Ketika saya sedang melakukan perjalanan menuju kampung halaman saya di Madiun. Sepanjang jalan saya sering menemukan masjid-masjid megah yang sedang dalam proses pembangunan. Bukan main, tanah yang dialokasikan untuk pembangunan masjid tersebut sangatlah luas, yang paling dekat adalah pembangunan masjid raya Syekh Zeyed yang ada di Solo.
Ketika saya melewatinya, saya ter-pelongo melihat menara-menara yang tinggi itu. Namun di sisi lain saya merasa sangat pilu ketika dihadapkan dengan kaum muslim yang berbangga-bangga dengan pembangunan masjid-masjid yang ada.
Pandangan Umat
Umat memandang bahwa pembangunan masjid yang kian gencar adalah indikasi bahwa islam semakin lama semakin menjulang dari berbagai sudut, artinya mereka memaknai bahwa pembangunan yang menghabiskan dana miliaran tersebut adalah tanda bahwa islam sudah semakin mendekati kejayaannya. Apakah benar begitu?
Saya rasa tidak sama sekali. Islam bukanlah agama yang berorientasi pada kehidupan yang eksistensialis. Artinya Islam tak memandang sebuah kemegahan dan juga besarnya suatu monumen sebagai lambang kebesarannya.
Esensi masjid adalah terletak pada fungsi dan juga perannya bagi masyarakat sekitar dalam hal keagamaan, masjid bisa menjadi sentral gerakan-gerakan sosial kemanusiaan, pendidikan keagamaan, pusat interaksi sosial dan juga wadah persatuan. Saya kira semua hal itu bisa tercapai tanpa bangunan yang super megah dan besar.
Dahulu masjid masih di maknai secara esensial sebagai episentrum keislaman. Namun lambat laun esensi itu kian sirna di singkirkan oleh kilau eksistensi yang super megah dan mewah. Jika masjid sudah tidak memenuhi fungsi selayaknya masjid. Maka perlu kita pertanyakan, apakah kita sudah sampai pada zaman yang mana orang-orang hanya berlomba-lomba membangun masjid?
Semangat Beramal yang Tidak Diikuti Ilmu
Amalan apapun yang kita lakukan, hendaknya menyertai dengan ilmu, entah itu sedekah, haji, puasa, salat dan ibadah lainnya. Tak terkecuali dengan menginfakkan harta untuk membangun masjid. Hal ini tentu akan menjadi investasi pahala terbesar, karena notabene amal itu merupakan kategori sedekah Jariyah yang tidak akan putus walaupun manusia telah mati.
Banyak kasus di beberapa daerah dengan persebaran masjid yang sangat merata, sampai-sampai jarak masjid satu dengan yang lainnya hanya selisih 5 sampai 10-meter saja. Kita melihat dari semangat pembangunan dan beramal, kita patut memberi apresiasi tinggi terhadap masyarakat di daerah tersebut. Namun, sudahkah masjid itu di pergunakan sebagaimana mestinya?
Kenyataannya mengatakan tidak, bahkan banyak masjid yang terkesan mati dan tak terurus. Ini realitas yang harus kita sadari bersama bahwa semangat bersedekah umat saat ini sangatlah tinggi. Namun hal itu tidak di dasari ilmu yang mumpuni yang pada akhirnya menghasilkan kesia-siaan.
Seharusnya masjid di bangun atas dasar kebutuhan dan juga fungsi yang ada di dalamnya, bukan hanya sebagai monumen semata yang jika kita ikut sumbangsih dalam pembangunannya maka kita akan mendapatkan pahala yang besar.
Masih banyak amalan-amalan lain yang masih lebih relevan di tunaikan daripada membangun tempat ibadah. Membangun panti asuhan, memberikan pendidikan kepada anak yatim dan masih banyak amalan lainnya.
Tanda Masyarakat Maju Adalah Masyarakat yang Literat dan Cinta Ilmu
Dahulu kala zaman khalifah Harun Ar-Rasyid, Islam memiliki koleksi pustaka terbesar di dunia, namanya baitul hikmah. Dan pada saat itu islam berada pada puncak kejayaannya. Orang barat menyebutnya dengan Golden Age.
Kalaupun kejayaan Islam saat itu terindikasi dengan masjid. Maka seharusnya yang di buat bukanlah sekolah-sekolah, ataupun sarana keilmuan, melainkan masjid. Tetapi fakta historis yang terpampang menjelaskan bahwa yang didirikan dahulu adalah pusat-pusat pengembangan keilmuan.
Masyarakat yang memiliki kecakapan dalam literasi adalah indikasi dari kemajuan sebuah negara. Kembali lagi kepada asas bahwa islam datang bukan untuk hal-hal yang berbau hedonistis, individualis dan melangit. Akan tetapi islam turun sebagai petunjuk manusia yang di dalamnya ada semangat yang mendorong perubahan pada masing-masing individu dalam menjalankan kehidupan sosialnya.
Kebangkitan islam di tandai dengan masyarakatnya yang mulai melek terhadap keterpurukan islam di segala sisi. Kepekaan ini nantinya akan membangun motivasi dalam membenahi islam agar kemudian bisa mencapai kejayaannya kembali. Wallahualam bi sawab
Editor : Izzul Khaq