Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Amien Rais: Penjajahan Intelektual di Indonesia

AdminKS by AdminKS
Juni 4, 2020
in Report
0
Amien mengutip pidato Bung Karno yang berbunyi: “tetapi dasarnya, isinya Indonesia yang kekal abadi, haruslah pancasila”. Di pidato yang sama Bung Karno

Amien mengutip pidato Bung Karno yang berbunyi: “tetapi dasarnya, isinya Indonesia yang kekal abadi, haruslah pancasila”. Di pidato yang sama Bung Karno

32
SHARES
190
VIEWS

kalimahsawa.id – Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais mengatakan bahwa orang beriman harus beramal dan bergerak. Dalam bergerak itu mereka dipantau oleh Allah. Sayangnya, ia merasa bahwa yang hilang dari umat Islam adalah semangat jihad fi sabilillah.

Ada fenomena yang memprihatinkan bahwa Islam sudah menjadi agama yang rutinitas, statis, dan stagnan. Islam tidak menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Islam menjadi status quo.

Ia menceritakan di kalangan Gereja, para pasturnya menciptakan Teologi Pembebasan. Mereka menciptakan pemahaman agama Katholik yang menginspirasi pembebasan terhadap kemiskinan, kezaliman, pengangguran. Dan beberapa kendala yang menyebabkan bangsa-bangsa Katholik menjadi tertinggal.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Di dunia Islam, ada negara-negara petro dolar yang kaya raya. Namun mereka secara teknologi jauh tertinggal dibandingkan dengan Barat. Negara-negara petrodolar ini Kekuatan teknologi dan intelektualnya juga tidak bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat Islam secara umum ujarnya.

Baca Juga: Muslim Puritan Pembela Pancasila

Hal ini ia sampaikan dalam Tabligh Akbar Online Gema Kampus Ramadhan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Rabu (20/5). Tabligh Akbar Online tersebut mengambil tema Menegakkan Keadilan sebagai Sendi Utama Kehidupan.

Penjajahan Intelektual

Menurutnya Muhammadiyah sudah waktunya untuk membenahi masyarakat, dan yang harus dibenahi pertama kali adalah cara berpikir masyarakat. Ia memberi contoh Ali Syariati ketika sedang memberikan kuliah di salah satu kampus besar di Teheran. Para profesor yang turut hadir mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Syariati adalah resep yang sangat baik untuk kemajuan Iran.

Ali Syariati mengaku bahwa ia melakukan kontemplasi sendiri untuk menemukan resep itu. Setelah para profesor tadi tahu bahwa itu adalah pikiran otentik Syariati, mereka mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak bagus dan tidak membanggakan. Karena tidak berangkat dari pemikiran intelektual di Barat, berbeda dengan apa yang mereka katakan pertama kali. Ini adalah bentuk penjajahan intelektual.

Amien mengatakan kalau masyarakat masih mengekor Barat atau Timur secara intelektual, Indonesia tidak bisa mandiri. Melainkan hanya menjadi agen dari apa yang diikuti oleh masyarakat Indonesia tadi. Ia mengutip Sayyid Qutb yang mengatakan bahwa seorang muslim yang berpikir dan memahami Alquran.

****

Dia melihat berbagai ideologi dan mazhab berpikir bagaikan orang dewasa yang duduk di tempat yang tinggi melihat anak-anak kecil yang bermain-main di bawahnya. Ini menunjukkan betapa kecilnya berbagai pemikiran, dan begitu besarnya wahyu Allah yang akan memandu kita untuk mencari solusi bagi kemunduran umat Islam.

Sayyed Hossein Nasr mengatakan kelemahan negara-negara muslim adalah mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya ke Barat, kemudian ketika mereka pulang itu ibarat bibit padi yang digunakan untuk menanam lebih banyak padi.

Tapi justru bibit-bibit ini ketika pulang langsung menjadi beras, tidak bisa menjadi benih yang melahirkan intelektual yang lain. Dan ini justru melebarkan kesenjangan negara muslim dengan Barat, lanjutnya.

Keadilan dan Kedaulatan Indonesia

Amien menghitung ada delapan belas kata “adil” didalam UUD 1945. Namun yang terjadi adalah kedzaliman sosial. Ia menyampaikan data empat orang kaya di Indonesia kekayaannya melebihi seratus juta orang paling miskin. 10% orang Indonesia menguasai 80% aset kekayaan nasional.

Di sisi lain, mentalitas orang Indonesia adalah mentalitas yang tidak ada gairah untuk mandiri supaya duduk sama tinggi dengan bangsa lain, namun hanya bisa mengimpor gagasan dan mengimpor komoditas. Indonesia menempati urutan nomor lima dari bangsa-bangsa yang kesenjangan sosialnya paling tinggi.

Baca Juga: Tafsir Surat Lukman: Mendidik Anak ala Lukmanul Hakim

Bapak reformasi ini mengatakan jika Indonesia ingin membuat rute perjalanan pesawat di negaranya sendiri, mereka harus meminta izin kepada Singapura. “Kalau Singapura tidak mengizinkan ya sudah, kita tidak bisa membuka rute baru”, lanjutnya.

****

Ia membacakan Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Menurutnya tidak boleh ada seorang yang sangat kaya, di sisi lain ada orang yang miskin. Sedangkan kekayaan negara dibagikan kepada korporasi-korporasi asing seperti Freeport Mc Moran. Sehingga masyarakat semakin miskin dan orang asing semakin kaya.

Amien berpesan dua hal kepada peserta Tabligh Akbar. Pertama, benang emas Al-quran adalah keadilan. Kedua, jika ada Kitab Suci yang menggempur kesenjangan dan penumpukan komoditas, tidak ada yang sejelas Al-quran. Ini yang menyebabkan agama Islam terus relevan sampai kapanpun.

Reporter: Yusuf R Y

Terkait

Tags: Amien RaisIndonesiakesenjangan politik
Previous Post

Muslim Puritan Pembela Pancasila

Next Post

Dari Gus Dur: Menuju Toleransi dan Pluralisme sekaligus Cara Menempatkannya

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Sumber lustrasi: Okezone.com

Dari Gus Dur: Menuju Toleransi dan Pluralisme sekaligus Cara Menempatkannya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.