Oleh: Hikari Aufa Rofiqi (Anggota Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah)
Pencak silat merupakan warisan budaya Indonesia yang sudah mendunia dan menjadi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan di ajang ASEAN Games dan olimpiade olahraga kelas internasional. Pencak silat tidak hanya sekadar gerak bela diri yang kosong dan tanpa makna, melainkan mengandung unsur filosofis yang mendalam di tiap geraknya. Wiraga, wirama, dan wirasa yang terkandung dalam unsur gerak pencak silat menjadi simbol bahwa gerakan pencak silat memiliki nilai dan ciri khas yang membedakan dengan aliran bela diri lainnya di belahan dunia.
Indonesia merupakan negara yang menjadi induk perkembangan pencak silat di dunia. Di Indonesia, aliran silat sendiri memiliki ragam yang berbeda, bahkan di tiap daerahnya. Indonesia memiliki ragam gerak pencak yang dikembangkan dengan ciri khas di tiap daerahnya, mulai dari silek Minang, silat Betawi, silat Melayu, Cikalong, Sabandar, Lawaran, Banjaran, dan gerak pencak lainnya. Ini membuktikan bahwa pencak silat benar-benar menjadi warisan budaya Indonesia yang layak dijaga dan dilestarikan.
Seiring berjalannya waktu, pencak silat kini mengalami dekadensi yang signifikan. Bertambahnya kuantitas anggota persilatan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemerosotan moral dalam pencak silat itu sendiri. Secara kualitas pun tak luput mengalami penurunan. Berapa banyak pesilat yang prematur dan belum mencapai umur yang matang sudah diberikan lisensi melatih pencak silat. Alhasil, dalam proses latihan tidak maksimal dan capaian keilmuannya pun tidak merata.
Sebelumnya, saya menulis ini dengan sudut pandang saya karena saya pribadi juga merupakan anggota dari salah satu perguruan pencak silat. Jadi, untuk data dan referensi tulisan ini saya tulis dengan tidak sembarangan. Saya tulis berdasarkan data dan pengalaman pribadi saya dalam menelaah problematika di dunia persilatan. Maksud dan tujuannya pasti demi keberlangsungan pencak silat dan kepedulian saya terhadap problematika yang ada di dunia persilatan.
Fenomena noraksisasi, saya pilih diksi noraksisasi supaya dapat dipahami karena kosa kata ini sering digunakan dan merupakan kosa kata harian. Kembali ke fenomena noraksisasi, karena pada dasarnya kemerosotan yang ada di dunia persilatan salah satu penyebabnya adalah budaya norak itu sendiri. Dari sifat norak baik di dunia maya maupun dunia nyata yang menjadikan pencak silat sebagai tren dan menjadi “fomo” bagi sebagian orang yang tertarik dengan tren tersebut. Alhasil, alasan orang ikut pencak silat ya karena supaya bisa tampil keren dan gagah di jagat nyata maupun maya.
Seiring berjalannya waktu, makin ke sini dunia pencak silat semakin jauh dari nilai-nilai filosofis. Sebenarnya, penyebabnya bukan hanya dari budaya norak saja, namun banyak sekali penyebab penurunan kualitas pencak silat sehingga kehilangan identitasnya. Kalau disebutkan memang banyak, tapi saya kasih satu sub-bab kasus yang menjadi inti dari permasalahan yang ada di pencak silat. Oke, next paragraf.
Banyak orang yang belajar pencak silat itu hanya ingin bisa bela diri, hanya ingin bisa bela diri, sebatas itu saja. Setelah bisa bela diri atau bisa berkelahi, mereka sudah merasa cukup. Sudah bisa bela diri dan sudah mendapat tingkatan yang sah untuk mengajar, mereka hanya mengajarkan cara-cara berkelahi dan pendidikan mental yang cenderung mengajarkan budaya anarkisme dan gaya balas dendam. Misal, dahulu saya dilatih keras dan dibentak-bentak dengan umpatan yang jauh dari kata pendidikan dan justru meninggalkan bekas model pendidikan anarkis.
Ditambah lagi dengan konsep “tulodho” atau contoh. Seorang siswa dari sebuah pencak silat akan cenderung mengikuti bagaimana para pelatihnya mengajar. Jikalau siswanya sudah bisa berpikir dewasa pastinya akan bisa memilih mana yang harus dievaluasi dan mana yang harus dipertahankan. Itu jika sudah bisa berpikir dewasa. Namun, bisa dibayangkan jika siswanya masih di taraf labil dan belum berpikir dewasa? Silakan pembaca menilai sendiri.
Kurangnya contoh yang baik dalam lingkungan pelatihan juga menjadi penyebab dekadensi moral dalam dunia pencak silat. Maka, bagi para pembaca yang menjadi pelatih di pencak silat, mari kita bermuhasabah apakah selama ini kita sudah menjadi role model yang baik bagi anak didik kita. Silakan dimuhasabahkan, mau sampai kapan lingkaran setan ini akan terus berlanjut?
Berikutnya, fanatik buta terhadap satu perguruan silat juga menjadi pengaruh yang dominan dari akar permasalahan dekadensi pencak silat. Fanatik buta, mau salah mau benar tetap dibela tanpa adanya pemikiran yang matang dan kajian kasus yang baik, sehingga menjadikan mental pesilat “pentol korek” atau ujung sumbu dari korek api. Yang jika digesekkan dengan barang yang kasar akan terbakar, jika disulut oleh masalah sepele langsung meledakkan emosi dan berujung pada kerusakan.
Dari permasalahan di atas, menjadi pertanyaan besar bagi kita, mau sampai kapan budaya buruk ini akan terus berlanjut? Dan bagaimana solusinya yang bisa kita lakukan? Kalau hanya mengkritik, apakah cukup? Kelak di masa depan kita akan bertambah keturunan, baik anak, cucu, maupun buyut. Apakah kita tega melihat penerus kita hidup di tengah dekadensi moral seperti ini? Mari kita tingkatkan kesadaran dan kepekaan terhadap problematika yang terjadi.
Bagi pelatih dan segenap anggota, pengurus, pengurus besar Ikatan Pencak Silat Indonesia, dan kementerian terkait untuk tanggap mengenai problematika ini. Masyarakat menilai dan kita sebagai unsur dan subjek penggerak memiliki kendali untuk menyelesaikan masalah ini. Pencak silat bisa, pencak silat berdharma, pencak silat budaya bangsa. Salam pencak silat.
Editor: Rafidah Azis