Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Muhammadiyah dan NU dalam Pusaran ‘Glorifikasi’ FPI

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Februari 2, 2021
in Esai
0
Nurbani Yusuf
21
SHARES
123
VIEWS

Pernyataan aktor komedian simpatisan FPI, Panji Pragiwaksono yang menyebut bahwa FPI selalu ada saat dibutuhkan karena Muhammadiyah dan NU jauh dari masyarakat, sungguh menarik.

Tak perlu baper lantas sebut ribuan amal usaha atau pesantren untuk mengcounter.  Ini bukan soal kompetisi tentang banyaknya amal usaha atau jumlah pengikut, apalagi mengkomparasi FPI dengan Muhammadiyah atau NU sungguh tidak selevel.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Tapi dengan jujur harus diakui, inilah kelihaian media membranding image atau opini FPI kepada publik, ya semacam glorifikasi. Ironisnya, banyak yang katut dan larut dalam skema berpikir yang mereka bentuk, tidak terkecuali ormas yang disebut modern dan besar karena memiliki amal usaha dan jumlah pengikut fantastis.

Nyatanya, gerakan FPI lebih fenomenal meski dalam skala yang sangat kecil. Kehadiran FPI membagi-bagi puluhan atau  ratusan nasi bungkus ditempat- tempat bencana lebih menarik dan memikat publik, dibanding puluhan milyar bantuan yang diberikan Muhammadiyah melalui MDMC atau LAZISMU dan NU berikut Banomnya dengan tidak bermaksud menafikkan BNPB.

Benarkah FPI hadir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Muhammadiyah dan NU, yaitu sikap kritis, anti mapan dan perubahan ? Sampai tahap itu, FPI dianggap dapat memberi keleluasaan dan harapan perbaikan terhadap stagnansi politik dan demokrasi yang memburuk. Dua hal yang menurut saya luput dari perhatian dua ormas besar itu. FPI adalah harapan baik, yang kemudian diberi kemasan agama; nahi munkar. Sebab Muhammadiyah dan NU dianggap lebih banyak amar ma’ruf-nya.

FPI hadir melawan rezim dan itu memikat sebagian orang yang memiliki irisan dan kesamaan pemikiran dan pergerakan terutama mimpi tentang negara Islam yang tidak tersalur di kedua ormas besar itu. Bagi sebagian kecil orang, FPI adalah solusi, Muhammadiyah dan NU dianggap lembek, jinak atau bahkan bagian dari rezim. Dengan bahasa yang sedikit sopan mereka yang tidak puas menyebut Muhammadiyah dan NU lebih condong pada amar ma’ruf ketimbang nahi munkar-nya.

Nahi munkar dipahami melawan kemapanan. FPI kemudian mengubah diri menjadi kanal aspirasi sebagian yang tidak terkover, meski masih harus banyak riset untuk membuktikan. Dengan metode analisis teks hermeneutik fenomenologis dari para pengikut dan pemimpin kedua ormas besar itu terhadap fenomena yang tersedia, saya pikir cukup siginifikan menyebut bahwa irisan ideologi tersebut demikian kentara dan mudah dibaca. Meski secara empiris dapat disebut sebagai ‘kekalahan psikologis’ pasca Pilpres. Efeknya begitu dominan dan susah dilupakan.

Yang diglorifikasi tak boleh atau tak bisa salah, selalu benar atau dicarikan pembenar untuk memenuhi hasrat glorifikasinya itu. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah melawan habis sikap yang melahirkan taklid buta ini.

Enciklopedy Britanica mendefinisikan, Glorifikasi, adalah pemujaan terhadap seseorang atau kelompok di era modern, sebuah istilah yang agak sopan sedikit, sebab jatuhnya sama dengan kultus. Ada beberapa sebab kenapa seseorang melakukan glorifkasi. Salah satunya identifikasi personal;  Habib Rizieq berhasil tampil memerankan diri sebagai korban yang didzalimi dan itu efektif untuk meraih simpati publik, sebagai modal awal glorifikasi. Tapi sayang, kita marah saat dibilang kultus.

Padahal kultus ya kultus. Dan itu penyebab taklid buta. Ironis memang jika glorifikasi justru tumbuh subur pada perkumpulan yang menasbihkan diri sebagai modern dan berkemajuan, dan FPI adalah cara ampuh melakukan glorifikasi yang efektif tanpa banyak biaya sebab justru dilakukan ormas besar tanpa diminta.

Tapi maaf, dengan ‘sombong’ saya tuliskan. Jangan ngajari Muhammadiyah dan NU peduli sesama. FPI belum lahir, tapi sudah ratusan, bahkan ribuan panti asuhan, rumah sakit, pesantren, universitas dibangun Muhammadiyah dan NU untuk negeri. Sebab itu, jangan saling mengecilkan apalagi menafikkan, betapapun itu.

Terkait

Tags: GlorifikasiMuhammadiyahPanji Pragiwaksono
Previous Post

Memaknai Hijrah dalam Konteks Indonesia

Next Post

Tidak Harus Tunggu Khilafah untuk Tegakkan Syari’at

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Tidak Harus Tunggu Khilafah untuk Tegakkan Syari’at

Tidak Harus Tunggu Khilafah untuk Tegakkan Syari'at

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.