Sering di antara kita melakukan sebuah kesalahan namun kita tidak mau mengakuinya. Justru kita terlalu menikmati kesalahan itu atau bahkan merasa tidak bersalah dengan kesalahan yang telah kita lakukan itu. Kesalahan adalah sesuatu yang kita ucapkan atau sesuatu yang kita lakukan dengan tidak semestinya. Kenapa demikian?
Karena apa yang disampaikan atau yang dilakukan dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk atau berdampak negatif terhadap sistem. Entah sistem sosial-politik maupun hubungan masyarakat. Dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi sebuah kesalahan yang diakibatkan oleh sebuah miskomunikasi atau kesalahpahaman dalam memahami.
Jadi dengan demikian kesalahan adalah sebagai dampak dari perbuatan kita yang tidak sesuai dengan tempat atau kedudukan yang semestinya. Sehingga ia berdampak tidak tepat pada peran dan fungsi. Lawan dari salah adalah benar. Benar berarti menempatkan segala sesuatu, baik itu ucapan atau tindakan yang sesuai dengan aturan atau prosedur yang semestinya. Dalam teori konflik, faktor utama kesalahan dapat muncul ternyata secara umum ada dua macam.
Kedua faktor itu adalah ketidaktahuan dan keteledoran. Ketidaktahuan disebabkan karena kurangnya wawasan dan pengetahuan, sehingga pelaku belum memiliki pengalaman berkenaan dengan sesuatu yang menyebabkan banyak kesalahan dalam mengerjakan sesuatu. Untuk mengatasi faktor ini, mudah saja yakni dapat diatasi dengan banyak belajar ilmu dan banyak latihan serta mencari pengalaman yang seluas-luasnya.
Kemudian faktor kedua yang menyebabkan adanya kesalahan adalah keteledoran. Di dalam KBBI, keteledoran artinya malas, lalai atau lengah karena tidak ada perhatian yang sungguh-sungguh. Keteledoran ini adalah perilaku dengan seenaknya saja tanpa pemikiran yang matang sehingga ada kesan meremehkan karena menganggap bahwa apa yang akan dia lakukannya adalah hal yang kecil dan remeh. Keteledoran sama halnya dengan kelalaian.
Memperbaiki Masa Depan
Ternyata hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kesalahan itu dapat muncul. Adanya kesalahan bisa mengakibatkan dampak buruk bagi sebuah sistem. Kemudian, lalai itu bukanlah lupa. Lalai berbeda dengan lupa. Meskipun sering kali kita menyamakan kedua istilah itu, sehingga terkedang menjadikan terkesan sesuatu yang identik.
Lalai adalah suatu tindakan tanpa pemikiran yang matang dan sungguh-sungguh disebabkan karena kita terlalu memandang remeh pada sesuatu. Bahayanya jika secara berulang hal itu dilakukan sehingga dapat menjadi suatu “kebiasaan”. Kebiasaan adalah akar sebuah kebudayaan. Bahkan dapat menjadi kepribadian atau karakter seseorang. Berbeda dengan lupa. Di mana lupa adalah sifat manusia yang secara alamiah selalu ada dengan tidak disengaja.
Lalu upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal itu? cara yang paling mudah adalah dengan membiasakan diri kita untuk selalu berbuat dengan teliti, hati-hati dan penuh kesungguhan serta penuh tanggung jawab terhadap apapun yang kita lakukan. Baik itu yang dipandang mudah maupun yang dipandang susah sekalipun.
Sehingga hal ini akan melatih dan membiasakan diri kita untuk bertindak dan berperilaku bersungguh-sungguh dan sekaligus hati-hati. Tidak seenaknya sendiri dan tidak teledor dalam apapun. Oleh karena itu sedini mungkin segala bentuk kesalahan dapat dihindari atau dicegah.
Memang manusia untuk terhindar dari kesalahan itu rasanya tidak mungkin. Malah justru tidak ada seorang manusiapun yang terbebas dari kesalahan. Karena salah satu tempat manusia adalah tempatnya berbuat salah dan lupa, seperti sabda Nabi Muhammad Saw “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”.
Namun menjadi tidak wajar dan menjadi tidak baik jika manusia itu tidak mau belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. Tidak mau mengambil hikmah apa dari kesalahan yang ada. Berbahaya lagi jika malah menikmati kesalalahan tanpa ada rasa bersalah. Ini yang sering diistilahkan orang dengan istilah “salah kaprah”. Sudah salah tetapi tidak mau mengakui kesalahan justru menikmati kesalalaha itu. Kenapa demikian?
Oleh karena itu, mulailah dari diri kita untuk membuka diri. Membuka diri agar mau mengakui kesalahan yang selama ini telah sering kita lakukan, baik itu yang melalui ucapan maupun perbuatan. Entah karena ketidaktahuan maupun karena keteledoran. hal ini sangat penting demi sebuah peradaban masa depan konstruktif. Meskipun berat untuk mau mengakui kesalahan yang kita lakukan, namun dengan seperti itu dapat menjadi sebuah jalan pembuka menuju hubungan masa depan yang lebih baik. (redaksi kalimahsawa)