Oleh : M. Andhim
Hingga detik ini masih kuat anggapan dalam masyarakat luas bahwa agama dan sains merupakan dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Mereka menganggap bahwa antara agama dan sains masing-masing memiliki entitas sendiri-sendiri.
Ilmu agama yang bersumber dari nash agama tertentu disebut dengan Releaved knowledge atau Pengetahuan yang bersumber dari wahyu Tuhan dan Ilmu yang diperoleh hasil berfikir manusia disebut sebagai Scientific Knowledge. Keduanya sering dibentur-benturkan.
Sehingga menurut M. Fajrul Bahri hal ini berdampak negatif terhadap perkembangan keilmuan dan peradaban di dunia Islam karena dianggapnya bahwa ilmu agama itu sempit dan diidentikkan dengan hal yang sangat normatif. Demikianlah realita yang terjadi saat ini. termasuk di dalam dunia pendidikan agama Islam itu sendiri.
Menurut analisis Abdur rahman assegaf ada tiga faktor yang melatar belakangi munculnya dikhotomi dalam pendidikan islam. Pertama, faktor perkembangan pembidangan ilmu yang bergerak sangat pesat.
***
Akbitanya ialah lahirnya berbagai cabang disiplin keilmuan baru sehingga jarak antara cabang ilmu dan induknya menjadi jauh. Begitupun jarak antara cabang-cabang ilmu agama dan cabang ilmu-ilmu umum juga menjadi semakin jauh.
Kedua, faktor historis perkembangan peradaban Islam sejak mengalami masa kemunduran. Pada fase kemunduran ini Fuqoha mengambil peran penting dalam pendidikan Islam. Mereka menggolongkan Ilmu agama ke dalam ilmu fardhu ‘ain yang wajib dipelajari oleh seluruh individu muslim tanpa terkecuali. sedangkan Ilmu umum termasuk ilmu fardhu kifayah.
Sehingga ilmu-ilmu di luar ilmu agama menjadi kewajiban kolektif yang cukup dipelajari oleh sebagian kaum muslimin saja. Akibat faktor kedua ini maka umat islam dan negara islam mengalami ketertinggalan dalam kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi jika dibandingkan dengan umat dan negara yang lainnya.
Ketiga, Faktor internal kelembagaan islam yang kurang mampu dalam pembenahan dan pembaharuan. Hal ini terjadi karena kompleksnya problematika ekonomi, politik, budaya, hukum dan sosial yang dihadapai oleh umat islam. Dampaknya ialah umat islam menjadi tidak bisa memaknai struktur ilmu secara utuh.
Adakah Peluang Bertemunya antara Sains dan Agama?
Seorang Cendikiawan Amerika yang berdarah Tiongkok Ian Graeme Barbour sebagaimana yang dikutip Waston telah memetakan hubungan agama dan sains. Menurutnya ada empat tipe relasi antara keduanya.
Pertama, Tipe konflik di mana ada dua kubu yang masing-masing kokoh terhadap apa yang mereka yakini. Kubu pertama ini kokoh terhadap agama dan menganggap apa yang datang dari sains dianggap salah.
Begitupun kubu satunya yang juga menganggap hanya sains lah satu-satunya sumber kebenaran. Bagi mereka tidak dapat dipertemukan jika satu kubu mempercayai Tuhan dan satunya mempercayai teori Evolusi secara bersamaan.
Kedua, Tipe Independensi yang menganggap antara agama dan sains masing-masing tidak ada keterkaitannnya sama sekali. Sehingga mereka membiarkan agama berjalan pada jalannya dan sains pun juga demikian. Keduanya sama-sama berjalan dan tidak ada benturan diantara keduanya.
Ketiga, Tipe Dialog dengan mengupayakan hubungan yang lebih konstruktif antara sains dan agama jika dibanding dengan dua tipe sebelumnya. Jika pada tipe independensi membandingkan antara agama dan sains dengan memusatkan pada perbedaan yang ada.
Maka pada tipe ini dalam membandingkan keduanya lebih menekankan pada pra-anggapan, metode, dan konsep antara keduanya. Dan terakhir ialah tipe Integrasi. Agama dan sains dipandang menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan, saling menguatkan dan tidak bisa saling dipisahkan.
Abdur Rahman Assegaf dan Paradigma Pendidikan Baru
Paradigma Pendidikan Hadhari hadir sebagai bentuk tanggung jawab seorang intelektual muslim yang gundah melihat kemunduran peradaban Islam. Prof. Abdur Rahman Assegaf ingin melihat kembali Pendidikan Islam yang berkualitas.
Pendidikan berkualitas sebagaimana yang pernah terjadi pada masa keemasan peradaban Islam. Sehingga untuk mencapai tujuan itu beliau menawarkan sebuah gagasan paradigma pendidikan Islam hadhari yang berbasis integrasi.
Pendidikan Hadhari menurut sang penggagas ialah Pendidikan berkemajuan dengan mensinergikan antara hadharah an-nash, hadharah al-falsafah dan hadharah al-‘ilmi. Ketiga wilayah tersebut tidak boleh dikaji secara parsial. Melainkan dikaji secara integratif-interkonektif.
Atau saling berhubungan dan berketerkaitan antara satu dengan yang lainnya. Hadhrah an-nash menjelaskan bagaimana semestinya pendidikan islam dijalankan dengan visioner. Hadharah al-falasah menyadarkan manusia akan hakikat eksistensi hidup mereka sebagai khalifah allah di muka bumi. Hadharah al-‘ilm memberikan suluh penerangan pada umat Islam agar terdepan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Konsep pendidikan Hadhari
Pertama, menempatkan dan menerapkan etika Islam yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan hadits sebagai ruh bagi seluruh pembidangan ilmu baik ilmu alam, sosisal maupun humaniora. Kedua, karakter dari pendidikan hadhari yang universal dan non-dikotomik sehingga semua cabang keilmuan menjadi objek kajian yang tidak dapat saling dipisahkan.
Ketiga, Pendidikan Hadhari bersandar pada nilai-nilai dan etika islam sehingga terjadi objektivikasi dari etika islam menjadi ilmu ke-islam-an yang membawa pesan rahmatan lil ‘alamin. Keempat, menumbuhkan kembali spirit tradisi keilmuan yang integral.
Banyak permasalahan yang dialami oleh dunia pendidikan saat ini. Dan sebenarnya tidak hanya permasalahan terkait dikotomi keilmuan saja. Namun kenyataanya dikotomi keilmuan ini masih menjadi permasalahan yang fundamental bagi dunia pendidikan Islam.
Melihat realita ini penulis optimis bahwa gagasan yang ditawarkan oleh Abdur rahman assegaf ini dapat membawa harapan baru terhadap masadepan pendidikan Islam. Jika konsep pendidikan ini diterapkan, maka dampaknya ialah akan terjalin hubungan yang harmonis antara Burhan Qouli (kebenaran Nash) dan Burhan kauni (kebenaran Alam semesta).
Sehingga berawal dari spirit tradisi pendidikan non-dikotomik ini akan membawa kemajuan dalam pendidikan Islam. Dan hanya dengan pendidikan yang berkualitaslah kejayaan peradaban Islam akan kembali didapatkan.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sumber Ilustrasi: republika.co.Id