Oleh: Aisyah Heba Sonia Muna
“Jika cinta memiliki wujud, akankah itu seperti benang kasihmu, ibu?”
Ada yang bilang, cinta pertama manusia adalah suara detak jantung.
Bukan dari pelukan pertama temanmu apalagi kekasihmu, tapi dari ruang rahim yang gelap dan tenang, dimana indah irama yang teratur itu menjadi pengantar tidur yang paling sempurna. Itulah mengapa, mungkin, jiwa kita selamanya terpaut padanya, pada indah irama yang membuatmu rindu.
Aku menuliskan ini untukmu, mamak, dibawah kipas yang mendesing pelan, ratusan kilometer dari tempatmu membereskan rumah pagi ini.
Disini, aku memang belajar menjadi orang dewasa yang mandiri dan kuat.
Namun apa kau tahu, mamak? Dihadapanmu, aku akan selamanya menjadi bayi kecilmu yang selalu belajar memeluk dunia.
Dapur Mamak Is The Best!
Menurut penelitian dalam bidang psikologi dan neurosains, indra penciuman memiliki hubungan yang kuat dan ‘langsung’ dengan memori jangka panjang dan emosi dibandingkan indra-indra yang lainnya.
“Sistem penciuman unik di antara sistem sensorik lainnya karena memiliki koneksi anatomis langsung ke sistem limbik, yang merupakan pusat emosi otak dan mencakup struktur seperti amigdala dan hipokampus yang penting untuk pemrosesan emosi dan pembentukan memori jangka panjang. Sebaliknya, modalitas sensorik lainnya (misalnya, penglihatan, pendengaran) harus terlebih dahulu melewati talamus dan area pemrosesan kortikal sebelum mencapai sistem limbik, sehingga asosiasi emosional dan mnemoniknya menjadi lebih tidak langsung dan kurang kuat. Hubungan langsung ini menjelaskan mengapa bau dapat membangkitkan ingatan yang jelas dan tak sadar serta respons emosional yang kuat, yang seringkali melewati kendali sadar.” (R.S. Herz, 2016.)
Jika kenangan punya aroma, itu berarti masa kecilku beraroma bumbu-bumbu yang setiap pagi engkau tumis didapur dengan wajan kesayanganmu, mamak. Engkau adalah alkemis hebat yang menyulap bumbu-bumbu menjadi sihir di atas piring untuk amunisiku sebelum bertempur setiap hari. Ingatkah mamak dengan tangan mungilku yang diam-diam mengambil sepotong dua potong lauk sebelum semua orang datang ke meja makan? Waktu itu, mamak selalu pura-pura marah dengan mata yang tertawa. Dan, aku mengerti bahwa melalui rasa dan senyum yang kau sembunyikan, cinta dapat terasa begitu hangat.
Tidak hanya dapur, mamak juga punya perpustakaan lisan yang tak terbatas. Ingatkah mamak ketika lampu kamar sudah redup dan aku menanti ceritamu yang fantastis? Kau akan bercerita tentang semua ingatan masa kecil, bersama teman-teman sebaya memanjat pohon jambu didepan rumah, berenang di sungai, dan bermain petak umpet. Ketika itu, suaramu adalah mantra nina bobo yang membawaku menyelami luasnya negeri impian, menyadarkanku bahwa ceritamu bukan sekadar lagu nina bobo pengantar tidur, melainkan benih imajinasi, keberanian, dan kebaikan yang kau coba tanamkan dengan lembut kedalam jiwaku.
Pelukan Mamak Is The Best!
Studi dalam jurnal Psychological Science mengungkapkan bahwa pelukan, terutama dari orang yang dicintai, dapat secara signifikan mengurangi tingkat stres dan memberikan dukungan psikologis yang nyata, bahkan dapat mencegah seseorang dari sakit akibat stres.(M.L Murphy, 2018)
Aku ingat betul saat pertama kali jatuh dari sepeda. Lututku berdarah, dan rasanya, dunia seperti akan kiamat! Tahu tidak? Mamakku sudah ada di sana, tergopoh menghampiriku yang hampir menumpahkan air mata karena saking cengengnya aku. Apa kau tahu, mamak? Saat itu, pelukan hangatmu datang lebih cepat daripada flash dan daripada rasa sakit yang kurasakan saat itu. Didalam dekapanmu, semua rasa takut itu lenyap tak bersisa, seperti api yang tersiram air, tergantikan oleh benteng hangat dan kokohmu yang selalu melindungiku.
Kau tidak selalu punya kata-kata mutiara. Terkadang kau hanya diam, membiarkanku yang imut ini menangis, kemudian mengelus punggungku pelan. Dalam diam itu, aku tahu, kau tengah mengajarkan padaku sebuah kebenaran mendalam, bahwa cinta tak selalu butuh kata-kata. Cinta bisa hadir dalam keheningan, menemani pemiliknya dalam kesunyian panjang yang tak berujung.
DIamnya Mamak Dan Tawanya Yang Hangat
Tidak semua pelajaran dari mamak disampaikan dengan wejangan panjang, lho. Seringkali, yang paling membekas adalah yang tak terucap.
Apakah kau tahu, mamak? Aku belajar segalanya darimu. Tentang kerja keras yang tidak akan dapat dirasakan oleh jiwa yang bermalas-malasan, tentang ketekunanmu dalam membesarkanku hingga sampai pada titik ini, dan, tentang rasa syukur dari setiap hal- hal kecil yang kau dapat.
Aku melihatmu, mamak, saat jarum jam masih ada pada posisi diantara angka dua dan tiga, lewat celah pintu yang tidak tertutup rapat, ujung sajadah tempatmu bersimpuh pada Tuhan.Aku memang tidak sepenuhnya tahu hal-hal apa saja yang terselip dalam doamu.
Tapi mamak, sejak saat itu, aku tahu bahwa aku tidak pernah melangkah sendirian.
Dan hebatnya, ditengah semua kesibukan dan kelelahanmu, kau masih punya cadangan tawa yang begitu hangat. Saat kau tertawa lepas karena leluconku yang tidak konyol, atau saat kita berdua tergelak melihat kucing pungutan adikku yang mengejar ekornya sendiri, di situlah aku melihatmu bukan hanya sebagai seorang ibu, tapi sebagai seorang manusia yang utuh, cantik, dan kuat.
Bahwa tawamu mengajarkanku, betapapun beratnya hidup, ruang untuk sukacita itu selalu ada.
Aku Mencintaimu, Mamak.
Mamak, mungkin di hadapanmu, aku memang malu untuk mengatakannya langsung. Tapi melalui tulisan ini, izinkan aku bersuara, ya?
Aku mencintaimu, mamak.
Aku mencintaimu lebih dari kata-kata mana pun yang bisa mengungkapkannya.
Cintaku padamu adalah cinta yang belajar berdiri di atas kaki sendiri, karena kau yang mengajarkannya. Cinta yang berani bermimpi, karena kau yang mempercayainya. Cinta yang suatu hari nanti, aku janji, akan kubawa pulang untuk menjagamu seperti kau menjagaku.
Terimakasih ya, mamak, atas segalanya yang telah kau berikan padaku. Karena bagaimanapun hebatnya aku di luar sana, rumahku yang sebenarnya adalah di pelukanmu.
Editor: Arsy Sekar Kemuning