Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Al-Qur’an Sebagai Pedoman: Menghadapi Proses College Adjusment Bagi Mahasiswa Baru

Putri Oktaviana Susanti by Putri Oktaviana Susanti
Oktober 6, 2025
in Esai, Narasi
0
Al-Qur’an Sebagai Pedoman: Menghadapi Proses College Adjusment Bagi Mahasiswa Baru
14
SHARES
85
VIEWS

Oleh: Putri Oktaviana Susanti (Mahasiswi Ilmu Qur’an dan Tafsir, UMS)

Perubahan lingkungan hidup dan lingkungan belajar kerap menjadi masalah baru yang harus dihadapi mahasiswa baru. Sebagai mahasiswa baru, kerap kali individu merasakan kesulitan, baik dari segi akademik, di mana mereka harus merasakan perbedaan yang signifikan antara proses belajar di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, maupun dari segi sosial, yang mana mahasiswa baru perlu beradaptasi dengan lingkungan pertemanan baru yang kemungkinan besar berbeda budaya dan gaya hidup. Dalam menjalani proses tersebut, beberapa mahasiswa mungkin dapat dengan mudah menjalaninya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa mahasiswa kesulitan dan berakibat pada kondisi mental mahasiswa.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Suharsono menyebutkan bahwa ketidakmampuan mahasiswa dalam menjalani proses college adjusment akan memunculkan permasalahan mental seperti permasalahan relasi interpersonal, kesepian, cemas, depresi, dan masalah mental lainnya. Selain itu, rendahnya college adjusment mahasiswa baru dapat menyebabkan ketidakmampuan mahasiswa dalam menyelesaikan pembelajarannya di perguruan tinggi (Suharsono, 2020: 3). Bahkan di beberapa kondisi, mereka dapat terancam keluar dari perguruan tinggi.

Nurrohim dalam penelitiannya yang berjudul “Antara Kesehatan Mental dan Pendidikan Karakter: Pandangan Keislaman Terintegrasi” menyatakan bahwa mental yang sehat adalah mental yang terbebas dari neorisis dan psikosis, memiliki pikiran, jiwa, dan perbuatan yang harmonis, serta mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan minat dan bakat (Nurrohim, 2016: 283). Oleh karena itu, mahasiswa dapat dikatakan sehat mental ketika mereka dapat beradaptasi dengan baik dengan segala kondisi dan tantangan baru yang mereka hadapi di perguruan tinggi. Baker and Syrk membagi college adjusment menjadi empat dimensi, yaitu academic adjusment, social adjusment, personal-emotional adjusment, dan institutional commitment (Marchella, 2024: 53). Sebagai mahasiswa Islam, tentu dalam menjalankan kehidupan dan menyelesaikan berbagai masalah, kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Jadi, mari kita bahas solusi untuk mahasiswa baru dalam menjalani proses college adjusment berdasarkan persepsi Al-Qur’an.

Academic Adjusment

Dalam menjalankan proses perkuliahan, mahasiswa tentu perlu motivasi dan dukungan yang kuat sehingga mereka dapat beradaptasi di dimensi akademik. Mahasiswa perlu mengetahui bahwa Allah mendukung dan menjanjikan kebaikan pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencari ilmu. Kita dapat menjadikan Surah Al-Mujadalah ayat 11 sebagai motivasi kita dalam mencari ilmu. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 

Dalam tafsir Ash-Shaghir, ayat ini ditafsirkan bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman agar melapangkan tempat duduk untuk yang lain jika mereka diminta hal itu, dan agar mereka berdiri dari majelis mereka untuk melakukan hal yang bermanfaat. Kemudian Allah menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang beriman dan berilmu bahwa mereka akan ditinggikan derajatnya di surga. Allah Maha Mengetahui segala perbuatan mereka, dan Allah akan membalas mereka atas perbuatan tersebut. Lihatlah betapa Allah memberikan dukungan bagi pencari ilmu. Maka jadikan ayat ini sebagai pengingat dan pendukung kalian dalam menjalani segala tantangan yang ada di perguruan tinggi. Nurrohim juga menyebutkan bahwa manusia sempurna (insan kamil) merupakan individu yang memiliki ilmu dan amal sama berkualitasnya. Jadi, belajarlah semaksimal mungkin dengan ikhlas karena mengharap ridha Allah (Nurrohim, 2016: 297).

