Melihat pergulatan Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024) yang kembali sedikit memberikan titik benderang bagi demokrasi di Indonesia. Karena pada Pilpres saat ini ada tiga Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Pertama Paslon nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Paslon 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, serta Paslon 03 yaitu Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Hal tersebut merupakan sebuah angin segar. Mengingat kita sudah menjalani 10 tahun dan dua kali Pilpres dengan hanya terdiri dari dua Paslon saja. Sehingga polarisasi dan konflik pasca Pilpres sangat kental dirasakan oleh masyarakat dalam tempo waktu yang lama pula.
Pada 10 tahun tersebut, telinga dan mata saya perih ketika melihat dan mendengarkan gagasan yang keluar dari kedua Paslon. Gagasan utopis dan naif yang tidak mengedepankan nilai pengetahuan dan empirisme.
Serta gaya dan model kampanye yang membosankan, tidak menyentuh hati generasi muda sama sekali, yang ada hanyalah branding sok milenial dari masing-masing Paslon yang justru membuat saya jijik melihatnya.
Meski kedua Calon Presiden adalah orang yang sama sejak 2014 dan 2019. Namun rivalitas keduanya tidak membuahkan hasil check and balances yang baik bagi demokrasi kita, tidak ada hubungan frienemies di antara pemerintah dan oposisi.
Keduanya malah tergabung dalam satu kabinet yang sama. Hal ini yang membuat ekspektasi dan idealisme saya terhadap demokrasi di Indonesia ini runtuh. Plot-twist seperti ini yang kemudian membuat saya paranoid dan su’uzon terhadap kontestasi Pilpres 2024 ini. Sehingga kita harus lebih mencermati dan membaca ketiga Paslon dengan lebih berhati-hati lagi dalam menentukan pilihan.
Saya mulai memperhatikan pola kampanye yang unik dari setiap Paslon, namun yang mencuri perhatian saya adalah Anies Baswedan. Beliau mendapatkan simpati dan dukungan publik yang masif karena publik menganggap bahwasannya Anis Baswedan menjadi sosok figur ayah atau lebih tepatnya kebapak-bapakkan pada siaran langsung di platform TikTok.
Hal tersebut juga membuat nama Anies Baswedan mencuat di platform media sosial X, hingga mendapatkan dukungan organik dari fan-base K-Pop secara sukarela hingga mereka membuatkan Anies Baswedan sebuah akun X yang khusus mendukung Anies Baswedan dengan branding khas K-Pop yaitu akun @aniesbubble.
Sejauh pengalaman saya, basis massa dari K-Pop di Indonesia sangat besar pengaruhnya. Karena kuantitas yang sangat banyak dan K-Pop di Indonesia jarang untuk campur tangan terkait dengan politik elektoral di Indonesia.
Fenomena ini saya tafsirkan sebagai sebuah wujud dari demokrasi organik. Di mana demokrasi sudah kembali pada sifat alaminya menurut Abraham Lincoln yaitu dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.
Secara tidak sengaja, Anies Baswedan telah mengaktifkan senjata paling penting dalam demokrasi yaitu dukungan rakyat organik. Tim sukses dari Paslon 01 tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan strategi kampanye lagi untuk menggaet suara yang lebih banyak.
Namun jangan sampai kemudian tim sukses dari Paslon 01 melupakan hal esensial yaitu gagasan. Karena Paslon 01 sudah cukup banyak memberikan gagasan yang empiris dan cenderung tidak terlalu utopis meskipun sifatnya tetap saja masih berupa janji dan wacana.
Jika melihat dari fenomena aksi 212 Anies Baswedan terduga memanfaatkan untuk kepentingan Pilkada DKI Jakarta, saya tidak sepenuhnya sepakat. Karena pada aksi tersebut tidak hanya merujuk pada kepentingan Pilkada DKI Jakarta saja, namun juga kepentingan lain yang salah satunya adalah Pilpres 2019.
Aksi 212 tentunya adalah fenomena yang berbeda berbanding dengan dukungan organik untuk Anies Baswedan di Platform X. Karena 212 itu ada bukan bertujuan utama untuk memenangkan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI. Namun titik berat dari aksi tersebut adalah untuk menuntut Basuki Tjahaya Purnama yang saat itu terduga melakukan penistaan agama.
Saat ini, Anies Baswedan mampu menggerakkan people power tanpa harus berusaha banyak, sehingga citra dari beliau di mata publik dapat dikatakan cukup layak sebagai Calon Presiden 2024.
Kampanye yang mengakar rumput seperti ini juga saya nilai mampu oleh seorang Ganjar Pranowo. Dengan melakukan kegiatan blusukan dan menginap di rumah-rumah warga sehingga kesannya sangat kental merakyatnya. Pilpres tahun ini memang bukan tentang memilih siapa yang lebih baik. Karena jujur saja menurut saya tidak ada yang paling baik di antara ketiga Paslon tersebut. Namun Pilpres 2024 ini adalah tentang memilih siapa yang lebih sedikit keburukannya.
Fenomena memilih siapa yang paling sedikit keburukannya di antara yang lain ialah sebagai lesser evil, yaitu memilih keburukan yang lebih baik di antara keburukan yang lain.
Namun sayangnya, klaim penganut lesser evil menjadi runtuh seketika saat Prabowo dan Sandiaga bergabung dalam kabinet Joko Widodo, hal ini menjadikan paham machiavellian sebagai landasan untuk bersikap pada Pilpres 2024 ini.
Agar kemudian lesser evil dapat tersingkirkan terlebih dahulu. Untuk mewujudkan adanya greater good atau melihat dari sisi kebaikan mana yang lebih besar sebagai sudut pandang dan landasan bersikap untuk Pilpres 2024 ini.
Penulis : Muhammad Qodri
Editor : Amad Syatori