Oleh: Jihan Kharisma Hidayatulloh (Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS)
Belajar tafsir Al-Qur’an selalu menjadi salah satu jalan penting untuk memahami pesan Ilahi secara mendalam. Sejak dulu, tafsir dipelajari dengan cara yang khas, mulai dari membuka kitab tebal, mendengarkan penjelasan guru, lalu mencatat dengan teliti. Suasana ini terasa sakral, penuh kesungguhan, dan mengajarkan adab ilmu. Namun, zaman telah berubah. Kehadiran teknologi membuat cara kita belajar ikut bergeser. Kini, tafsir tidak hanya ditemukan di rak-rak perpustakaan atau ruang pengajian, tetapi juga hadir dalam layar gadget yang selalu ada di genggaman. Perubahan ini memunculkan pertanyaan menarik, apakah peralihan dari kitab ke layar membuat pembelajaran tafsir menjadi lebih mudah, atau justru menjauhkan kita dari ruh keilmuan?
Perubahan cara belajar tafsir dapat kita lihat dari beberapa aspek. Pertama, aksesibilitas ilmu. Jika dulu orang harus memiliki kitab tebal seperti Tafsir al-Jalalain atau Tafsir Ibnu Katsir untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an, sekarang cukup membuka aplikasi atau website, tafsir sudah bisa dibaca dalam hitungan detik (Nurrohim, n.d.). Bahkan, ada platform digital yang menyediakan tafsir dalam berbagai bahasa, lengkap dengan audio dan video penjelasan (Afifah et al., 2025). Hal ini tentu sangat membantu, terutama bagi generasi muda yang terbiasa dengan gaya belajar cepat dan praktis.
Kedua, metode penyampaian. Guru-guru tafsir klasik menggunakan lisan, ceramah, dan catatan untuk mentransfer ilmu. Di era digital, penyampaian bisa dilakukan melalui kelas daring, podcast, atau video singkat yang interaktif. Misalnya, seorang ustadz dapat membuat seri kajian tafsir di YouTube dengan visualisasi menarik sehingga ayat-ayat tidak hanya dipahami secara teks, tetapi juga divisualisasikan dengan gambar dan animasi. Hal ini membuat proses belajar terasa lebih hidup dan relevan dengan gaya hidup masa kini.
Ketiga, keterlibatan aktif pembelajar. Belajar tafsir lewat kitab terkadang membuat sebagian orang kesulitan, karena bahasa Arab klasik atau istilah-istilah ilmiah sering terasa berat. Dengan teknologi, pelajar bisa langsung mencari arti kata, membandingkan tafsir dari berbagai ulama, bahkan berdiskusi di forum online. Proses ini membuat pembelajar lebih aktif, kritis, dan terlibat dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.
Meski begitu, ada pula tantangan besar. Kualitas pemahaman menjadi salah satu masalah utama. Tidak semua sumber digital dapat dipercaya (Gea et al., 2025). Ada aplikasi atau situs yang mengambil tafsir secara potongan tanpa penjelasan konteks, sehingga rawan menimbulkan salah paham. Di sinilah pentingnya bimbingan guru atau ustadz yang kompeten. Layar bisa menjadi pintu masuk ilmu, tetapi tetap butuh pendampingan agar pemahaman tidak melenceng.
Selain itu, fokus dan adab belajar juga perlu diperhatikan. Membaca kitab tafsir di hadapan guru biasanya membuat murid lebih khidmat dan serius. Berbeda dengan belajar lewat layar, yang seringkali dilakukan sambil membuka media sosial atau aktivitas lain. Akibatnya, ruh penghayatan bisa berkurang. Maka, meskipun cara belajar berubah, sikap rendah hati dalam mencari ilmu tetap harus dijaga.
Contoh sederhana bisa kita lihat pada mahasiswa yang memanfaatkan teknologi untuk mendalami tafsir. Ia bisa menonton video kajian singkat di YouTube tentang tafsir surat tertentu, lalu memperdalamnya dengan membaca kitab digital yang tersedia gratis di internet. Setelah itu, ia berdiskusi dengan guru atau ustadz lewat kelas daring. Dengan cara ini, ia tidak hanya mengandalkan satu sumber, tetapi memadukan teknologi dan bimbingan ilmiah. Hasilnya, ia mendapat pemahaman yang lebih utuh.
Agar pembelajaran tafsir melalui layar tetap bermanfaat, ada beberapa tips praktis yang bisa diterapkan. Pertama, pilih sumber yang kredibel, misalnya aplikasi atau website resmi yang jelas mencantumkan rujukan kitab. Kedua, biasakan mencatat poin penting meski belajar dari layar, supaya ilmu tidak hanya lewat begitu saja. Ketiga, atur waktu belajar dengan serius, jangan sambil membuka media sosial lain. Keempat, jangan ragu untuk bertanya langsung kepada guru atau teman diskusi agar pemahaman tidak berhenti pada satu arah.
Jika tips sederhana ini diterapkan, layar tidak lagi sekadar alat hiburan, tetapi bisa berubah menjadi ruang belajar yang penuh berkah. Justru teknologi dapat membantu menghadirkan Al-Qur’an lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari (Maharani et al., 2024). Kita tidak lagi menunggu jadwal khusus untuk membuka kitab tafsir, tetapi bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja.
Sebenarnya, peralihan dari kitab ke layar bukanlah bentuk meninggalkan tradisi, melainkan bentuk pengembangan metode belajar (Budi et al., 2024). Kitab tafsir tetap menjadi sumber utama, sedangkan layar berfungsi sebagai jembatan agar ilmu itu lebih mudah dijangkau oleh siapa saja. Dengan cara ini, tradisi ilmiah klasik tetap hidup, hanya saja disajikan dengan bentuk baru yang lebih sesuai dengan zaman.
Yang perlu kita ingat, belajar tafsir bukan hanya soal memahami makna kata atau kisah di balik ayat, tetapi juga soal bagaimana ayat itu mengubah diri kita. Baik melalui kitab maupun layar, tujuan akhirnya tetap sama, menghadirkan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun langkah hidup. Maka, teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti ruh ilmu.
Perjalanan belajar tafsir dari kitab ke layar adalah cermin perubahan zaman yang tidak bisa dihindari. Dari kitab tebal yang penuh coretan hingga layar ponsel yang menyala, keduanya memiliki nilai dan peran masing-masing. Kitab menghadirkan kedalaman dan tradisi, sementara layar menawarkan kemudahan dan jangkauan luas. Keduanya bisa berjalan berdampingan jika kita bijak menggunakannya.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan di mana kita belajar tafsir, tetapi bagaimana kita menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari (Nurrohim, n.d.). Layar boleh menyala, kitab boleh terbuka, tetapi hati kitalah yang menjadi wadah utama bagi tafsir sejati. Selama niat kita lurus, belajar tafsir dengan cara lama maupun cara baru tetap akan membawa kita pada satu tujuan, yaitu semakin dekat dengan Allah dan semakin kokoh dalam menjalani hidup.
Editor: Astyra Gita Kinanti