Kalimahsawa.id – Din Syamsuddin mengatakan bahwa sekarang Muhammadiyah tidak bisa bersikap eksklusif. Selama itu dalam kerangka keyakinan keislaman yang ushuliyah maka tidak ada masalah dalam perbedaan-perbedaan fiqhiyah. Bahkan dengan kalangan non Islam pun perlu memperluas pergaulan. Termasuk yang harus diselesaikan adalah relasi NU Muhammadiyah.
Melawan Upaya Adu Domba
Din menilai bahwa rivalitas NU-Muhammadiyah sudah cukup akut dan rentan terhadap faktor eksternal. Ia melihat bahwa selalu ada upaya devide et impera (adu domba). Hal ini yang menurutnya tidak banyak bisa dibaca oleh tokoh Islam.
baca juga: Virus Khilafah Lebih Berbahaya daripada Virus Corona
Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Halal Bihalal PC IMM Ciputat pada Minggu (7/6) melalui video conference.
“Kita harus bersikap asyidda ‘ala al-kuffar ruhama bainahum (berkasih sayang dengan sesama muslim, dan tegas terhadap orang kafir). Asyidda bukan berarti keras, tapi tegas. Dialog antar agama boleh, tapi bukan sekedar saling memberikan salam dan senyum. Saya bilang sama kawan-kaawa pemeluk agama lain agar jangan ada dusta diantara kita. harus ada upaya keterusterangan dan upaya ketulusan untuk membangun persatuan”, ujarnya sambil mengutip Alquran surat Al-Fath ayat 29.
Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini meyakini Indonesia sedang mengalami perubahan dan tidak banyak yang bisa membaca perubahan tersebut. Ia menilai ada kerusakan struktural serius di tubuh bangsa. Yang sebenarnya hal ini sudah disimpulkan oleh Muhammadiyah sejak awal dengan istilah deviasi distorsi kehidupan berbangsa. Ada penyimpangan dan penyelewangan dari nilai-nilai dasar pancasila.
Ia memberikan contoh relasi Islam dan pancasila yang sudah selesai dan final. Tetapi karena kebodohan umat Islam yang mau saja diperhadapkan antara Islam dan pancasila, akhirnya hal tersebut dipersoalkan lagi oleh sebagian umat Islam sendiri. Muhammadiyah sudah menyelesaikan itu dengan adanya dokumen Negara Pancasila sebagai Darul-‘Ahdi wa as-Syahadah.
Din menyebut Indonesia memerlukan suasana kondusif yang ditandai dengan adanya keadilan ekonomi. Kalau umat Islam tidak memiliki kekuatan ekonomi, dampaknya akan terasa pada sistem pendidikan, infrastruktur kebudayaan, dan lain-lain. Kalau permasalahan ketimpangan ini tidak segera diatasi, ia memprediksi bahwa 20 tahun lagi Indonesia akan mengalami perubahan yang sangat menyulitkan umat Islam.
Pesan untuk Muhammadiyah
Selain itu, ia juga berpesan agar Muhammadiyah memiliki kepercayaan diri untuk bisa menjadi leading sector terhadap seluruh elemen umat Islam. Tidak perlu ada perasaan inferior dalam diri Muhammadiyah. Meskipun ia mengakui ada suasana baru, terutama dengan adanya globalisasi. Ada singgungan dengan pikiran-pikiran Islam dari luar, dan ada kaitannya dengan faktor internal dalam negeri. Radikalisasi mungkin saja terjadi jika ada kesenjangan ekonomi.
Muhammadiyah yang sejak awal konsisten berjibaku dengan dakwah dan mampu menghadirkan wajah Islam yang berkemajuan, justru mendapatkan tantangan yang sulit. Dimana dalam tantangan tersebut ia merasa umat Islam belum sepenuhnya siap untuk bersaing. Maka, perlu ada agenda mendesak untuk menciptakan suasana kondusif bagi dakwah.
baca juga: Amien Rais: Penjajahan Intelektual di Indonesia
“Muhammadiyah memiliki modal sosial berupa Sumber Daya Manusia, namun tetap memerlukan pendekatan tersendiri. Muhammadiyah harus percaya diri untuk merangkul siapapun selama tidak melakukan kekerasan fisik maupun verbal. Muhammadiyah harus mengembangkan diri karena paham keagamaan muhammadiyah yang moderat”, tegasnya.
reporter: Yusuf R Y