Di tengah kobaran sampar yang bisa meluruhkan jiwa bangsa, hendaklah bertahan dan meningkatkan rasa kemanusiaan. Dalam kegoncangan bencana yang diperlukan bukanlah membanjiri dengan kata-kata, melainkan aksi yang nyata. Tatkala armada bayangan menggempur Indonesia, sudah seyogianya bangsa ini bertempur melawannya.
Armada bayangan yang nyaris meluluhlantakkan seluruh aktivitas, sehingga membuat manusia dilanda ketakutan dan kegamangan. Tak ayal, berbagai aktivitas pun terpaksa dialihkan dalam dunia jaringan (daring) dan parokial. Namun, di balik ketakutan, kegamangan dan keterbatasan tersebut muncul berjamuran jiwa-jiwa yang tidak pernah mendaku sebagai yang paling Pancasilais.
Jiwa Bangsa Indonesia
Setiap makhluk diciptakan oleh Maha Pencipta dalam bentuknya yang pusparagam dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Sebagaimana pesan moral yang disampaikan dalam al-Qur’an. “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.
Perbedaan merupakan suatu keniscayaan. Sehingga, kita perlu saling mengenal dan memperkenalkan apa yang menjadi ciri khas dari suatu bangsa.
Setiap bangsa memiliki ciri khusus nan khasnya masing-masing. Dalam lensa mazhab sejarahnya Friedrich Karl von Savigny, ia menyatakan bahwa norma atau hukum itu timbul seperti muncul dan berkembangnya bahasa suatu bangsa. Dengan demikian, apa yang tumbuh dan berkembang bersama dengan masyarakat, Von Savigny menyebutnya sebagai jiwa bangsa (volkgeist).
Indonesia barang tentu memiliki karakter, watak dan jiwanya sendiri. Sesuatu yang hidup di masyarakat, jauh sebelum menjadi sebuah negara-bangsa. Ketika hendak meletakkan fondasi awal bagi berdirinya sebuah negara, The Founding person kita mengalami dilema ideologis. Namun, pergumulan itu akhirnya mencapai suatu konsensus yang dianggap mewakili nilai-nilai yang hidup dalam jiwa rakyat Indonesia. Kemudian diberi nama Pancasila.
****
Pancasila menjadi suatu ideologi yang tidak membebek pada dua idelogi besar dunia yakni, liberalisme dan komunisme. Pancasila itu unik dan satu-satunya ideologi independen bagi bangsa ini. Didalamnya bersemayam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tidak rapuh.
Baca Juga: Gus Dur dan Sila Pertama Pancasila
Sesuatu yang menjadi produk dan kearifan lokal bangsa ini. Hal tersebut semakin dipercantik dengan balutan kebersamaan dan diiringi dengan semangat gotong royong. Sebuah karakter yang melekat, tumbuh dan hidup bersama masyarakat Indonesia. Kemudian menjadi sebuah ciri khas cum identitas yang mencerminkan jiwa bangsa ini. Oleh sebab itu, kita patut berterima kasih kepada pendiri bangsa ini yang sudah berkuah darah demi NKRI.
Siapa yang tak kenal dengan Soekarno. Bapak proklamator yang menggali jiwa dari bangsa ini. Ialah yang memperopagandakan Pancasila, yang sebelumnya sudah pernah termaktub dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca. Pancasila kemudian dijadikan sebagai fondasi Negara yang hingga kini masih tetap eksis dengan segala kelemahannya.
Ketika Armada Bayangan Menggempur
Apabila disesderhanakan lima sila itu akan menjadi Ekasila. Dalam pandangan Soekarno, Ekasila itu adalah gotong royong. Sebuah spirit yang telah hidup dan mengakar kuat dalam diri masyarakat Indonesia. Dengan spirit itulah bangsa ini mampu keluar dari keterkungkungan penjajahan dan bertransformasi menjadi sebuah negara-bangsa.
Indonesia tergolong masih baru dalam bentuknya sebagai negara-bangsa. Suatu proses yang belum final dan masih akan terus mengalami perubahan-perubahan baik itu masyarakatnya maupun institusi politiknya.
Institusi politik yang relatif lemah ditambah dengan sikap pemerintah yang cenderung menyepelekan kedatangan “armada bayangan”, telah mengakibatkan benteng ketahanan nasional kita jebol.
Alih-alih tak sendirian, di negara lain pun juga banyak mengalami hal serupa. Tatkala “armada bayangan” menggempur , kita malah banyak dipertontonkan oleh kegaduhan yang terjadi dijajaran elit bangsa. Hal ini lantas menimbulkan katakutan, kekhawatiran dan kegamangan dilapisan bawah. Namun hal tersebut berangsur-angsur hilang dengan meruaknya jiwa-jiwa autentik, terutama dari berbagai lapisan bawah non-pemerintah.
Jiwa Bangsa Itu Belum Sirna
Shane Preuss, dalam tulisannya di The Diplomat (24/4/2020), ia menulis “Benar, pemerintah Indonesia telah tersandung. Tetapi, masyarakat sipil mampu bangkit dalam peristiwa ini”. Selanjutnya, ia menyatakan, meskipun saat ini Indonesia berada pada masa yang genting, namun, Indonesia telah mampu keluar dan berhasil dalam menghadapi berbagai cobaan besar sebelumnya.
Sebut saja seperti; bencana alam, penjajahan kolonial, krisis tahun 1998 dan perjuangan reformasi. Berbagai kejadian tersebut telah membuat Indonesia banyak belajar. Dalam mengatasinya, bangsa ini mengedepankan persatuan bangsa.
Spirit gotong royong dan aksi tolong menolong tidak lagi terbelenggu oleh warna kulit, bentuk mata dan rambut bahkan keyakinan. Sebab, lensa yang digunakan ialah lensa kemanusiaan. Disamping itu, humanisme atau kemanusiaan merupakan sebuah agama tanpa Tuhan (Armstrong, 2018).
Baca Juga: Mengenang 119 Tahun Sang Proklamator: Soekarno dan Pemikirannya
Hasil dari itu semua pun mendapat sorotan dari berbagai penjuru. Pada Oktober 2018, The World Giving Index, yang dirilis oleh Charities Aid Foundation (CAF), memposisikan Indonesia sebagai pemuncak klasemen sebagai negara paling dermawan di dunia. Adapun yang menjadi tolak ukurnya yaitu: menolong atas rasa kemanusiaan, berdonasi dan kesukarelawanan.
****
Semangat berlomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat) ini tidak datang dari ruang yang hampa. Ia sudah ada dalam masyarakat dan hadir di nusantara ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu.
Seperti kata Clifford Geertz, ia menyatakan bahwa Indonesia ibarat ”anggur tua dalam botol baru” (old wine in a new bottle). Maksudnya ialah suatu kumpulan masyarakat dalam negara baru.
Memang, Indonesia merupakan negara baru yang usianya saja belum genap seratus tahun. Namun, rasa memiliki dan mencintai Nusa-Bangsa ini harus terus dirawat di dalam keadaannya yang majemuk. Sebagaimana spirit burung Garuda yang senantiasa mencengkeram “Bhinneka Tunggal Ika”, demi persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sumber Ilustrasi: inilahdepok.id
Editor: Dartim I.R.