Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kearifan Nusantara Sebagai Penyeimbang Eksistensi Manusia Di Era Disrupsi Digital

AdminKS by AdminKS
Juni 19, 2026
in Esai, Narasi
0
Kearifan Nusantara Sebagai Penyeimbang Eksistensi Manusia Di Era Disrupsi Digital
13
SHARES
74
VIEWS

Oleh: Agung Rezki

Dalam setiap fase peradaban, manusia selalu dihadapkan pada ketegangan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini bukan fenomena yang baru, ketika mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15, masyarakat Eropa dilanda kecemasan akan potensi peralihan informasi dan lunturnya otoritas keagamaan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ketika kereta api yang beroperasi pada abad ke-19, sebagian institusi keagamaan di Barat menolaknya sebagai “kendaraan setan” karena percikan api dan asap yang menyerupai gambaran neraka dalam imajinasi spiritual masyarakat kala itu. Kemudian, televisi menjadi tontonan larangan bagi generasi terdahulu, sebagaimana YouTube dan platform digital kini menjadi sumber kekhawatiran bagi generasi orang tua yang mempengaruhi anak-anaknya.

Inilah pemikiran inti yang disampaikan oleh Fakhruddin Faiz dalam ceramahnya pada NUSAIFEST KPI UMY 2026, bahwa fenomena penolakan terhadap teknologi memiliki sifat yang sama dan tertanam dalam sejarah, namun yang berubah adalah tingkat kedalaman pengaruhnya terhadap psikologi, sosial, dan budaya manusia.

Essai ini menganalisis ancaman nyata era digital terhadap kewarasan individu dan keutuhan sosial, sekaligus memberikan pandangan kearifan lokal Nusantara sebagai instrumen penyeimbang. Fakhruddin Faiz mengidentifikasi setidaknya beberapa permasalahan fundamental yang lahir dari dominasi ekosistem digital dalam kehidupan manusia modern. Patologi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan membentuk siklus yang mengikis kapasitas moral di dalam diri manusia.

Dominasi Imajinasi Bukan Realitas

Ekosistem digital yang bersifat masif menciptakan kondisi di mana manusia lebih akrab dengan imajinasi ketimbang realitas itu sendiri. Individu membangun penilaian moral, sosial, dan politik berdasarkan informasi yang ditampilkan oleh layar gawai HP, bukan berdasarkan pengalaman langsung/direct experience dengan lingkungan sosialnya.

Dalam perspektif filsafat Barat, Jean Baudrillard menyebutnya sebagai era simulakra, yakni kondisi di mana tanda-tanda realitas menggantikan realitas itu sendiri hingga batas antara keduanya menjadi kabur atau abu-abu. Dengan terjebak pada kondisi tersebut, akhirnya matilah  kepekaan sosial di dalam lingkungan masyarakat. Seseorang yang sehari-hari terpapar konten kemiskinan, bencana, atau ketidakadilan melalui media sosial justru mengalami kehilangan kepekaan, bukan empati yang menguat, sehingga melemahkan dorongan untuk bertindak nyata di tengah masyarakat.

Presensi Tanpa Makna/ Presence without Meaning

Dalam konteks akademis, mahasiswa hadir di kelas atau mengisi absensi sebagai formalitas administratif, bukan sebagai ekspresi niat untuk belajar atau Thalabul Ilmi. Komentar di media sosial juga diberikan bukan karena pemahaman tentang informasi, melainkan karena dorongan untuk viral dan eksis di media sosial. Inilah yang terjadi di era digital. Banyak orang berlomba-lomba berbuat dan tampil, tetapi tidak memiliki makna kehadiran yang jelas, sehingga kita harus kembali kepada fitrah kita sebagai hamba yang mempersiapkan semuanya.

Keyakinan Menggantikan Pemahaman/ Belief over Understanding

Dalam konteks yang disampaikan Fakhruddin Faiz, kondisi ini menghasilkan individu yang lebih didominasi oleh apa yang ia percayai/ what I believe ketimbang apa yang ia pahami / what I understand. Media sosial bekerja dengan menampilkan penyesuaian yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.