Social Adjusment

Allah berfirman dalam surat Al-Ma’idah ayat 8:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Menurut tafsir Ash-Shaghir, makna ayat ini yaitu, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah penegak karena Allah, penegak kebenaran-kebenaran Allah atas kalian karena untuk mencari keridaan-Nya, saksi-saksi dengan adil. Jangan sampai mendorong kalian kebencian terhadap suatu kaum untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Dari ayat ini kita dapat belajar tentang bagaimana hidup bersosial di lingkungan baru yang pasti kita akan bertemu orang-orang yang berbeda keyakinan, budaya, bahkan gaya hidup. Jangan sampai karena perbedaan tersebut kita bersikap diskriminasi dan tidak adil. Teruslah bersosialisasi dan bersikap baik dengan selalu mengharap ridha Allah. Selain itu, Ahmad Nurrohim mengatakan bahwa ketenangan jiwa manusia dapat menciptakan peningkatan humanitas di kalangan sosial, yang mana ketenangan ini dapat didapatkan dengan terus berdzikir kepada Allah SWT (Nurrohim, 2016: 292).

Personal-Emotional Adjusment

Penyesuaian emosional digambarkan sebagai kondisi perubahan perilaku secara psikologis. Untuk mempunyai tingkat adaptasi di dimensi ini, Nurrohim mengatakan bahwa individu perlu memiliki dinamika kejiwaan yang sempurna agar mendatangkan ketenangan bagi individu dan terhindar dari kekhawatiran yang tidak terkontrol (Nurrohim, 2016: 287). Ketenangan tersebut dapat kita peroleh dengan selalu mengingat Allah, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 13, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Institutional Commitment

Penyesuaian kelekatan atau komitmen terhadap institusi merupakan penyesuaian dalam pembentukan sebuah perasaan memiliki serta adanya kelekatan terhadap institusi yang dimasuki. Untuk menempuh proses adaptasi ini, mahasiswa baru harus mempunyai tujuan yang akan dicapai saat berada di perguruan tinggi, serta tidak mudah menyerah dan berkomitmen menjalankan proses pembelajaran sampai akhir.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 155. Dikutip dari tafsir Al-Muyassar, ayat ini bermakna:

“Dan kami akan benar-benar menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan dan kekurangannya harta karena kesulitan dalam mendapatkannya atau hilang sama sekali. Dan dari jiwa dengan terjadinya kematian atau mati syahid dijalan Allah, dan dengan berkurangnya buah-buahan kurma, anggur, dan biji-bijian karena sedikitnya hasil panen atau rusak. Dan berilah kabar gembira -wahai nabi- kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi persoalan ini dan persoalan-persoalan yang serupa dengan apa-apa yang membahagiakan mereka dan menyenangkan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat.”

Jadikan ayat ini sebagai pegangan kalian supaya kita tidak menyerah dan terus berkomitmen menyelesaikan apa yang sudah kita mulai dengan mengharap rahmat Allah SWT.

Dari semua dimensi adaptasi tersebut, perlu kita ketahui bahwa untuk menjalani semuanya dengan baik, kuncinya hanya satu, yaitu mengingat dan berinteraksi dengan Allah. Al-Ghazali menyebut dimensi interaksi hamba dengan Allah itu ada tiga, yaitu keyakinan (i‘tiqad), melakukan perbuatan (fi‘l), dan meninggalkan perbuatan (tark) (Nurrohim, 2016: 280). Teruslah bersandar hanya kepada Allah, dan jadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam menjalani segala kehidupan, termasuk di dunia perkuliahan. Dengan itu, Allah pasti akan memudahkan semua perjalanan kita.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: Al-QuranIslammahasiswapendidikan
Previous Post

Rahasia Menghafal Al-Qur’an dengan Cepat, Terlebih untuk Orang yang Sibuk

Next Post

Tim Tapak Suci PPDMS Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Palembang 2025

Putri Oktaviana Susanti

Putri Oktaviana Susanti

Next Post
Tim Tapak Suci PPDMS Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Palembang 2025

Tim Tapak Suci PPDMS Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Palembang 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.