Oleh: Irawan
Istilah milenial dewasa ini menjadi salah satu tema yang menarik untuk dibahas baik dalam diskusi, ceramah, seminar, topik majalah bahkan sebagai objek penelitian. Secara definisi konseptual istilah milenial ditujukan pada generasi manusia yang lahir pada tahun 1982 hingga sekitar 20 tahun setelahnya yang mana usianya sekarang berkisar 16-36 tahun
Di negara ini proporsi generasi milenial sekitar 34, 45 persen. Dari kisaran seluruh penduduk di Indonesia yang sekitar 250 jutaan, sepertiganya diisi oleh generasi milenial yang mana nasib wajah Indonesia kedepan tergantung pada visi, interaksi dan nilai nilai yang diserap generasi sekarang sebagai pemangku estafet kepemimpinan bangsa kedepan
Corak Toleransi Muslim Milenial
Toleransi merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh manusia dalam bersosial. Dalam bahasa Arab toleransi disebut dengan istilah tasamuh yang berarti sikap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat. Perbedaan pemikiran dan segala keunikan di setiap individu manusia. Namun sikap toleransi ini di setiap masa beda orangnya, beda masalahnya pun beda corak paradigma berpikirnya.
Corak toleransi muslim milenial sekarang sangat dipengaruhi akan massifnya penggunaan media digital seperti facebook, youtube, instagram, whatsaap dan lain sebagainya. Hal itu membuatnya semakin mudah dalam memperoleh informasi secara inklusif, baik informasi terkait masalah sosial, politik, budaya dan keagamaan yang membuat mereka memiliki pandangan tersendiri terhadap isu aktual.
Baca Juga: Sayyed Hossein Nasr & Nestapa Manusia Modern
Akibatnya menghadapkan agama dengan nilai-nilai praktik demokrasi dan kewargaan yang dijalankan di Indonesia. Seperti memahami konsep keragaman, toleransi, kebebasan individu dan nilai-nilai HAM.
Singkatnya wawasan dan pengalaman muslim milenial sekarang ditentukan oleh jenis informasi keagamaan, sosial dan politik yang meraka dapat sehari-hari. Ketika mereka melakukan proses pencarian maupun yang disediakan oleh informan di media digital.
Paradigma Toleransi Kaum Muda Milenial
Juga berdasarkan hasil riset center the study of religion culture (CRSC) yang dilakukan pada September 2017-Januari 2018 menyatakan bahwa paradigma toleransi kaum muda muslim milenial cenderung menerapkan model toleransi yang lebih komunal skriptural.
Maksudnya toleransi ini didasarkan pada ajaran agama dengan karakteristik mengedepankan hak kolektif atas hak individual. Dalam artian bahwa mereka lebih memilih mengikuti ajaran agama dan tunduk pada nilai-nilai sosialnya.
Mudahnya, seseorang yang menerapkan model toleransi komunal scriptural akan selalu menurut apa yang diajarkan agama secara tekstual tanpa mempertimbangkan substansi-substansi di dalamnya. Sebagai contoh baru saja kemarin pergantian Tahun Baru Masehi dan perayaan Tahun Baru Imlek.
Dengan berdasar hadist“barang siapa mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut” karena hadist ini, mereka menjadi bersikap menghindari atau menolak jika diajak kawannya untuk menghadiri perayaan tahun baru tersebut. Karena takut imannya goyah, atau takut di anggap kafir.
Menanggapi hal ini, penulis meminjam pernyataan Cohen dalam tulisannya “what the toleration is?” menyatakan bahwa bertoleransi terhadap suatu pemikiran atau keyakinan yang berbeda atau bahkan bertentangan tidak serta merta berarti menyetujui atau mendukung hal itu.
Dengan kata lain, ketika seorang muslim turut memeriahkan atau mengikuti perayaan yang bersifat sosial tersebut bukan berarti setuju. Bisa jadi ia mengedepankan nilai-nilai filosofis, sosial atau kemaslahatan dari hubungan antar umat beragama manusia di bumi ini.
