Pada hari Jumat, 1 Mei 2020, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu kembali menggelar Pengajian Daring. Pada sesi kali ini, PRM Pondok Labu mengangkat tema “Umat Islam dan Dunia Normal Baru Pasca Covid-19: Apa yang Harus Disiapkan Umat Islam Indonesia”. Pengajian ini menghadirkan 4 pembicara yaitu Dr. Lalu Muhammad Iqbal dari Ankara, Prof. Satomi Ohgata dari Kitakyushu, Jepang, Prof. Bambang Cipro dari Yogyakarta, dan Prof. Didiek J Rachbini dari Depok.
Dr. Lalu Muhammad Iqbal, sebagai pembicara pertama, menyampaikan bahwa apa yang terjadi saat ini memiliki beberapa ciri-ciri. Pertama, tidak ada kepemimpinan global. Bahkan negara-negara dan organisasi-organisasi internasional yang diharapkan dapat memberikan bantuan justru terlihat seperti negara yang membutuhkan bantuan.
Kedua, kerjasamsa internasional yang sebelumnya normal kini tidak lagi berjalan normal. Semua melihat dirinya sendiri dan memikirkan negaranya sendiri. Disini terjadi anomali bahwa peristiwa, tatakrama, dan norma, yang dulu kita anut sekarang tiadak bisa kita pakai lagi.
Menurut Lalu Muhammad Iqbal, nanti dalam satu dua tahun kedepan kita akan menyaksikan teater saling menyalahkan. Negara A menyalahkan negera B, organisasi A menyalahkan organisasi B. Tatanan dunia hari ini sudah gagal menyelesaikan masalah global dengan sistem global.
Ia menceritakan bahwa pandemi kedua di dunia terjadi pada 3000 tahun sebelum Masehi, yang cara penanganannya sama persis dengan saat ini. Meskipun teknologi sekarang sudah maju, namun kita menghadapinya dengan cara yang sama 5000 tahun yang lalu.
Kenapa kita terjebak? Menurut Muhammad Iqbal adalah karena tatanan dunia yang kita jalani, yang basisnya adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa, ini memang dibangun dengan logika dasar bahwa ancaman terbesar umat manusia adalah perang. Jadi, intinya ancaman terbesar umat manusia adalah umat manusia yang lain. Ini adalah sifat bawaan manusia yang timpang dan diskriminatif. Tatanan inilah yang gagal saat ini.
“Kalau kita lihat sebagai seorang muslim, dalam Al-Insyiroh ayat 5-6 yang berbunyi fa inna ma’a al usri yusro, inna ma’a al usri yusro. Ayat ini dua kali ditekankan. Kalau boleh saya terjemahkan, berarti dalam setiap tantangan selalu ada peluang. Pertanyaannya kemudian adalah apa peluang kita?” tanyanya.
Musuh Manusia adalah Perbuatan Jahatnya Sendiri
Pertama, masalah ini menyadarkan kita bahwa ternyata ancaman terbesar umat manusia bukanlah manusia lainnya. Ancaman terbesar umat Islam bukan umat Islam lainnya. Ancaman terbesar manusia adalah akibat perilaku buruk umat manusia lain. Kalau dibaca dalam beberapa ayat, kita dmiinta untuk melihat. fandzuru kaifa kana akibatul mukadzdzibin (maka lihatlah akibat dari para pendusta). fandzuru kaifa kana akibatul mujrimin (maka lihatlah akibat dari para pendosa). fandzuru kaifa kana akibatulladziina min qobl (maka lihatlah akibat dari para pendahulu).
Menurut Muhammad Iqbal, Covid-19 ini, meskipun menyisakan begitu banyak tanda tanya, ada 1 hal yang pasti bahwa covid-19 ini muncul sebagai akibat dari perilaku manusia yang tidak baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam.
Ia mengatakan bahwa dilihat dari perspektif Islam, momentum ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat solidaritas konstruktif. Muhammad Iqbal menyampaikan data bahwa konflik bersenjata yang terjadi di dunia saat ini, lebih dari 50% ada di negara-negara muslim. Dari 47 negara yang paling terbelakang, 22 diataranya ada di dunia Islam. Islam memiliki problem internal yang harus diselesaikan. Dan sumbangan terbesar Islam adalah dengan menyelesaikan masalah covid ini.
Trauma Kemanusiaan Jangka Panjang
Kedua, peluang yang muncul adalah bahwa covid-19 akan menyisakan trauma kemanusiaan jangka pangjang. Sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Iqbal, manusia tidak bisa bersosialisasi, tidak bisa keluar, tidak bisa lebaran, dan lain-lain. Bahkan mereka yang sekarang berusia 10 tahun, duduk di bangku SD, juga turut merasakan hal ini. Mereka ini akan menjadi pemimpin yang masih membawa rekaman trauma kemanusiaan.
Dulu ketika terjadi flu spanyol awal abad 20, tidak ada rekaman apapun mengenai wabah tersebut. Sehingga disebut sebagai forgotten pandemic. Sekarang, hampir setiap kata, kalimat, kebijakan, keputusan selalu terekam. Artinya, hal ini akan menyisakan trauma yang dapat diliahat sampai berabad-abad kemudian.
“Sisi positifnya, pemimpin yang akan dipilih setelah ini adalah pemimpin yang punya keberpihakan terhadap isu kemanusiaan. Kebijakan-kebijakan yang akan dibuat juga akan berorientasi kemanusiaan. Akibatnya, peran negara akan mengalami penurunan, supremasi negara dalam tatanan dunia baru tidak akan sebesar saat ini. Yang akan mengambil peran lebih besar adalah organisasi-organisasi yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan. Disini Muhammadiyah punya peran yang sangat penting”, tegasnya.
baca juga: Virus Corona Ujian bagi Kementerian Kesehatan
Muhammad Iqbal menyampaikan pendekatan yang digunakan oleh Arnold Toynbee ketika melihat jatuh bangunnya peradaban, Toynbee sampai pada kesimpulan bahwa ketika ada suatu peradaban hancur, kemudian tumbuh peradaban baru yang maju, yang memunculkan peradaban baru itu adalah selalu creatif minority (minoritas kreatif). Maka, yang akan berperan penting dalam the new normal pasca pandemi ini bukanlah negara melainkan minoritas kreatif atau non-state actor. Disini, Lalu Muhammad Iqbal yakin Muhammadiyah dapat memainkan peran yang penting.
reporter: Yusuf R Yanuri