Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Gaya Hidup Wanita Independen dan Tantangan Keyakinan Beragama

RedaksiKS by RedaksiKS
November 6, 2023
in Muslimah
0
Cara Memaknai 21 Januari sebagai Hari Peluk Nasional

Sumber: Muslimobsession.com

37
SHARES
219
VIEWS

Seorang wanita mengunggah gambar dirinya, mengenakan pakaian syar’i dengan cadar hitam yang pekat. Cadar yang dikenakan oleh beberapa perempuan Muslim telah menjadi simbol agama yang kuat. Beberapa hari kemudian, ia berbagi foto lain dengan penampilan yang berbeda, tanpa pakaian taqwa yang pernah dikenakannya sebelumnya.

Tubuh dan rambutnya tidak lagi tertutup oleh kain, dan ia membuka pakaian taqwanya yang telah lama ia kenakan, menghadapi perjuangan dan kesabaran, hingga akhirnya syaitan merampas semuanya. Tidak ada lagi khimar syar’i yang menyembunyikan keindahan rambutnya, tidak ada lagi gamis lebar yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

TulisanTerkait

Validasi Manusia vs Ridha Allah: Kita Lagi Mengejar yang Mana?

Hijab di Persimpangan Zaman: Menenun Ketaatan dalam Balutan Modernitas

Tips dan Trik Seni Mengikhlaskan Cinta

Bertahun-tahun lalu, ia bercadar, kemudian beralih ke celana lebar dan khimar pendek, dan sekarang ia tidak kembali ke pakaian sebelumnya. Syaitan tidak menjerumuskan kita dengan cepat, tetapi dengan perlahan hingga pada akhirnya kita terlepas. Karena kepercayaan diri yang tinggi ia menyebut dirinya sebagai wanita independen, merasa bahwa ia sanggup hidup tanpa aturan-Nya.

Hal ini mencerminkan pentingnya istiqomah dalam ajaran agama, di mana kesuksesan dinilai pada akhir perjalanan. Jika seseorang memulai dengan baik namun tidak mampu mempertahankan kebaikan tersebut hingga akhir, maka awal yang baik itu menjadi sia-sia.

Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan kita untuk bertahan dalam kebenaran hingga akhir. Seseorang seringkali berubah saat menghadapi titik terendah dalam hidup yang memaksa mereka untuk kembali kepada Allah. Kejadian ini bisa berupa kegagalan dalam bisnis, pendidikan, karier, pernikahan, kesehatan, dan pengalaman buruk lainnya.

Meskipun pengalaman-pengalaman ini menyakitkan, mereka sebenarnya adalah skenario terbaik dari Allah. Titik terendah inilah yang mendorong seseorang untuk mencari Allah, mengakui kelemahan dan keterbatasannya, dan hanya bisa berserah kepada-Nya.

Dalam momen ini, seseorang menyadari betapa kecilnya mereka tanpa pertolongan dan taufiq dari Allah, sehingga rasa bangga pada diri mereka runtuh, dan mereka menyadari bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang bergantung pada rahmat Allah. Semut makhluk hidup ciptaan Allah, mampu mengangkat 50x beban lebih berat daripada bobot dirinya tapi tak pernah merasa hebat dan kuat.

Kita lemah, tapi Allah yang menguatkan. Kita fakir, tapi Allah yang mencukupkan. Saat bermasalah, maka Allah yang memberikan solusinya. Semua murni Allah yang mengatur dan membersamainya. Jangan pernah merasa sendirian. Jangan pernah merasa bisa sendiri. Segalanya Allah-lah yang menolongnya.

Hati-hati terhadap kesombongan saat merasa bahwa segala kebaikan terjadi berkat tindakan kita sendiri, karena Allah dapat dengan mudah mengubah rencana dan mencabut nikmat yang diberikan. Orang yang terlalu bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap bahwa segala sesuatu terjadi hanya karena jasanya akan kesulitan saat diuji oleh Allah.

