Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kedudukan Perempuan dalam Islam

Arif Saifudin Yudistira by Arif Saifudin Yudistira
April 23, 2020
in Ulûm ad-Dîn
0
Muslimah Tangguh, Ekonomi Kuat
32
SHARES
188
VIEWS

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Perbincangan soal gender, dan feminisme selalu menarik. Apalagi bila hal ini dikaitkan dengan agama. Lalu benarkah selama ini agama (Islam) adalah agama yang menindas kaum hawa?. Islam hadir di masa peradaban sedang di titik nadir. Orang bisa dengan gampang membunuh, memperkosa, hingga saling menindas satu sama lain. Penindasan itu tidak hanya muncul dalam sistem perbudakan, tetapi juga tatanan sosial kemasyarakatan yang rusak. Kepemimpinan hampir dinilai tidak ada maknanya, kecuali hanya untuk klan atau kelompok yang dominan semata.
Artinya, hidup ini seperti diatur oleh kelompok yang menang. Ketika kelompok yang berkuasa ini menguasai, maka di sanalah dimulai sistem hidup yang bobrok. Kekejaman, perbudakan, pemerasan, dan aneka kejahatan disahkan oleh kelompok yang menang, sampai ditemukan kelompok yang menang berikutnya. Pada masa itu, kaum perempuan dinilai atau dianggap tidak berguna. Maka di masa arab Jahiliyah di masa itu, ketika ada orang yang memiliki anak perempuan mereka sangat malu, orangtuanya biasanya membakar atau mengubur hidup-hidup.

Perempuan Adalah Tiang Negara

Tradisi menyingkirkan anak perempuan ini sebenarnya muncul pada masa Fir’aun, di masa Musa. Dan seperti berlanjut hingga Islam datang. Kita tentu sangat amat familier  dengan Khadijah, ibu kaum muslim. Julukan ini bukan sekadar julukan, tetapi memang Tuhan sendiri yang mengangkat dan memilihkan Khadijah sebagai sebuah perlambang cinta kasih, kesetiaan, kebaktian, keluhuran, kecintaan dan juga keikhlasan, serta welas asih.
Khadijah pula yang kelak menempati tempat paling terdalam di hati Nabi. Untuk menghibur Nabi yang sedang kehilangan Khadijah, Tuhan langsung yang menghibur Nabi. Betapa tiada berdayanya Nabi (lelaki), saat Khadijah (perempuan) yang dikasihinya tiada. Ini bukan semata karena Nabi lemah, tetapi memang perempuan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Soekarno mengutip hadis di buku Sarinah (1963) dengan mengatakan “Perempuan itu tiang negeri, manakala baik perempuan, baik negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri!”.
Bukan hanya mendudukkan perempuan sebagai sosok yang kedua sebagaimana Simone De Behauvoir, tetapi meletakkan sebagai yang setara, sejajar. Apa yang telah diusahakan oleh Muhammad beserta Islam, setara dengan yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi. “Isteri bukanlah budak belian suami, melainkan teman. Partner yang setara dalam suka dan duka—yang sama bebasnya dengan suami untuk menentukan jalannya sendiri”.

Wanita Sebagai Manifestasi Tuhan

Ilmuwan kenamaan Annemarie Schimmel bahkan menempatkan bab sendiri dalam bukunya Jiwaku adalah Wanita (1998) dengan judul bab yang sangat provokatif : Wanita sebagai Manifestasi Tuhan. Ia mengutip Filsuf Ibnu Arabi. “Tuhan yang terwujud dalam bentuk wanita adalah agen dalam arti menjalankan kekuasaan penuh atas jiwa pria dan menyebabkan pria menjadi patuh dan berserah diri kepada-Nya.”
Dalam riwayat lain, yang amat memukau adalah saat sahabat Nabi datang kepadanya dan bertanya siapa sebenarnya sosok yang mesti saya hormati pertama kali wahai Nabi? Nabi pun menjawab “ibu” sebanyak tiga kali, baru ayahmu. Hadist ini bukan hanya menerangkan secara tersirat kedudukan perempuan. Tetapi juga memandang bagaimana perempuan dianggap sebagai pintu masuk dunia.
Baca Juga: Nucrholish Madjid: Martir Pembaharuan Islam
Melalui rahim secara fisiologi, digambarkan bahwa tidak mungkin ada lelaki setelah adam, yang muncul tanpa melalui rahim. Rahim digambarkan sebagai yang penuh kasih, memberi tiada bertepi. Melahirkan hayat dan penuh dengan kepasrahan dengan segala yang baik seperti bumi.
Penggambaran mengenai betapa perempuan adalah makhluk yang berkedudukan tinggi setelah Islam datang adalah saat surga dimetaforakan terletak di bawah kaki ibu. Bahkan kemarahan Tuhan, adalah kemarahan Ibu. Ali Syariati pada bukunya Fatimah (1985) mengutip perkataan Nabi.
“Wanita terbaik di dunia ada empat: Maryam, Assiyah (Istri Firaun yang membesarkan Musa), Khadijah dan Fatimah”. Ditambah lagi saat Nabi sendiri dalam hadistnya yang sering dikutip mengatakan “Allah telah membuatku menyayangi dari duniamu kaum wanita dan wewangian. Dan kebahagiaan bagi mataku adalah ketika shalat.”

Stereotip Para Orientalis

Betapa jahatnya penggambaran wanita di dekat Nabi yang digambarkan oleh para orientalis. Perempuan digambarkan sebagai sosok pemuas seksual Nabi semata. Datangnya Islam justru mendudukkan wanita sebagai sosok yang setara, bahkan diangkat lebih tinggi daripada kaum lelaki. Kaum wanita justru diberi kedudukan yang belum pernah didapat sebelumnya. Pembatasan pernikahan dan rumitnya pernikahan ganda (poligami) yang diberikan Islam telah mengakibatkan lelaki harus berfikir berulangkali untuk melakukan perkawinan ganda.
Aisyah istri nabi sendiri, digambarkan sebagai sosok panglima perang yang tangguh. Ia bukanlah sosok yang hanya diam dan istri nabi semata. Kedudukannya menempatkan ia sebagai rujukan yang sah dari kisah, pedoman, dan teladan dari kehidupan Nabi. Kecerdasannya yang luar biasa telah mewarisi satu pedoman paling absah dalam kehidupan Islam berupa: Sunnah atau Al-Hadist. Tanpa kehadiran perempuan ini, barangkali kita seperti seorang pejalan kaki tanpa cahaya.
Baca Juga: Al-Qur’an Yang Bilang Poligami Hanya Untuk Nabi
Ini menandaskan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam amat sangat dijunjung tinggi. Yang menjadi soal adalah saat kita salah memahami apalagi menafsirkan hadist-hadist misoginis yang menempatkan perempuan ke dalam pinggir sejarah. Akibatnya, kita menjadi salah memahami bagaimana Islam mendudukkan perempuan.

Terkait

Tags: IslamKedudukanPerempuan
Previous Post

Nucrholish Madjid: Martir Pembaharuan Islam

Next Post

Politik Vaksin: Kekuasaan dan Uang

Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Kepala Sekolah Smk CITRA MEDIKA (2018-2019), Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020), pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Next Post
Ini cerita banyak menimbulkan kegeraman—kisah tentang yang kuat melahap yang lemah bukan fiksi. Politik kekuasaan dan bisnis ternyata satu kesatuan

Politik Vaksin: Kekuasaan dan Uang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.