KALIMAHSAWA.ID, SURAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi di era Society 5.0 menuntut kader Muhammadiyah tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan teknologi. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A., yang kerap disapa Gus Bah, dalam Stadium General Semester Gasal T.A. 2026/2027 Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahad (6/9/2026).
Dalam pemaparannya, Gus Bah menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, kemajuan fasilitas digital belum selalu diikuti dengan kematangan pola pikir dan emosi penggunanya.
“Anak-anak hari ini fasilitasnya sangat maju, tetapi pola pikir dan emosinya belum sampai ke sana. Akibatnya, teknologi justru dominan memuaskan hawa nafsu dan kesenangan instan,” paparnya.
Ia menyebut berbagai persoalan seperti kecanduan gim, penggunaan media sosial tanpa batas, judi online, pinjaman online, hingga penipuan digital sebagai bagian dari tantangan yang perlu dihadapi generasi muda. Kondisi tersebut juga berdampak pada daya tahan belajar, terutama ketika mahasiswa semakin sulit mempertahankan fokus dalam diskusi dan proses pembelajaran.
Karena itu, Gus Bah menekankan pentingnya mengarahkan gawai agar tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai instrumen produktif dan berdaya guna. Menurutnya, pendampingan kader perlu diarahkan untuk membangun kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.
Lebih lanjut, Gus Bah menawarkan gagasan “Al-Ma’un 5.0” sebagai bentuk reaktualisasi nilai kepedulian sosial K.H. Ahmad Dahlan melalui pemanfaatan teknologi. Menurutnya, semangat Al-Ma’un dapat dikembangkan melalui ekosistem yang berbasis data dan teknologi.
Dalam bidang filantropi, misalnya, pelayanan kepada anak yatim, masyarakat kurang mampu, hingga mahasiswa yang mengalami kendala biaya pendidikan dapat didukung dengan data center yang terintegrasi. Sistem tersebut diharapkan membuat penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan efisien.
Tidak hanya dalam bidang sosial, ia juga mendorong kader Muhammadiyah untuk masuk ke sektor pertanian dengan pendekatan teknologi. Pemanfaatan drone, sensor Internet of Things (IoT), dan AI dinilai dapat menjadi bagian dari modernisasi sektor agraris.
“Nyemprot tanaman cabai tak perlu lagi panas-panasan hingga pegal. Kita bisa pakai teknologi drone, sensor IoT, dan AI dari rumah. Kader ahli pertanian Muhammadiyah harus masuk dan memimpin di dunia ini,” tegasnya.
Dalam bidang kesehatan, Gus Bah juga mendorong pengembangan layanan digital di lingkungan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Menurutnya, digitalisasi dapat diterapkan mulai dari sistem pendaftaran, telemedicine, hingga pengiriman obat ke rumah pasien untuk mengurangi antrean dan memudahkan layanan kepada masyarakat.
Sementara itu, dalam konteks dakwah, Gus Bah mengajak mahasantri dan kader muda Muhammadiyah untuk menghadirkan dakwah yang kreatif di ruang digital. Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya menyampaikan larangan, tetapi perlu hadir menjawab persoalan yang dihadapi generasi muda.
“Anak muda hari ini bergulat dengan isu interaksi, adab, hingga relasi sosial. Buatlah konten dakwah yang kreatif—bagaimana membangun interaksi yang tetap beradab dan syar’i. Isi ruang digital dengan narasi adab, motivasi, dan inspirasi,” imbaunya.
Selain kemampuan beradaptasi dengan teknologi, Gus Bah menekankan pentingnya mempertahankan tradisi membaca. Menurutnya, membaca menjadi fondasi dalam membangun cara berpikir kritis sekaligus memperluas wawasan kader.
Ia juga mendorong mahasantri untuk memadukan tiga epistemologi Islam, yakni Bayani, Burhani, dan Irfani. Bayani berkaitan dengan pemahaman terhadap teks keagamaan, Burhani dengan nalar ilmiah dan kontekstual, sedangkan Irfani berkaitan dengan kedalaman spiritual dan kebersihan hati.
Dalam sesi diskusi, Gus Bah juga menjelaskan karakter kader Muhammadiyah yang ideal. Menurutnya, Muhammadiyah tidak dapat dipahami hanya melalui satu sisi. Gerakan tajdid Muhammadiyah perlu berjalan melalui dua sayap, yakni purifikasi dan modernisasi.
Purifikasi ditempatkan pada aspek akidah dan ibadah, sedangkan modernisasi diterapkan dalam amaliah duniawi seperti ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola organisasi, ekonomi, dan kebudayaan.
“Jika Muhammadiyah hanya berfokus pada purifikasinya saja, ia akan kaku dan bergeser mendekati paham Salafi. Sebaliknya, jika hanya berfokus pada modernisasinya saja tanpa pilar pemurnian ibadah dan akidah, ia akan terseret ke arah Liberalisme. Kader Muhammadiyah yang sebenarnya adalah yang mampu mengepakkan kedua sayap tersebut: puritan dalam ibadah, modern dalam amaliah duniawi,” tegasnya.
Melalui materi tersebut, Gus Bah menekankan bahwa Pondok Shabran UMS memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan ulama masa depan. Kader yang dilahirkan tidak hanya dituntut kokoh dalam hafalan Al-Qur’an dan penguasaan bahasa Arab, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, wawasan sains dan teknologi, serta keberanian untuk memimpin transformasi sosial di era digital.
Kontributor: Anqiya