Keadaan tersebut melahirkan filter bubble sebagai sebuah ekosistem informasi yang tertutup di mana pengguna hanya terekspos pada konten yang memperkuat pandangan yang disukainya. Eli Pariser, dalam karyanya The Filter Bubble (2011), memperingatkan kita bersama bahwa fenomena ini menghancurkan kebenaran objektif yang harus dibuktikan dengan data yang jelas dan kuat.

Kecepatan sebagai Substitusi Kualitas/ Speed over Quality

Dunia digital adalah pasar perlombaan yang sangat cepat. Perangkat yang ada dibentuk untuk memfasilitasi konsumsi konten yang cepat, produksi respons yang instan, dan sirkulasi informasi yang viral. Dalam konteks pendidikan, kita menemukan kasus lulus cepat, mengerjakan tugas dengan bantuan AI, dan menyelesaikan tugas tanpa melewati proses belajar yang berkelanjutan. Ini adalah paradoks kemajuan, semakin canggih alat yang dimiliki manusia, semakin rendah toleransinya terhadap manusia lain, termasuk mengabaikan proses.

Viktor Frankl pernah mengingatkan bahwa makna hidup tidak pernah ditemukan dalam kenyamanan, melainkan dalam perjuangan. Ketika budaya digital mengikis perjuangan dari proses belajar, manusia akan sulit menemukan arti hidup yang sejahtera. Manusia hanya akan semakin lalai dengan kecepatan teknologi tersebut.

Kearifan Nusantara sebagai Solusi

Melihat patologi sosial yang terjadi, manusia harus melihat kembali warisan kearifan Nusantara sebagai sumber daya alam yang tepat dalam membangun kewarasan di era digital. Langkah ini bukan hanya untuk kesejahteraan masyarakat, melainkan penjagaan tradisi-tradisi lokal yang mengajarkan kebijaksanaan tentang keseimbangan hidup. Tradisi Nusantara, dalam berbagai manifestasinya, mengajarkan konsep-konsep seperti gotong royong, tepo seliro (empati dan kesadaran akan dampak tindakan terhadap orang lain), serta mawas diri. Nilai-nilai ini secara langsung berseberangan dengan patologi digital yang telah diuraikan sebelumnya.

Gotong royong menantang budaya kehadiran presensi tanpa makna, dengan menegaskan bahwa kehadiran harus diwujudkan dalam kontribusi nyata. Tepo seliro membantah reaktivitas dengan menuntut pertimbangan terhadap dampak perkataan dan tindakan. Mawas diri menantang dominasi keyakinan atas pemahaman dengan mengundang individu untuk secara jujur mempertanyakan asumsi-asumsinya sendiri.

Ceramah Fakhruddin Faiz di NUSAIFEST KPI UMY menyampaikan pesan yang sederhana namun profound, bahwa teknologi bukanlah musuh, tetapi manusia harus tetap menjadi subjek, bukan objek dari perubahan teknologi. Tantangan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada kemampuan kita untuk mempertahankan dimensi-dimensi kemanusiaan, refleksi, empati, kesabaran dalam proses, dan komitmen pada realitas di tengah godaan kenyamanan instan yang ditawarkan dunia digital.

Kearifan Nusantara hadir bukan sebagai penolakan terhadap kemajuan, melainkan sebagai penyeimbang kultural yang membantu manusia tetap berpegang pada nilai-nilai yang melampaui kecepatan dan viralitas. Dalam semangat itulah NUSAIFEST KPI UMY menjadi ruang yang relevan sebagai forum tempat tradisi dan modernitas berdialog, yang dimana generasi muda diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang mahir, tetapi juga manusia yang utuh, kritis, dan berakar.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: Digitalisasi
Previous Post

Kepemimpinan Perempuan: Bakat Terpendam atau Ruang Inklusif yang Tidak Pernah Tersedia?

Next Post

Ketika Agama Menjadi Formalitas Belaka: Lunturnya Nilai-Nilai Keislaman Dalam Lingkungan Pendidikan

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Ketika Agama Menjadi Formalitas Belaka: Lunturnya Nilai-Nilai Keislaman Dalam Lingkungan Pendidikan

Ketika Agama Menjadi Formalitas Belaka: Lunturnya Nilai-Nilai Keislaman Dalam Lingkungan Pendidikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.