Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Generasi Milenial dan Keadaban Publik

RedaksiKS by RedaksiKS
November 25, 2019
in Narasi
0
Generasi Milenial dan Keadaban Publik
20
SHARES
119
VIEWS

Oleh: Mutmainnah[1]

Pekerjaan Rumah untuk mengharmonisasikan kehidupan berbangsa kembali merupakan kewajiban seluruh elemen yang ada di negara ini. Sejumlah problem yang mengusik kehangatan berwarga negara akibat konflik dan gesekan horizontal sepanjang pra hingga pasca konstestasi politik berlangsung, nyatanya masih belum sepenuhnya mentas.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Meskipun pesta rakyat telah rampung, puncaknya berjuta pasang mata di seluruh penjuru negeri menjadi saksi ditetapkannya periode kepemimpinan nasional hingga lima tahun mendatang. Akan tetapi di sisilain, sambutan masyarakat terhadap hasil hajat anak bar yang menghabiskan APBN setidaknya 25 Trilliun rupiah ini sangat beragam.

Mayoritas masyarakat merasa lega dengan berakhirnya masa kampanye yang sangat menyita tenaga bahkan emosi, karena hampir setiap hari masyarakat disajikan bermacam berita dan aksi manuver para elit politik yang jauh dari kata mengedukasi. Syiar kampanye yang minim dengan ide-ide membangun, malah justru kental dengan narasi-narasi propagandis,  mengadu domba serta dimunculkannya sensitifitas isu SARA yang mengakibatkan suhu politik meningkat.

Selebihnya, masyarakat masih terjebak dalam ketegangan psikologis tak berkesudahan yang berlangsung secara kolektif baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Upaya saling serang dan intrik menjatuhkan masih kerap ditemui dalam ujaran-ujaran yang disematkan dalam status di berbagai media sosial. Isunya pun belum beranjak dari isu-isu lalu yang mengakibatkan polarisasi di antara anak bangsa hari ini.

Gejala Positif Demokrasi

Ada hasil temuan menarik yang menyebutkan bahwa keikutsertaan masyarakat dalam pemilu 2019 meningkat hingga hampir 10 persen dari total jumlah pemilih pada pemilu sebelumnya (Survey KPU 2019). Lonjakan yang cukup signifikan ini menjadi indikasi gejala yang positif alam demokrasi. Di mana bertambahnya angka bisa juga dimaknai sebagai bertambahnya partisipasi masyarakat menggunakan haknya untuk turut menentukan nasib bangsa.  Antusiasme itu dapat ditangkap melalui migrasi besar-besaran warga yang awalnya acuh terhadap wacana politik menjadi melek politik. Hampir rata di semua rentang usia, pria dan wanita di berbagai komunitas memiliki tema perbincangan tidak jauh dari isu perpolitikan.

Bahkan secara mengejutkan, kalangan ibu-ibu rumah tangga (emak-emak) yang dulu kesannya anti dengan politik tidak mau kalah untuk turut menyuarakan aspirasinya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka masuk dalam barisan militan yang diakomodir oleh relawan kontestan. Keistimewaan lainnya dari Pemilu 2019 kemarin ialah menjadi momentum bagi para generasi milenial untuk kali perta masa cara resmi menyalurkan hak aktifnya sebagai Warga Negara Indonesia. Populasinya yang mencapai 35-40 persen dari total jumlah pemilih, menjadikan generasi milenial target strategis dalam langkah memperoleh kemenangan.

Generasi milenial, sebagaimana dalam sebuah artikel di Majalah TIMES sebagai “The Me Me Me Generation” dipandang sebagai generasi individualistik, sangat bergantung pada teknologi akan tetapi apatis terhada ppolitik. Tidak dipungkiri, apatisme tersebut muncul juga ada faktor anggapan oleh generasi milenial bahwa politik itu kotor. Berangkat dari fakta tersebut, maka akan menjadi tantangan tersendiri agar generasi milenial dapat diperoleh kesediaannya menyalurkan hak politiknya apalagi secara jauh terlibat dalam dunia politik.

Generasi muda ini lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya dengan hobinya, sebagian lain menurutkan hawa popularitas dengan mengikuti tren-tren yang sedang naik daun. Mencermati hal demikian, perlu upaya serius untuk “meluluhkan” dengan memahamkan kepada mereka bahwa dalam tatanan negara demokrasi, setiap warga negara  memiliki kedudukan sama untuk terlibat dalam berlangsungnya kehidupan berbangsa. Pun demikian dengan peran pemuda, agar suara pemuda dapat terakomodir dengan baik, maka pemuda tidak diperkenankan abai terhadap rancangan kebijakan yang ditawarkan.

Di sisi lain, optimism gairah politik pemuda di Indonesia ditunjukkan dengan hadirnya wajah-wajah politisi muda yang kerap menghiasi layar kaca di beberapa kesempatan. Meskipun belum tersebar secara rata di semua partai politik memiliki keterwakilan barisan pemuda, namun dengan lahirnya kader-kader atau simpatisan partai politik di akhir-akhir ini bias dimaknai membaiknya kesadaran politik milenial.

