Belenggu Corona dan Qorina

Pagi hingga petang, sadar hingga tidur, terjaga hingga terlelap dan nyata maupun maya, hari-hari kita saat ini masih disibukkan dengan makhluk super kecil yang oleh manusia dinamai Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) atau biasa saat ini dipanggil Corona. Takut, cemas, panik, sedih, gundah, was-was dan curiga bercampur dengan harapan. Agar Corona segera dapat dikendalikan dan segera hengkang dari Indonesia dan dunia.

Adalah beragam ekspresi yang silang-sengkarut saling bergantian muncul dari dalam diri kita. Ya, kita, manusia, satu makhluk yang benar-benar merasa terganggu dengan lahirnya Corona di dunia. Yang di dunia yang sama pula telah beribu tahun sebelumnya manusia dilahirkan, tinggal, berkembang biak dan menguasai serta membantai makhluk-makhluk lainnya.

Data yang Bicara

Sejak pertama kali kemunculannya sampai sekarang, Corona telah benar-benar membuat manusia seolah lumpuh dan tak berdaya. Mengutip info berita tentang update Corona pada laman kompas.com tanggal 23 Maret 2020. Corona telah menyerang tak kurang dari 342.407 ribu manusia di dunia, 14.753 diantaranya berakhir dengan kematian.

Di Indonesia sendiri terdapat 579 orang yang positif dihinggapi Corona dengan 49 di antaranya meninggal dunia. Bagai bola salju yang menggelinding, semakin hari Corona semakin besar dan meluas. Menyebar dan meneror tanpa mampu ditaklukan.

Corona yang meski berukuran sangat kecil, namun mampu mengoyak segala keangkuhan, kebesaran dan kedigdayaan umat manusia yang selama ini terus menerus dikampanyekan. Sekolah diliburkan, toko dan pabrik tutup, masjid dan tempat ibadah dikosongkan bahkan negara-negara super power pun dibuat panik dan kebingungan menghadapi makhluk yang sangat kecil ini.

Kilas Balik Zaman Kenabian

Kita tentu masih ingat dengan kisah Nabi Ibrahim. Di mana nyamuk yang kecil adalah sebab tumbang dan terkalahkannya segala kesombongan, kedigdayaan, dan keangkuhan tirani Raja Namrud yang besar. Dan Allah tidak malu dengan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau bahkan yang lebih kecil dari itu (innallaha la yastahyii an yadhriba matsalammaa ba’udhotan famaa fawqoha). Corona adalah makhluk yang entah berapa ratus atau ribu kali lebih kecil dari nyamuk.

Baca Juga: Islam Jawa Islam Jabbariyah

Corona menghantui setiap manusia. Hingga manusia menjaga jarak dengan manusia lainnya. Tetangga curiga terhadap tetangga lainnya saudara menjaga jarak dengan saudara lainnya. Bahkan bisa jadi suami akan menjauhi istrinya dan anak akan mengisolasi ibunya. Corona telah menjauhkan yang dekat dan tak pernah mendekatkan yang jauh.

Ia kita curigai ada di pasar, ada di sekolah, swalayan, kantor-kantor pemerintahan, masjid, angkutan umum. Bahkan ia kita curigai ada di rumah, di jendela dan gagang pintu kamar kita. Terlebih bahkan kita cemas jangan-jangan ia berada di atas ranjang tempat kita terlelap tidur. Corona seolah-olah berada sangat dekat dengan kita.

Setiap kali kita pergi, kita diminta untuk waspada dan hati-hati, sebab mungkin saja Corona menemani setiap langkah dan aktifitas kita. Ia bagai “teman terburuk” yang menghantui hidup kita akhir-akhir ini.

Untuk Kita Renungan

Mengenai “teman terburuk” sebenarnya Allah telah memperingatkan manusia, namun seperti halnya peringatan-peringatan lainnya, manusia sering lalai dan mendustakan peringatan tersebut (maka peringatan Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan).

Dalam bahasa Al-Qur’an, surat An-Nisa ayat 38, pada ujung ayat tersebut Allah menyebut teman yang sangat buruk sebagai saa a qoriina (saa a: sangat buruk, qoriina: teman dekat). Saa a qoriinaa adalah setan yang oleh manusia dijadikan sebagai teman dekat (qorina). Teman terburuk yang terus menggoda manusia untuk terjerumus dalam keangkuhan dan kesombongan tidak lain adalah setan.

Seperti halnya setan yang akan berusaha menjadi sedekat mungkin dengan manusia, hari-hari ini kita disibukkan dengan Corona yang seolah-olah berada sangat dekat dengan kita. Tak ubahnya seperti teman dekat (qorina) yang menemani setiap aktifitas kita.

