Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Humanisme Indonesia

RedaksiKS by RedaksiKS
Desember 10, 2019
in Narasi
0
Humanisme Indonesia

Sumber: Buku Mojok.com

37
SHARES
216
VIEWS

Oleh: Hasnan Bachtiar

Ulasan Buku: Achmad Santoso, “Lebih Dekat Kumelihat Indonesia”, Yogyakarta: Basabasi, 2019. 250 hal.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Buku “Lebih Dekat Kumelihat Indonesia” ini di permukaan tampak seperti buku kumpulan artikel pendek biasa. Memang kelebihan buku yang demikian, bahasanya mudah sekali dicerna dan alurnya mengalir renyah.

Tentu banyak buku-buku yang mudah dipahami karena ditulis dengan cara yang istimewa: memanjakan pembacanya. Tapi untuk buku yang berbobot, mengambil resiko membicarakan masalah yang berat, jelas tidak banyak.

Hanya para pengarang tersohor yang memiliki keahlian membaca tanda-tanda zaman, sekaligus mampu berbahasa dengan mudah. Sebutlah misalnya Emha Ainun Najib, Abdurrahman Wahid, YB Mangunwijaya, M Sobary, Moeslim Abdurrahman, Sindhunata, Ahmad Syafii Maarif dan seterusnya.

Meskipun penulis buku “Lebih Dekat Kumelihat Indonesia” ini bukan pengarang tersohor, tapi nyatanya, wacana-wacana kemanusiaan dan keindonesiaan yang menjadi bidang garapannya memiliki kualitas yang baik. Artinya, memiliki ketajaman pandangan, keluasan wawasan dan kedalaman analisis.

Cara Achmad Santoso membaca persoalan, menurut Saya secara pribadi, mirip kombinasi antara dua orang filosof kontemporer, Alain Badiou dan Slavoj Zizek. Di dalam buku yang bertajuk “Philosophie und Aktualität ein Streitgespräch” (2005) keduanya bertarung secara intelektual membahas bagaimana permenungan filosofis harus hadir berhadapan secara langsung dengan problem kekinian (dan kedisinian).

Menurut Badiou, para pemikir harus memiliki komitmen kuat dan turut mencampuri masalah kekinian umat; masalah kemanusiaan. Dan upaya ini melampaui urusan spesialisasi akademik tertentu. Jadi, karena bersifat universal, tidak perlu menjadi ahli terlebih dahulu.

Sementara itu, mirip dengan rekannya, Zizek yakin bahwa para filsuf harus turun tangan. Akan tetapi, bukan sekedar dimintai atau memberi nasehat-nasehat tertentu, sebagaimana hal ini dapat diperkirakan secara normal. Sebaliknya, mengapresiasi abnormalitas dengan cara harus menghasut dan mendorong adanya gerakan revolusioner yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah. Tentu setiap hasutan atau upaya propaganda tidak selalu jelas.

Nah, Santoso berdiri di antara keduanya. Ia terkadang membubuhkan nasehat melalui tulisan-tulisan reflektifnya, namun di antara nasehat-nasehat yang ada, Saya pikir itu bermuatan hasutan yang kuat. Baik nasehat maupun hasutannya menunjukkan keberpihakannya yang jelas, yakni demi kepentingan kemanusiaan, demi keadilan dan demi kemerdekaan asasi.

Di bagian, Tentang Pendidikan dan Kemanusiaan Kita, misalnya, ia menasehatkan bahwa dalam rangka menghadapi era kekinian, perlu kiranya harmonisasi antara nilai-nilai kewahyuan dari agama dan nilai-nilai kebijaksanaan dari kemajuan sains. Harmonisasi tersebut harus menjadi landasan pendidikan kita. Harapannya, akan menghasilkan generasi yang cerdas, maju, berkemajuan, tetapi berakhlak mulia dan religius.

Di samping itu, ia juga menaruh kepedulian yang besar mengenai generasi kekinian, yakni generasi milenial. Humanisme harus menyentuh generasi baru ini. Dalam bagian Tentang Muhammadiyah dan Islam Kita, Santoso mengupas secara brilian pentingnya jihad digital, memerangi hoax dan menggulung puak anti-Pancasila di era disrupsi teknologi. Hasutan-hasutannya berpotensi membangkitkan nasionalisme dan patriotisme para pembacanya. Membuat kita lebih mencintai Indonesia.

Dalam bagian pamungkas, Tentang Bahasa dan Sastra Kita, ia secara lugas mengapresiasi pelbagai karya sastra yang bernuansa kritik sosial, mengandung empati humanistik dan memercikkan mata air keteladanan. Ia tidak pernah berbasa-basi menghasut agar mengabaikan sajak-sajak yang menekankan nilai estetis semata, sementara abai terhadap pelbagai persoalan kemanusiaan yang mendasar. Sebaliknya, membaca karya Dawuk, baginya membaca problem sosial.

Demikianlah karya ini, Saya pikir, adalah karya penting karena elaborasinya berkiblat pada dua mazhab: kemanusiaan dan keindonesiaan. Saya merekomendasikan untuk membaca buku ini, bagi siapa saja yang memerlukan nasehat-nasehat bijak sekaligus hasutan-hasutan yang revolusioner. Selamat membaca!

Terkait

Previous Post

Generasi Milenial dan Keadaban Publik

Next Post

Membumikan Pancasila

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Membumikan Pancasila

Membumikan Pancasila

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.