Orang yang mendapat taufiq akan meyakini bahwa segala kenikmatan yang diterimanya adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha pribadi. Ketika kenikmatan itu hilang, ia merasa bahwa Allah berhak mengambilnya karena ia belum mampu mensyukuri nikmat-Nya.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Seseorang jangan memuji dirinya sendiri dan merasa ujub dengan amalnya, agar tidak menjadikan amalnya sia-sia!” (Masail Ilmiyyah wa Fatawa Syariyyah, hlm 17)

Hakikat “my life my choice” yang sesungguhnya adalah ketika kita menjadi hamba Allah dan bukan menjadi hamba dunia. Seorang hamba Allah ia mulia dan tidak bisa di atur siapapun kecuali aturan Allah. Sedangkan hamba dunia, ia akan di setir oleh kehidupan yang membelenggu. Betapa banyak wanita yang tau haramnya membuka aurat.

Namun ketika di tanya kapan berhijab, berantakan moodnya. Ketika kita menjadi hamba hawa nafsu, hawa nafsu kita selalu mengajak kita menjadikan opini publik dan masyarakat sebagai parameter, bukan ridho Allah. Hingga ia rela di lempar ke neraka Allah demi memperjuangkan hawa nafsu kehidupan.

“Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276)

One day, it will make sense kenapa kita cuma butuh “yang penting Allah ridho” karena ridho manusia adalah sesuatu yang tak mungkin bisa di capai. Ibnu Qudamah Al Maqdisiy secara ringkas mengakatan “Sebab kehancuran seseorang adalah takut akan celaan manusia sehingga sibuk memantaskan diri untuk mencari ridha dan pujian manusia”.

Padahal, tak mungkin semua orang itu cocok sama kita. Orang yang gak cocok sama kita bukan berarti orang itu gak baik, karena sebaliknya kita juga gak perlu memaksa supaya selalu cocok sama orang lain and it’s okay not to match each other karena memang gak wajib cocok. Kadang kita nuntut semua orang harus menerima kita, suka sama kita, terus kalau ada yang gak suka, kita hasad.

Nyatanya banyak orang yang gak kita suka juga, lalu kenapa harus menuntut kesempurnaan dari aib yang sedang Allah tutup. Lalu bagaimana dengan kita yang begitu hina, yang masih lalai ibadahnya, lalai dzikirnya, sholatnya belum khusyuk, Qur’annya masih jarang di baca, lisan nya belum bisa di jaga, sama orang tua masih durhaka, sama suami masih membangkang, ingin selamat dari celaan manusia? Mustahil.

Don’t expect too much. Don’t hate too much. Tak pantas kita meremehkan orang, sebab seburuk-buruknya dia di pandangan kita, pasti ada kebaikan yang dia perbuat yang kita tak mengetahuinya. Tak pantas kita berekspektasi berlebihan kepada seseorang. Sebab sesempurnanya dia di mata kita, kita tak pernah tau maksiat apa yang ia kerjakan di kala sendirian.

Tak semudah itu, tidaklah kita akan kembali “pulang” kecuali kepada dua tempat (surga / neraka) dan tidak ada tempat ke tiga. Para ulama mengatakan bahwa tempat istirahat yang hakiki adalah surga. Adapun dunia adalah tempatnya berkeringat, letih, kurang tidur, juga pengorbanan. Dunia adalah tempat untuk berjuang.

Mungkinkah segampang itu kita menggapai surga? Jikalau untuk dunia kita bisa habis-habisan, kenapa akhirat tidak bisa habis-habisan? Kalau kaidah di dunia; “tidak ada makan siang gratis” mungkinkah untuk Surga dapat di tebus dengan gratis? Mustahil. Ketahuilah, jika surga itu murah, Nabi Muhammad SAW tidak perlu hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Jika surga itu murah, tidak ada penyiksaan terhadap Bilal dan pintu gerbangnya upaya kita menggapai surga adalah dengan belajar, belajar dan belajar. Sedangkan mereka sudah di jamin baginya surga namun tidak ada manusia yang ibadahnya lebih baik dari pada para nabi.

Lalu mengapa ibadah kita biasa-biasa saja padahal Allah belum menjamin nasib akhirat kita. Semoga kita mampu mencari jalan-jalan yang mengantarkan kita kepada dagangan Allah yang mahal ini, semoga Allah mudahkan kita untuk meraih Surga-Nya.

Penulis: Febrianty Kumalasari (UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Tags: AgamaIslampendidikan
Previous Post

Islam Vis a Vis Digital Society

Next Post

Pentingnya Aqidah dan Implementasinya untuk Gen-Z

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Islam Di Antara Universal dan Partikularisme

Pentingnya Aqidah dan Implementasinya untuk Gen-Z

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.