Islam di Nusantara , pasti kaitanya dengan tokoh- tokoh pendakwah islam yang menyebarkan di wilayah Nusantara. Mereka menyebarkan Islam menyebar dari sabang sampai merauke, maka bukan sebuah kebetulan jika keilmuan di Nusantara saling berkaitan. Dahulu para wali bersepakat untuk menyebarkan Islam secara Integratif, terbentuklah yakni Wali Songo.
Dalam Sejarahnya, Nusantara sebelum islam tersebar luas, konon katanya islam telah ada dan banyak dipengaruhi dari kebudayaan, bangsa cina, champa, India, Persia, hingga Arab. Sebab itulah keislaman di Indonesia kini bersifat Multikultural. Penyebaran agama islam merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah di Indonesia.
Kedatangan Islam di berbagai wilayah tidaklah bersamaan, perlunya proses panjang hingga Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia. Mengenai tokoh penyebaran islam di Nusantara khususnya di daerah jawa, ada sosok penting dan fundamental dibalik lahirnya para tokoh bangsa yakni, Kyai Hasan Besari.
Kyai Hasan Besari, Sang Kiai Karismatik
Nama lengkapnya Kyai Ageng Raden Muhammad Hasan Besari, putra dari Kyai Raden Nedo kusumo. Memiliki trah dari Kerajaan Majapahit, juga keturunan langsung dari Rasulullah saw, melalui jalur ibunya , dari garis Sayyidah Fatimah Az- zahroh. Kyai Hasan Besari merupakan kia besar yang berasal dari pesantren bersejarah, yakni Pesantren Tegalsari atau Gebang Tinatar.
Pesantren ini dalam abad 18- 19 mengalami masa keemasan berkat karomah pendirinya juga sekaligus pengasuhnya yakni Kiai Hasan Besari. Masyarakat mengakui kealiman dan kesakralan beliau, maka pada zaman itu banyak ribuan santri mondok di pondok tersebut. Banyak yang mengakui beliau memiliki banyak karomah sejak hidup maupun beliau wafat.
Kisah ketika ada konflik antara raja Pakubuwono II, Kiai Hasan Besari dianggap memiliki pengaruh luar biasa dan dinilai raja Pakubuwono II bakal meruntuhkan kekuasaanya. Semenjak Kiai Hasan Besari mendirikan pondok pesantren di ponorogo, seolah- olah memiliki hukum dan wewenang sendiri.
Maka sang raja akan merencanakan ia diasingkan ke luar jawa, tetapi anehnya kapal yang sudah siap dan terbuka layarnya itu, berhenti sendiri seolah tidak mengizinkan beliau diasingkan. Setelah diasingkan beliau ditahan, dan dibebaskan, kemudian kembali untuk mengajar pada saat itu Kerajaan Kartasura diserang oleh tentara cina yang berketurunan sunan dari Susuhunan Kuning.
Hingga Ahkirnya Pakubuwono II raja tersebut menyerahkan diri dan menenangkan diri di pesantren tegalsari hingga menjadi murid dari Kiai Hasan Besari.
Sampai saat beliau wafat, juga banyak tokoh yang berziarah di makam beliau, dan makamnya kini pun disakralkan, banyak tokoh pemerintah melakukan ritual di tempat tersebut, memohon kepada Allah Swt untuk diberikan kekuasaan, dan anehnya do’a tersebut kemudian hari diijabah.
Beliau wafat pada 12 Selo 1165 H(1747M), dimakamkan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Makamnya saat ini masih dikunjungi sebagai wisata religi, dan ritual ibadah terutama pada saat malam jumat.
Hubungan Pesantren Tegalsari dengan Tokoh Bangsa
Karomah terbesar yang dimiliki beliau Kyai Hasan Besari adalah mendidik murid- muridnya menjadi tokoh hebat, sekaligus melahirkan sosok pendiri bangsa. Beliau melahirkan tokoh- tokoh sangat berpengaruh.
Pertama Pakubuwono II, Sultan Kartasura yang berkiprah didunia politik, Ronggowarsito seorang sastrawan yang menciptakan “Kidung Zaman Edan” sampai HOS Tjokroaminoto seorang penggerak Sosialis Islam dan pendiri Sarekat Islam. Yang kemudian dari HOS Tjokroaminoto melahirkan murid Tiga ideologi, Soekarno (Nasionalis), Musso (Komunis), Kartosuwiryo (Islam).
Didikan yang ulet serta penuh tirakat, berhasil menghantarkan kepada Tujuan filosofis Pendidikan yang digagas KI Hajar Dewantara yakni “Menciptakan Insan Yang Merdeka” serta simbol seperti “Ing ngarso sung tulodo”. Seperti cerminan beliau mengajar dengan sabar dan telaten, disertai banyak karomah, “Ing madyo mangun karso”.
Dengan bukti ketika beliau tidak menekan santri- santri harus menjadi kyai, ulama. Dan “Tut wuri handayani” memberikan santri- santrinya dorongan yang besar untuk mendakwahkan Islam dan berkarya melalui bidang apapun.
Selain itu keilmuan beliau juga sampai kepada sang Proklamator Ir Soekarno yang menginspirasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu mempengaruhi KH Muhammad Dahlan untuk mendirikan sekolah- sekolahan Islam yang moderat.
Serta mempengaruhi pemikiran KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim yang masih ada keterkaitan dengan Kitab Krama Negara katya Kiai Ageng Hasan Besari. Kiai Hasan Besari menuai kekaromahan luar biasa, hingga pesantren yang terkenal modern, yakni Pondok Gontor masih bersanad dari keilmuan beliau.
Warisan Beliau yang Masih Dirasakan Sampai Saat Ini
Beliau adalah sosok luar biasa selai Ulama beliau juga ahli dalam bidang politik kenegaraan, dan jug ahli sastra, tasawuf sampai ada yang bilang beliau juga ahli tafsir qur’an beserta adiknya Kyai Ageng Nur Shodiq sekaligus hafidz qur’an , keduanya mengajarkan Islam penuh keharmonisan.
Dan Pesantren Tegalsari merupakan bukti pesantren tertua, tapi kini memang tidak ada santrinya, sudah berdakwah ke penjuru Nusantara.
Ada yang mengatakan itu merupakan pesantren yang kuno melahikan metode badongan, sorogan makna lafadz utawi iku. Perumusnya sendiri ialah Kiai Ageng Muhammad Besari. Kisah- kisah beliau tercatat dalam Babad Ponorogo, serta masyarakat yang sudah mengenal beliau dari tutur lisan yang berkembang.
Beliau meninggalkan warisan yang berupa langgar, makam beliau serta keris, tapi yang paling utama beliau meninggalak keteladanan dan keintergritasan, kebebasan berdakwah itulah yang terkenang sampai hari ini. Sekian semoga kita bisa meneladani beliau dan mewarisi apa yang beliau ajarakan.
Editor : Akbar Syifa Nursyam