Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Eksistensi Al-Qur’an dan Peradabannya

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 2, 2023
in Ulûm ad-Dîn
0
Membumikan Budaya Literasi: Bergerak dan Menghampiri
23
SHARES
135
VIEWS

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah di negara Arab. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Allah tidak menurunkan nya di Romawi atau Persia atau di negara lainnya. Jawaban yang logis unruk menjawab pertanyaan ini, karena kedua negara tersebut sudah memiliki peradaban yang dapat dikatakan dunia digenggam oleh kedua negara tersebut. Mungkin saja bagi Allah menurunkan Al-Qur’an di kedua negara maju tersebut, tetapi orang- orang akan berkata biasa saja, karena mereka telah memiliki peradaban jadi Al-Qur’an itu tidak akan membekas dalam kehidupan.

Tetapi Allah turunkan di suatu tempat yang tidak memiliki kemajuan, tenggelam dalam kehidupan bahkan jauh dari akhlak dan adab mulia sampai disebut dengan jahiliyah.  Bangsa arab sebelum Al- Qur’an turun identik dengan peradaban yang sangat buruk, pelacuran dimana- mana, pertumpahan darah, perbuatan keji, dan segala hal yang berkaitan dengan kejahatan.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Berbicara tentang Nuzulul Qur’an dan peradaban. Ini mengacu pada ayat 1 sampai 5 surat Al- Alaq. Lima ayat pertama menjelaskan pesan Allah kepada kita dan berisi sebuah peintah iqro’ (membaca). Dengan membaca dapat mengetahui perintah dan larangan Allah. Allah tidak menciptakan hambanya begitu saja, melainkan ada tuntutan berupa perintah dan larangan. Itulah urgensi membaca yang di tujukan Allah kepada kita. 

Inilah kunci sukses kemajuan peradaban Islam. Al Quran menjadi sumber, inspirasi, triger, dan panduan bagi umat untuk meraih peradaban gemilang. Terbukti, kesuksesan pertama diraih sendiri oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW sukses mengubah peradaban yang gelap gulita, jahiliyah, dan mereka benar-benar dalam kondisi yang nyata kesesatannya (dhalalin mubin).

Tetapi tidak cukup dengan hanya membaca, tetapi juga harus melibatkan aspek pikir dan logika kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan dan dari situlah lahir ijtihad para ulama yang sangat luar biasa pengaruhnya dalam berbagai bidang.

Tulisan merupakan intrumen peralihan ilmu antara suatu kaum dan bangsa. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat terlestarikan dan berkembang sesuai yang di kehendaki oleh Allah SWT. Peradaban suatu bangsa akan berkembang, pemikiran akan semakin canggih, agama dapat terjaga dan agama Allah akan semakin tersebar luas. Dan tulisan itulah yang menjadi bukti bahwasannya pernah berdiri suatu peradaban di sana, sehingga orang lain tidak mengklaim bahwa itu bersumber dari mereka.

Peradaban di tandai dengan majunya sebuah keilmuan. Praktek menuju ke peradaban sudah di contohkan langsung oleh nabi Muhammad kepada generasi pertama yaitu dikenal dengan sebutan Darul Arqam. Di sana nabi mengajarkan para sahabat berbagai keilmuan dasar dan cara beliau melakukan perubahan itu adalah dengan mendidik umat membaca, memahami dan mengamalkan Al Quran dengan kemurnian akidah dan akhlak yang penuh hikmah (QS Ali Imran ayat 164 dan Al Jumuah ayat 2).

Sebelum peradaban islam muncul, sudah ada 2 peradaban yang bisa di katakan penguasa dunia saat itu, Romawi dan Persia. Kemunduran peradaban ini mengacu kepada nilai kemanusian dan kezhaliman. Romawi kala itu mengalami kemunduran yang amat buruk. Sistem politiknya berdasarkan pemujaan terhadap bangsa dan tanah air Romawi.

Mereka memandang negara lain sebagai budak yang harus melayani mereka. Mesir dan Syam menjadi salah satu dampakmya, mereka tidak pernah meningkatkan kesejahteraan rakyat, bahkan mereka mengeruk keuntungan besar atas tanah jajahannya.

Islam datang pada saat dunia dalam keadaan kacau. Islam benar- benar berperan sebagai sistem hidup universal yang memperbaiki dunia. Teknologi maju pesat bersamaan dengan datangnya islam. Pada abad ke-2 Hijriah, umat islam telah berkeliling dunia dan berhasil membuat peta dunia. Saat itu, Barat sama sekali buta dalam pelayaran. Di pusat kekhalifahan islam pada abad pertengahan, dunia makin bergejolak karena listrik telah di temukan. Sementara, suasana di Barat masih gelap.

Hingga kini, tak ada satupun peradaban yang lepas dari kaitan islam. Tidak juga Eropa dan Amerika. Robbert Briffault berkata, “Tidak satupun segi- segi kemajuan di Eropa yang tidak mendapat jasa- jasa besar dari peradaban islam dan peninggalannya yang mempunyai pengaruh besar”. Kini umat islam masih berjuang menapaki jenjang kemajuan peradaban. Tak sedikit di antara umat islam yang silau akan peradaban barat dan negeri asing lainnya yang di nilai lebih maju dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih.

Peradaban islam pernah mencapai titik puncak seehingga mampu menembus daratan eropa. Realitas ini pada hakikatnya telah menjadi bukti betapa peradaban islam telah mempengaruhi peradaban barat. Pengaruh peradaban mengakibatkan tumbuhnya berbagai inisiatif, kreativitas dan produktivitas baru yang lebih berkualitas yang menandai adanya model peradaban yang hidup, dinamis, visioner dan memiliki orientasi ke depan dengan jelas. Dan inilah sejarah yang di anggap sebagai kontribusi islam terhadap peradaban barat.

Dengan menguasai ilmu yang terkandung dalam Al- Qur’an, maka peradaban yang di hasilkan akan mendekatkan umatnya pada Allah SWT. Sejatinya makin cerdas umat ini, semakin tunduk dan patuh pada Allah SWT. Negeri seperti inilah akan memperoleh berkah (Q.S Al- A’raf ayat 96). Sebaliknya, ilmu yang tidak di landasi dengan tauhid, buta dari ilmu ma’rifatullah, maka kemajuan ilmu pengetahuan hanya akan mendatangkan malapetaka bagi peradaban manusia.

Penulis : Farid Taufiqurrahman (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Kepentingan Lain dalam Orientalisme

Next Post

Orientalisme dalam Kajian Feminisme Barat

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Pentingkah Kesetaraan Gender di Indonesia?

Orientalisme dalam Kajian Feminisme Barat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.