Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Cara Membaca dalam Pergantian Surah Menurut Qira’at Imam Sab’ah

RedaksiKS by RedaksiKS
Mei 27, 2023
in Tafsir
0
Kitab Suci
186
SHARES
1.1k
VIEWS

Al-quran diturunkan dengan tujuh huruf (sab’atu ahruf). Tujuh huruf (sab’atu ahruf) dalam suatu hadis dijelaskan bahwa mengandung banyak penafsiran. Karena lafaz sab’ah dan lafaz ahruf memiliki beberapa arti.

Lafaz sab’ah bisa diartikan bilangan tujuh, sedangkan lafaz ahruf adalah bentuk jamak dari kata harf yang berarti satu huruf hijaiyah, wajah, kata. Jadi ahruf diartikan sebagai beberapa huruf, atau beberapa wajah.

TulisanTerkait

Pendidikan Karakter ala Luqman al-Hakim

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi

Tafsir atau Opini? Mengapa Kita Tak Boleh Sembarangan Mengartikan Ayat

Oleh karena itu, qira’at sab’ah atau qira’at tujuh bermakna bahwa Al-quran tidak diturunkan dalam satu bentuk bacaan. Melainkan dalam beberapa bentuk bacaan . jadi sab’atu ahruf disebut juga dengan qira’at sab’ah.

Dikarenakan tujuh imam ini bacaannya masyhur, yang masing-masing imam memiliki dua orang murid yang biasa disebut dengan perawi. Bacaan imam tujuh ini tidak ada salah, dikarenakan sesuai dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.

Rasulullah mengajarkan kepada para imam-imam ini sesuai dengan daerahnya, oleh karena itu bacaan imam-imam tujuh ini ada yang berbeda.

Ketika membaca Al-quran tidak lepas dari kata waqaf dan washal. Waqaf dan washal ini dalam qira’at imam tujuh terdapat cara yang unik pada saat membacanya. Yang umum di kalangan masyarakat hanya qiraatnya Imam ‘ Hafs riwayat Imam ‘Ashim, sebenarnya masih ada bacaan imam-imam yang lain, setiap imam memiliki bacaan yang berbeda-beda.

Maksudnya adalah cara membaca dalam ayat terakhir suatu surat dengan awal surat lain (pergantian surah). Imam tujuh memiliki 5 macam cara membaca (wajah) dalam pergantian surah. Yakni, qat’u al-jami’ (memutus semuanya), qat’u awwal wa washlu ats-tsani (memutus yang pertama dan menyambung yang kedua), washlu al-jami’ (menyambung semuanya), washlu (menyambung)dan saktah (berhenti sejenak tanpa mengambil nafas).

Tidak semua imam tujuh menggunakan 5 cara tersebut. Imam Qolun, Ibnu Katsir, ‘Ashim dan Imam ‘Ali Al-Kisa’i menggunakan 3 cara, yaitu qat’u al-jami’, qat’u awwal wa washlu ats-tsani, dan washlu al-jami’.

Sedangkan Imam warsy, Abu Amr, Ibnu Amir, dan Hamzah menggunakan 5 cara, yaitu qat’u al-jami’, qat’u awwal wa washlu ats-tsani, washlu al-jami’, al-washlu, dan saktah tanpa basmalah.

Maksudnya itu bacaan yang menggunakan 3 cara itu menggunakan “basmalah”, sedangkan yang menggunakan 5 cara itu tanpa menggunakan “basmalah”.

Pertama Qat’u Al-Jami’. Cara yang pertama ini memutuskan atau mewaqafkan semuanya. Contoh: surah al-baqarah dengan surah al-fatihah. Pada ayat terakhir surah al-fatihah terdapat lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡنَ, dan awal  surah al-baqarah adalah lafaz الٓمّٓ.

Cara membacanya adalah waqaf pada lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡن, kemudian di lanjut membaca lafaz بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيم lalu waqaf kemudian di lanjut membaca lafaz الٓمّٓ. Lebih jelasnya seperti ini: {} الٓمّٓ {وقف}بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمْ {وقف} وَلَا الضَّآلِّيۡنْ

Kedua Qat’ul Awwal Wa Washlu Ats-Tsani. Cara yang kedua ini berbeda dengan cara yang pertama, cara yang pertama mewaqafkan semuanya sedangkan cara yang kedua itu mewaqafkan pada ayat terakhir kemudian mewashalkan yang kedua (bacaan setelahnya). Contohnya masih sama menggunakan surah al-fatihah dengan surah al-baqarah.

Cara membacanya adalah waqaf setelah lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡن, kemudian di lanjutkan membaca بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ di sambung dengan lafaz الٓمّٓ, jadi pada saat membaca بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ itu tidak mewaqafkannya melainkan di baca washal dengan cara melafalkan harakat kasrah pada huruf mim dan di sambung dengan lafaz الٓمّٓ. Lebih jelasnya seperti ini:

{} الٓمّٓ {وقف}بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  وَلَا الضَّآلِّيۡنْ

Ketiga Washlu Al-Jami’. Cara membacanya adalah menyambung semuanya, maksudnya adalah pada saat membaca lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡنَ, harus melafalkan harakat fathah pada huruf nun kemudian di sambung lafaz بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dengan melafalkan harakat kasrah pada huruf mim dan di lanjut dengan menyambung lafaz الٓمّٓ.

Jadi cara yang ketiga ini di perlukan nafas yang panjang, di karenakan cara membacanya di washal semuanya. Berikut ini adalah rinciannya:

{} الٓمّٓ بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Keempat Al-Washlu. Washlu pada cara yang keempat ini berbeda dengan washlu pada cara yang kedua dan ketiga, di karenakan cara  yang kedua dan ketiga  menggunakan lafaz بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ, sedangkan pada cara yang keempat ini tanpa menggunakan بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ.

Jadi pada saat membaca lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡنَ, di larang mewaqafkannya. Melainkan harus melafalkan harakat fathah pada huruf nun, di karenakan washal. Kemudian di lanjut dengan membaca lafaz الٓمّٓ , tanpa membaca lafaz بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. Jika di rinci maka menjadi seperti berikut:

{} الٓمّٓ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Kelima Saktah. Cara yang kelima berbeda dengan yang cara-cara sebelumnya, di karenakan cara bacanya adalah dengan cara saktah atau berhenti sejenak tanpa mengambil nafas. Jadi cara membacanya yaitu berhenti sejenak.

Pada saat selesai membaca lafaz وَلَا الضَّآلِّيۡنَ, maka langsung di sambung dengan membaca lafaz الٓمّٓ, tanpa membaca lafaz بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. Lebih jelasnya  seperti berikut:

{} الٓمّٓ {سكتة} وَلَا الضَّآلِّيۡنْ

Penulis : Zain Ali Mughni (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Konser Coldplay, Apakah Termasuk Politik Orientalisme ?

Next Post

Hermeneutika Al-Qur’an: Pendekatan Hermeneutik Muhammad Arkoun

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
sumber : kompasiana

Hermeneutika Al-Qur'an: Pendekatan Hermeneutik Muhammad Arkoun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.