alomang telah berusaha demi terwujudnya pembangunan berkelanjutan untuk keadilan dan perdamaian.
Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa, kita memiliki semangat Ki Hajar Dewantara, RA Kartini, Dewi Sartika, Roeslan Koedoes, dan Maria Walanda Maramis. HOS Cokroaminito, Syarifuddin Prawira Negara, dan Natsir telah memberikan suri teladan berbuat baik dengan amanah, jujur dan bersih.
****
Dari sini baiknya kita belajar “moral is not taught but caught” Nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan tidak diajarkan (taught) secara kognitif lewat hafalan dan pilihan ganda melainkan ditangkap (caught) lewat penghayatan emotif. Semangat-semangat juang ini harus tetap setia dipegang.
Baca Juga: Abed Al-Jabiri: Kritik Nalar Islam-Arab
Hal-hal yang bersifat duniawi tidak membuat kita gentar mempertahankan idealisme. Mereka meninggalkan nama sedikit harta, inilah maksud dari kebanggan pasangan, keluarga dan masyarakat. Reputasi terpuji dan kredibilitas dengan menjadikan pancasila hadir dalam kehidupan.
Terakhir Saya mengutip puisi Suwijo Tejo, “Marilah tak hafal Pancasila Sebagaimana banyak orang tak hafal rumus kimia oksigen. Tetapi setiap saat kita menghirup oksigen”.
Penulis adalah Pengelola Tambo Pustaka dan Taman Baca Rumah Ilmu
Sumber Ilustrasi: suara.com
Editor: Dartim I.R.