Pesan Agama Perdamaian
Sebab penulis yakin bahwa sejatinya setiap agama bertujuan untuk membawa kedamaian bukan kehancuran, membawa perlindungan bukan penindasan dan yang terpenting membawa rahmat bukan membawa laknat.
Adapun pesan agama perdamaian di sini, penulis ingin kembali mengajak flashback pada syair yang sempat viral pada tahun 2019, yaitu syair “Deen Assalam” musik arabian yang di cover oleh grup musik sabyan gambus yang pernah menjadi trending topic di youtube, dengan jumlah penonton sampai saat ini mencapai 265 juta orang.
Di balik alunan suara Nissa Sabyan yang merdu dan latar video yang syahdu menjadi daya tarik penonton. Jika kita analisis lagu tersebut secara mendalam, kita akan mendapatkan pesan-pesan substansi dari syair yang mengajarkan kita untuk bersikap welas asih serta menghargai ke-egaliteran martabat manusia dan lebih mengedepankan rasa cinta.
Baca Juga: Sebenarnya Al-Qur’an Menganjurkan Tidak Berpoligami
Di syair pertama,“killahadzil ardh maatak fi masaahah lawna’ isibla samaahah (seluruh bumi akan terasa sempit jika tanpa toleransi)”. Toleransi sebagaimana di jelaskan di atas adalah sikap menghargai perbedaan dan secara primordial kita semua sama. Yaitu ciptaan Tuhan yang sebaik-baiknya. Di sinilah pentingnya untuk tidak merasa paling baik atau unggul dari orang lain sehingga tidak menimbulkan kesempitan dalam berpikir.
Karena dengan mengedepankan toleransi kita menjadi lebih luas dalam berpikir. Dengan tidak mencari siapa yang paling baik lalu memaksakan kehendak kepada yang lain. Namun hendaknya kita mencari apa yang baik dari mereka dan mereka mencari apa yang baik dari kita. Sehingga kita dapat menambah sudut pandang kebaikan keragaman kita masing-masing
Toleransi dan Terbuka
Kedua, ”wanta’ayyasna behub law tadhihil ardhi nasykan kalli qolb (namun jika hidup dengan perasaan cinta meski bumi sempit kita tetap bahagia)”. Dari syair kedua ini menyiratkan makna akan puncak dari sikap kebaikan dari toleransi adalah rasa cinta. Karena cinta merupakan sikap kebijaksanaan tertinggi yang diberikan dari Sang Maha Cinta kepada manusia.
Merupakan energi terbesar yang dimiliki manusia untuk melestarikan kedamaian antar sesama manusia. Karena rasa cinta, sebesar apapun masalah. Ego diri menjadi terlupakan demi kebahagiaan bersamapun karena cinta negeri ini dimerdekakan. Sebagaimana para pahlawan nasional, mereka rela mengorbankan nyawanya demi tanah air tercinta.
Baca Juga: Kegelisahan KH Ahmad Dahlan Terhadap Dialog Lintas Iman
Ketiga,”abtahiyya wabsalam ansyuru wahlan kalam zainudin yahtirom, ammahabbah wabtisamm, ansyaru bainil anam hadha huu deen assalam (melalui perilaku mulia dan damai sebarkanlah ucapan yang baik hiasilah dunia dengan sikap yang hormat dengan cinta dan senyuman di antara insan. Inilah Islam agama perdamaian)”. Di bait terakhir ini secara eksplisit mengajak kita untuk berperilaku yang mencerminkan agama Islam adalah Agama Perdamaian.
Penulis yakin jika ketiga pesan tersebut mampu kita terapkan bagi umat beragama di Indonesia maka konflik yang mengatasnamakan agama akan mereda. Sebab dengan mengedepankan toleransi, kita tidak mudah menjustifikasi suatu pendapat dengan tidak mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tapi yang perlu kita cari adalah apa yang benar dan apa yang salah. Sehingga dapat memperkaya sudut pandang kita akan keragaman dalam keagamaan dan juga politik maupun budaya. Sehingga menimbulkan suasana kedamaian dalam berwarga negara dan merawat keharmonisan antar manusia.
Penulis merupakan mahasantri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran
Sumber Ilustrasi: youtube.com