Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Agama Arief Budiman

RedaksiKS by RedaksiKS
Desember 15, 2020
in Narasi
2
Agama Arief Budiman
286
SHARES
1.7k
VIEWS

Oleh: Abd. Rohim Ghazali

Saya tidak mengenal secara pribadi siapa itu Arief Budiman. Tapi saya banyak membaca buku-buku yang ditulisnya, terutama dua buku kecil yang menjadi rujukan favorit pada saat saya menempuh pendidikan pascasarjana Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Dua buku kecil itu adalah: (1) Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Gramedia, Jakarta, 1995); dan (2) Teori Negara: Negara, Kebangsaan, dan Ideologi (Gramedia, Jakarta, 1997)

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pada saat mendengar Arief Budiman wafat, saya buka-buka kembali dua buku itu. Anak saya, Ghazali Hasan Nasakti, yang masih kuliah semester II Fakultas Hukum di UPN Jakarta, tiba-tiba nimbrung. “Ini yang penulisnya baru meninggal ya yah?” tanya Sakti –panggilan anak saya.

baca juga: Tinjauan Singkat Buku Rudolf Steiner: Theosophy

Baru saja sayan jawab, iya, Sakti bertanya lagi.
“Arief Budiman itu Kristen kan yah?”.
“Tidak, nak. Dia Islam.”
“Lho, dia kan kakaknya Soe Hok-Gie?”
“Iya, tapi dia Islam.”
“Kok bisa?”
“Ya bisalah. Mungkin karena dia menikah dengan Ibu Leila Chairani yang Muslimah.” Saya menjawab sekenanya.

Berdasarkan pertanyaan Sakti, saya tertarik untuk menulis tentang agama Arief Budiman karena dua alasan: Pertama, umumnya orang Indonesia itu unik, selalu kepo (ingin tahu) tentang agama orang lain, termasuk anak-anak milenial seusia anak saya. Padahal, sejatinya, agama itu masalah pribadi, orang lain tak boleh campur tangan. Biarlah menjadi urusan dirinya dan Tuhan yang diyakini.

Tapi, siapa pun yang menganggap agama urusan pribadi, biasanya akan disebut liberal. Terpengaruh budaya Barat yang tak peduli dengan agama. Ini lagi-lagi unik, karena kata “Barat” sendiri tak sesuai dengan fakta. Bukankah orang Islam salatnya menghadap ke Barat?

Bagi orang Indonesia, agama itu bukan urusan pribadi. Karena itulah, usulan menghapus kolom agama dalam KTP, akan selalu ditentang keras. Alasannya, masyarakat penting untuk mengetahui agama seseorang agar saat meninggal bisa ditangani dan dikubur sesuai agama yang dianutnya.

Kedua, banyak orang salah sangka, Arief Budiman bukan Muslim karena nama aslinya Soe Hok Djin, nama “China” yang jauh dari kesan Muslim. Padahal di negeri ini, sudah banyak China yang Muslim, termasuk Felix Siauw yang sudah popular sebagai ustadz dan Nio Cwan Chung yang popular dengan nama Muhammad Syafii Antonio.

Agama Kemanusiaan

Mengapa kemusliman Arief Budiman tak begitu tampak. Karena kita kerap mendikotomikan Islam dengan masalah-masalah politik dan kemanusiaan. Nilai-nilai demokrasi dan bagaimana memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang banyak ditulis Arief Budiman dianggap bukan bagian dari ajaran Islam.

Padahal inti ajaran Islam adalah tauhid, dan tauhid seseorang baru bisa dikatakan benar pada saat keimanannya pada Tuhan direfleksikan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Nabi SAW pernah menegaskan bahwa tidak beriman seseorang pada saat dirinya kenyang (dan membiarkan) tetangganya kelaparan. Keimanan dan kemanusiaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Pentingnya menegakkan demokrasi sosial yang menjadi concern Arief Budiman juga bagian dari ajaran Islam. Kesenjangan sosial, menurut ajaran Islam, harus diperangi (dihilangkan), antaran lain dengan kewajiban membayar zakat bagi orang-orangn kaya. Semakin mudah seseorang mendapatkan kekayaan, semakin tinggi persentase zakat yang harus dibayarkannya. Bagaimana memerangi/menggempur kesenjangan sosial ini, disebut Amien Rais sebagai inti dari tauhid.

Pada tahun 1970, Arief Budiman getol berdemonstrasi menentang praktik korupsi. Ia menentang keras proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) gagasan Tien Soeharto. Karena gerakannya ini, dia ditangkap aparat, dan dikurung satu bulan dalam tahanan Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) –oragnisasi tingkat pusat yang langsung berada di bawah komando Presiden.

Arief Budiman juga terkenal sebagai penggerak utama Golput (golongan putih), yakni gerakan memilih kertas putih di luar gambar-gambar partai pada Pemilu 1971. Golput, yang kemudian popular sebagai gerakan tidak ikut memilih dalam pemilu, adalah bentuk perlawanan telak terhadap tirani (kezaliman penguasa). Dalam Islam, melawan kekuasaan yang zalim adalah jihad (tindakan mulia di mata Tuhan). Jihad yang paling utama, kata Nabi SAW, adalah berbicara kebenaran di hadapan tirani.

Arief Budiman Semakin Relijius

Arief Budiman, kalau dipandang dalam perspektif syariat (legalitas agama), mungkin tidak termasuk penganut agama yang taat. Bahkan bisa dikatakan, tidak begitu peduli dengan agama. Tapi jelas dia bukan ateis yang menolak keberadaan Tuhan.

Menurut kesaksian salah satu sahabat karibnya, M. Syafii Anwar, beberapa bulan sebelum meninggal, dengan kesehatan yang terbatas, Arief Budiman menjadi sangat relijius. Pada saat lebaran, Pak Syafii bersama istri dan anak, pernah bersilaturrahmi. Ketika waktu shalat tiba, Arief Budiman ikut salat berjamaah dan berdo’a dengan khusuk.

Kata Mbak Leila, masih menurut Pak Syafii, Mas Arief meninggal dengan damai. Mbak Leila adalah sosok istri shalihah yang senantiasa berdoa siang dan malam, dan setia menemani Mas Arief sampai akhir hayat. Insya Allah, doa-doanya dikabulkan. Kamis (23/4/2020), sehari menjelang Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan, Arief Budiman pergi menghadap Tuhan. Selamat jalan pejuang, beristirahatlah dengan tenang.

Terkait

Tags: AgamaArief Budimanpenguasa zalimrakyat kecil
Previous Post

Tinjauan Singkat Buku Rudolf Steiner: Theosophy

Next Post

Shamsi Ali: Puasa itu Human Salvation

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Ujung puasa adalah membangun rasa syukur. Syukur menjadi esensi keimana sekalihus esensi kehidupan manusia. Segala ibadah muaranya adalah syukur

Shamsi Ali: Puasa itu Human Salvation

Comments 2

  1. Suhairi says:
    6 tahun ago

    Orang Islam shalat nya menghadap ke barat…?

    Reply
    • Ernie says:
      5 tahun ago

      Mungkin penulis harus memperbaiki kalimat diatas, supaya tidak ada salah paham.
      Karena sebenarnya umat Islam tidak shalat menghadap barat, tapi menghadap kiblat yaitu Ka’bah di Mekah. Kebetulan dr Indonesia Ka’bah disebelah barat Indonesia 🙏

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.