Persamaan “Setan” dan Corona

Saat ini, Corona telah menjelma menjadi saa a qorina, teman dekat yang sangat buruk. Karena menanamkan kepada kita rasa cemas, takut, khawatir, was-was dan merugikan segala aktiftas kehidupan kita. Selain itu keduanya baik setan yang merupakan saa a qorina dan wabah Corona sama-sama makhluk Allah yang tak kasat mata.

Baca Juga: Toleransi Bukan “Pluralisme Agama”

Setan tak nampak karena kelembutannya, sedangkan Corona tak dapat dilihat karena ukurannya yang kecil. Oleh sebab sifatnya yang tak kasat mata tersebut, manusia selalu dibuat was-was dan takut kalau-kalau di sekitarnya ada saa a qorina (setan) maupun Corona.

Lantas golongan manusia yang seperti apakah yang menjadikan setan sebagai qorina. Ayat tersebut menjelaskan mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ingin dilihat dan dipuji orang lain (riya’). Serta orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada hari akhir (walladzi na yunfiquuna amwaalahum ri aaa annasi wa laa yu’minu billahi wa laa bil yaumil aakhiri).

Corona dan Kerusakan Alam

Corona agaknya hari-hari ini benar-benar menjadi saa a qorina (teman yang sangat buruk), yang menemani dengan setia setiap aktifitas kita. Pertanyaannya adalah mengapa Corona makhluk super kecil ini, dilahirkan di saat sekarang ini?

Jika setan adalah saa a qorina bagi orang-orang yang riya’ dalam berinfak, enggan beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka bagaimana dengan Corona? Perilaku apa yang menjadi sebab Allah mengutus Corona di tengah-tengah kita? Kerusakan di darat dan di laut (bumi) adalah sebab ulah tangan (perbuatan) manusia (dzhoharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydinnaas).

Apakah sebab perilaku kita yang selalu berorientasi kepada dunia dalam setiap aktifitas, pekerjaan dan kesibukan kita? Atau karena hasrat kita akan jabatan, harta, ketenaran dan popularitas yang menjadi motif dalam setiap laku kehidupan kita? Atau karena perilaku kita yang menomorduakan Tuhan atau bahkan meniadakan-Nya?

Baca Juga: Pesan Buya Syafii Hadapi Covid-19

Atau karena keraguan kita akan adanya hari akhir (akhirat) sehingga membuat kita rakus dan tamak, menghancurkan bumi tempat kita tinggal. Menghisab habis kekayaan yang ada di dalamnya. Memusnahkan makhluk-makhluk lain yang telah terlebih dahulu tinggal di atasnya. Dan bahkan dengan mudah membunuh sesama manusia demi kepentingan materi semata.

Atau karena sikap kita yang menutup rapat telinga kita dari rintihan orang-orang miskin dan memalingkan wajah kita dari tangisan anak-anak yatim? Benarkah segala sikap dan cara berpikir kita yang tamak, rakus, ujub, kikir, riya, amoral dan materialistik tersebut adalah saa a qorina yang telah mewujud menjadi Corona dan menemani kita hari-hari ini?

Sucikan Lahir dan Batin

Tak ada yang tahu, apakah Corona adalah wujud dari saa a qorina. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus bermuhasabah dalam uzlah 14 hari ini dan menghadirkan Allah dalam setiap solusi untuk menghadapi Corona. Lock down, social distancing, work from home adalah beragam ikhtiar yang kita lakukan untuk menghentikan serangan Corona. Para ilmuwan menganjurkan kita untuk selalu menjaga kebersihan diri di manapun berada. Kita juga dianjurkan untuk sesering mungkin mencuci tangan.

Selaras dengan hal tersebut dalam Islam kita disunnahkan untuk membersihkan dan menyucikan badan kita dari segala najis dan kotoran dengan air wudhu. Termasuk diharapkan dengan menjaga wudhu tersebut badan kita akan terbebas dari virus Corona.

Namun yang tidak kalah penting adalah kita juga mesti membersihkan dan menyucikan hati dan jiwa kita dari segala sifat buruk seperti, iri, dengki, tamak, ujub, riya dan penyakit hati lainnya. Agar jiwa dan hati kita terbebas dari saa a qorina.

Sucikan badan dan sifat lahiriah kita dengan air wudhu dan sucikan batin kita dengan air mata taubat. Dengan sucinya batin dan lahir kita, Allah akan membimbing dan menunjukkan jalan untuk tetap menjadi sebaik-baik ciptaan (ahsani taqwim) dan memiliki sebaik-baik teman dekat (ahsanu qorinan).

Sumber Ilustrasi: detik.news.com

What's your reaction?
4So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment