Beberapa ribu tahun yang lalu, para filosof mulai meneliti jawaban atas pertanyaan mengenai konsep kebenaran dari zaman filsafat kuno, klasik, pertengahan, kontemporer bahkan sampai modern.
Akan tetapi, tidak ada satu definisi pun tentang kebenaran tunggal yang dapat di terima secara mutlak oleh semua orang. Hal ini karena pandangan setiap orang terhadap kebenaran di pengaruhi oleh persepsi masing-masing.
Namun, dalam tulisan ini, topik yang akan kita bahas bukanlah tentang konsep kebenaran ataupun mencari arti dari kebenaran tersebut. Melainkan, kita akan melihat bagaimana salah satu jenis perspektif kebenaran tersebut berkembang di masyarakat.
Jadi salah satu perspektif kebenaran yang akan kita jadikan bahan analisi adalah konsep kebenaran menurut Muzafer Sherif, ia merupakan seorang tokoh psikolog sosial amerika-turki yang kita kenal dengan kontribusinya terhadap pemahaman tentang perbedaan antara persepsi individu dan persepsi kelompok.
Menurutnya, kebenaran bukanlah suatu hal yang pasti dan tetap, melainkan bergantung pada bagaimana setiap orang mempersepsikan dan menafsirkan informasi yang kita terima.
Kebenaran ini juga di pengaruhi oleh pengalaman, nilai, dan norma sosial yang berbeda-beda. Selain itu, kebenaran tidak dapat kita temukan secara mutlak dan selalu bergantung pada situasi dan konteks yang ada.
Dalam kelompok, kebenaran di tentukan oleh pandangan yang kita anggap paling banyak di terima oleh anggota kelompok, namun pandangan ini tidak selalu mencerminkan kebenaran yang objektif karena bisa saja terjadi kesalahan prsepsi dan penilaian kelompok.
| Percobaan Konformitas Sherif (1936)
Sebelumnya melangkah lebih lanjut, mari simak hasil penelitian Sherif berikut:
Pada tahun 1936 Muzafer Sherif telah melakukan percobaan untuk melihat fenomena “benar-salah” yang ada dalam sosial masyarakat. Penelitian ini kita laksanakan secara dua tahap.
Dalam tahap pertama, setiap orang akan masuk ke dalam ruangan yang gelap dengan satu lampu yang redup sebagai sumber utama cahaya. Setiap orang masuk sendirian. Setelah keluar dari ruangan, mereka akan mereka tanya apakah lampu itu bergerak atau tidak? Kemudian mayoritas jawaban yang mereka peroleh menyatakan bahwa lampu tersebut bergerak.
Pada tahap kedua, semua orang masuk bersama-sama ke dalam ruangan yang sama dengan kondisi yang sama seperti tes pada tahap pertama. Setelah keluar dari ruangan, mereka semua ditanya pertanyaan yang sama. Hasilnya, semua responden mengatakan bahwa lampu dalam ruangan itu tidak bergerak.
| Kebenaran Komunal
Dalam eksperimen Sherif tersebut, setiap individu mungkin dapat mengubah sikap dan pilihannya untuk sesuai dengan norma yang ada di dalam masyarakat. Mereka tidak lagi mempertimbangkan kebenaran atau ketidakbenaran kondisi lampu secara objektif berdasarkan pandangan diri sendiri di dalam ruangan. Mereka lebih memilih untuk mengikuti kesepakatan komunal yang secara tidak langsung di setujui bersama.
Hal ini adalah fenomena yang umum terjadi dalam masyarakat. Sebuah konsep, tindakan, atau sistem nilai yang akan di anggap benar jika di terima oleh masyarakat (social acceptance).
“Yang penting ramai-ramai.”
Akan tetapi bagaimana jika keputusan bersama tersebut malah bertentangan dengan moralitas?
| Komunal dan Kebinalan
Mari kita coba membawa pertanyaan di atas ke arah dunia maya. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada, seseorang dapat berinteraksi satu sama lain hanya dengan menggunakan perangkat elektronik.
Ruang digital yang tak terbatas, kecepatan transmisi data yang tinggi, anonimitas orang orang, dan perbedaan etika dunia nyata yang tidak sepenuhnya dapat diterapkan di dunia maya, sehingga hal ini membuat kabut tentang perspektif kebenaran yang berbeda menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, kebenaran komunal dapat lebih mudah diterima di dunia maya.
Jika kita perhatikan masalah hoax di dunia maya. Secara objektif, hoax adalah berita yang belum tentu benar kebenarannya. Namun, sering kali hoaks di percayai karena berita hoax tersebut menyebar secara massal atau di bagikan oleh para influencer.
Menurut saya, kombinasi dari komunal dan kebinalan tersebut sangatlah mengkhawatirkan. Banyak kasus kerusuhan antar kelompok yang di sebabkan oleh desas desus atau informasi palsu yang beredar. Hal yang sama juga terjadi di dunia maya, di mana kita dapat melihat betapa mengerikannya netizen Indonesia yang begitu ditakuti karena melakukan aksinya secara beramai ramai.
Kembali lagi, sepertinya sudah insting makhluk hidup yang tidak takut apabila melawan bersama-sama. “Benar atau salah yang penting ramai-ramai.”
Penulis : Ahmad Syarif Hidayatullah
Editor : Akbar S