Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kyai Ageng Hasan Besari, Pencetak Tokoh Bangsa

Krisna Wahyu Yanuarizki by Krisna Wahyu Yanuarizki
Agustus 1, 2022
in Narasi, Sosok
0
Kh Hasan Besari
529
SHARES
3.1k
VIEWS

Islam di Nusantara , pasti kaitanya dengan tokoh- tokoh pendakwah islam yang menyebarkan di wilayah Nusantara. Mereka menyebarkan Islam menyebar dari sabang sampai merauke, maka bukan sebuah kebetulan jika keilmuan di Nusantara saling berkaitan. Dahulu para wali bersepakat untuk menyebarkan Islam secara Integratif, terbentuklah yakni Wali Songo.

Dalam Sejarahnya, Nusantara sebelum islam tersebar luas, konon katanya islam telah ada dan banyak dipengaruhi dari kebudayaan, bangsa cina, champa, India, Persia, hingga Arab. Sebab itulah keislaman di Indonesia kini bersifat Multikultural. Penyebaran agama islam merupakan proses yang sangat penting dalam  sejarah di Indonesia.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kedatangan Islam di berbagai wilayah tidaklah bersamaan, perlunya proses panjang hingga Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia. Mengenai tokoh penyebaran islam di Nusantara khususnya di daerah jawa, ada sosok penting  dan fundamental dibalik lahirnya para tokoh bangsa yakni, Kyai Hasan Besari.

Kyai Hasan Besari, Sang Kiai Karismatik

Nama lengkapnya Kyai Ageng Raden Muhammad Hasan Besari, putra dari Kyai Raden Nedo kusumo. Memiliki trah dari Kerajaan Majapahit, juga keturunan langsung dari Rasulullah saw, melalui jalur  ibunya , dari garis Sayyidah Fatimah Az- zahroh. Kyai Hasan Besari merupakan kia besar yang berasal dari pesantren bersejarah, yakni Pesantren Tegalsari atau Gebang Tinatar.

Pesantren ini dalam abad 18- 19 mengalami masa keemasan berkat karomah pendirinya juga sekaligus pengasuhnya yakni Kiai Hasan Besari. Masyarakat mengakui kealiman dan kesakralan  beliau, maka pada zaman  itu banyak ribuan santri mondok di pondok tersebut. Banyak yang mengakui beliau memiliki banyak karomah sejak hidup maupun beliau wafat.

Kisah ketika ada konflik antara raja Pakubuwono II, Kiai Hasan Besari dianggap memiliki pengaruh luar biasa dan dinilai raja Pakubuwono II bakal meruntuhkan kekuasaanya. Semenjak  Kiai Hasan Besari mendirikan pondok pesantren di ponorogo, seolah- olah memiliki hukum dan wewenang sendiri.

Maka sang raja akan merencanakan ia diasingkan ke luar  jawa, tetapi anehnya kapal yang sudah siap dan terbuka layarnya itu, berhenti sendiri seolah tidak mengizinkan beliau diasingkan. Setelah diasingkan beliau ditahan, dan dibebaskan, kemudian kembali untuk mengajar pada saat itu Kerajaan Kartasura diserang oleh tentara cina yang berketurunan sunan dari Susuhunan Kuning.

Hingga Ahkirnya Pakubuwono II raja tersebut menyerahkan diri dan menenangkan diri di pesantren tegalsari hingga menjadi murid dari Kiai Hasan Besari.

Sampai saat beliau wafat, juga banyak tokoh yang berziarah di makam beliau, dan makamnya kini pun disakralkan, banyak tokoh pemerintah melakukan ritual di tempat tersebut, memohon kepada Allah Swt untuk diberikan kekuasaan, dan anehnya do’a tersebut kemudian hari diijabah.

Beliau wafat pada 12 Selo 1165 H(1747M), dimakamkan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Makamnya saat ini masih dikunjungi sebagai wisata religi, dan ritual ibadah terutama pada saat malam jumat.