Karakteristik kuat lainnya yang dimiliki generasi milenial antara lainya itu tingginya angka literasi serta masifnya keterlibatan mereka dalam dunia digital dan internet. Tidak tanggung-tanggung, menurut Pusat Penelitian Alvara Indonesia 60 persen generasi milenial disebutnya sebagai pendudukasli digital. Aktivitas online mereka seperti mengunggah foto, menulis di blog (mikro ataupun makro) di kanal-kanal media sosial menempati porsi yang sangat dominan.

Termasuk dalam sepanjang masa kampanye berlangsung, keterlibatan para pemilih pemula ini turut mewarnai diskursus perpolitikan di Indonesia. Akan tetapi, di tengah perjalanannya tidak sedikit dari kalangan milenial justru hanyut dalam derasnya arus hoax yang membanjiri berbagai lini masa, yang dengan itu justru akan menyulut kegaduhan di ruang publik.

Tersebarnya hoax secara liar di media social akan berpeluang melahirkan tindakan nir adab seperti ujaran kebencian (hate speech) terhadap tokoh atau kelompok masyarakat tertentu.  Tentu saja hal itu tidak bisa dibenarkan,  karena bagaimana pun usaha melakoni kehidupan berdemokrasi bukan berarti dibolehkan secara bebas member penilaian performa pihak lain tanpa memperhatikan keadaban sosial.

Menjaga Keadaban dengan Bijak Bermedsos

Seiring dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik bagi generasi milenial, dialektika perpolitikan oleh generasi muda Indonesia juga diharapkan membawa angin sejuk perdamaian.  Penyampaian aspirasi atau gagasan politik perlu dilakukan secara elegan, tegas, dinamis namun tetap mengedepankan moral yang baik. Termasuk saat menyampaikan opininya melalui media sosial. Sebagai generasi yang lahir di era digital, akses terhadap beragam social media menjadi sangat terbuka dan mudah dijangkau.

Dari kelebihan itu timbul tantangan berikutnya, yakni seberapa kuat kendali pengguna agar tidak mudah terpancing pada isu-isu provokatif yang megarusutama di dunia maya. Sebab, semakin tinggi tingkat konsumsi terhadap media sosial akan semakin membentuk kecakapan komunikasi pengguna, terlebih bagi pemuda yang memiliki kepekaan terhadap perubahan dalam teknologi sosial tersebut dengan cara belajar coba-coba atau “Trials and Errors”.

Maraknya kekerasan verbal di media sosial oleh para pemuda merupakan bagian dari fitrah pemuda yang haus akan pengakuan eksitensinya,  akan tetapi akalnya belum sepenuhnya purna untuk menilai baik dan buruk. Hasratnya masih terbatas pada rasa ingin dikenal dan diakui keberadaannya meskipun harus dengan jalan sensasional. Selain itu, rasa ingin diperhatikan yang sangat besar, ingin didengar pendapatnya semakin menguatkan geliat mereka bersuara melalui media sosialnya.

Mengingat kecenderungan di atas, generasi milenial perlu memiliki sikap kehati-hatian dalam menuangkan ide dan opini atau sekedar memberikan komentar melalui akun media sosialnya. Generasi milenial perlu menghindari pola-pola kritik yang tidak santun, dan menimbulkan keresahan di masyarakat.  Menjarakkan diri dengan penggunaan verbatim  yang mengandung unsur kekerasan, pelecehan juga tindak kriminal, karena hal tersebut hanya akan menggiring pada situasi yang mengancam keselamatannya.

Faktor penunjang lainnya, pengawalan serta pendampingan dari orang-orang terdekat sangat penting agar pemuda mampu bersikap terbuka dan merasa terpenuhi haknya untuk diperhatikan. Selama ini, tidak sedikit dari kasus kenakalan yang dialami pemuda akar masalahnya disebabkan keringnya perhatian dari keluarga. Akibatnya pelarian atas kurangnya atensi keluarga diraihnya dari sumber yang tidak selalu baik dan benar. Membudayakan pola komunikasi yang baik dalam lingkungan keluarga akan sangat membantu berkembangnya fisik dan psikis generasi muda yang baik pula.

Berkaitan dengan peran aktifnya dalam merawat iklim demokrasi di Indonesia, generasi milenial juga harus cerdas, teliti, cermat dalam memfilter setiap informasi yang diperoleh. Membiasakan untuk memverifikasi (tabayyun) informasi dari berbagai sumber dan memperkaya sudut pandang. Tidak mudah terhasut oleh pesan berantai apalagi terburu-buru membagikan kepada orang lain yang pada akhirnya andil dalam menyuburkan persebaran hoax. Selalu mengedepankan sikap bijak dalam bermedia sosial sehingga setiap yang dihasilkan berupa karya dalam media sosial merupakan buah pikiran jernih dan obyektif yang membangun persaudaraan sebangsa dan setanah air.

[1] Aktivis Nasyiatul Aisyiyah Wilayah Jawa Tengah dan Pemerhati Pendidikan Kemasyarakatan

Terkait

Previous Post

Buletin Kalimatun Sawa’

Next Post

Humanisme Indonesia

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Humanisme Indonesia

Humanisme Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.