Hubungan Pesantren Tegalsari dengan Tokoh Bangsa

Karomah terbesar  yang dimiliki beliau Kyai Hasan Besari adalah mendidik murid- muridnya menjadi tokoh hebat, sekaligus melahirkan sosok pendiri bangsa. Beliau melahirkan tokoh- tokoh sangat berpengaruh.

Pertama Pakubuwono II, Sultan Kartasura yang berkiprah didunia politik, Ronggowarsito seorang sastrawan yang menciptakan “Kidung Zaman Edan” sampai HOS Tjokroaminoto seorang penggerak Sosialis Islam dan pendiri Sarekat Islam. Yang kemudian dari HOS Tjokroaminoto melahirkan murid Tiga ideologi, Soekarno (Nasionalis), Musso (Komunis), Kartosuwiryo (Islam).

Didikan yang ulet serta penuh tirakat, berhasil menghantarkan kepada Tujuan filosofis Pendidikan yang  digagas KI Hajar Dewantara yakni “Menciptakan Insan Yang Merdeka” serta simbol seperti “Ing ngarso sung tulodo”. Seperti cerminan beliau mengajar dengan sabar dan telaten, disertai banyak karomah, “Ing madyo mangun karso”.

Dengan bukti ketika beliau tidak menekan santri- santri harus menjadi kyai, ulama. Dan “Tut wuri handayani” memberikan santri- santrinya dorongan yang besar untuk mendakwahkan Islam dan berkarya  melalui bidang apapun.

Selain itu keilmuan beliau juga sampai kepada sang Proklamator Ir Soekarno yang menginspirasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu mempengaruhi KH Muhammad Dahlan untuk mendirikan sekolah- sekolahan Islam  yang moderat.

Serta mempengaruhi pemikiran KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim yang  masih ada keterkaitan dengan Kitab Krama Negara katya Kiai Ageng Hasan Besari. Kiai Hasan Besari menuai kekaromahan luar biasa, hingga pesantren yang terkenal modern, yakni Pondok Gontor masih bersanad dari keilmuan beliau.

Warisan Beliau yang Masih Dirasakan Sampai Saat Ini

Beliau adalah sosok luar biasa selai Ulama beliau juga ahli dalam bidang politik kenegaraan, dan jug ahli sastra, tasawuf sampai ada yang bilang beliau juga ahli tafsir qur’an beserta adiknya Kyai Ageng Nur Shodiq sekaligus hafidz qur’an , keduanya mengajarkan Islam penuh keharmonisan.

Dan Pesantren Tegalsari merupakan bukti pesantren tertua, tapi kini memang tidak ada santrinya, sudah berdakwah ke penjuru Nusantara. 

Ada yang mengatakan  itu merupakan pesantren yang kuno melahikan metode badongan, sorogan makna lafadz utawi iku. Perumusnya sendiri ialah  Kiai Ageng Muhammad Besari. Kisah- kisah beliau tercatat dalam Babad Ponorogo, serta masyarakat yang sudah mengenal beliau dari tutur lisan yang berkembang. 

Beliau meninggalkan warisan yang berupa langgar, makam beliau serta keris, tapi yang paling utama beliau meninggalak keteladanan dan keintergritasan, kebebasan berdakwah itulah yang terkenang sampai hari ini. Sekian semoga kita bisa meneladani beliau dan mewarisi apa yang beliau ajarakan.

Editor : Akbar Syifa Nursyam

Terkait

Tags: IndonesiaKyai Ageng Hasan BesariMuhammadiyahNahdlatul UlamaTokoh Bangsa
Previous Post

Antara Radikalisme dan Agama (2): Dari Teologi Inklusif Hingga NU Sebagai Jangkar Islam Moderat

Next Post

Besarnya Masjid Bukan Lambang Kebangkitan Islam

Krisna Wahyu Yanuarizki

Krisna Wahyu Yanuarizki

Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Next Post
kebesaran masjid bukanlah tanda kebangkitan islam

Besarnya Masjid Bukan Lambang Kebangkitan Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.