Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Close atau Loss-Democration?

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
September 24, 2020
in Esai
0
demokrasi
34
SHARES
202
VIEWS

Mungkin itu hikmahnya, kenapa Tuhan tidak bisa dilihat. Betapa ‘repotnya’ Tuhan mengabulkan milyaran kehendak dan keinginan dari hamba-hamba-Nya jika bisa dilihat. Apakah seorang pemimpin dari sistem demokrasi dipilih untuk memenuhi hajat hidup orang banyak?

Dengan kurang lebih 207 juta kepala yang punya hak memilih dan dipilih, kira-kira sistem apa yang paling cocok dan sesuai untuk memerintah? Betapa susahnya memimpin pada sebuah komunitas dengan banyak aspirasi. Alih-alih hidup makmur, adil dan sejahtera. Bukankah demokrasi tidak didesain untuk itu, tapi sebaliknya memangkas kehendak ratusan juta orang agar tak banyak berkata? Diringkas dalam satu gambar yang dipilih kemudian diberi mutlak berkuasa. Jadi siapa sebenarnya yang bikin tiran?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Demokrasi adalah ikhtiar memutus mata rantai kekuasaan agar tidak memanjang dan meluas tapi diringkas agar simpel dan efisien. Jadi demokrasi itu bukan tujuan, hanya salah satu alat atau media untuk mudah berkuasa. Belum ada kajian apakah ada korelasi antara demokrasi dengan hidup susah, ketidak adilan, dan berbagai kezaliman.

Urgensi Demokrasi

Ada kisah seorang ulama datang menghadap kepada khalifah Harun Al Rasyid, ia berkata akan memberikan nasehat dengan keras sehubungan dengan berbagai kezaliman dan kesengsaraan yang menimpa rakyat kebanyakan.

Sebelum ulama bernasihat, Khalifah Harun Al Rasyid balik bertanya. Di dunia ini, apa ada raja selalim Firaun yang mengaku dirinya Tuhan, berkuasa sewenang-wenang tanpa batas dan menyengsarakan rakyat banyak? “Tidak ada,” jawab ulama itu tegas,

Khalifah melanjutkan: “Kepada Firaun yang lalim saja Tuhan memerintahkan Musa as dan Harun as untuk mengedepankan adab, berkata sopan dan lemah lembut bahkan Tuhanpun mendoakan kepada Firaun raja lalim itu supaya takut dan ingat. Berarti aku lebih berhak mendapat perlakuan baik dan sopan, lebih dari si lalim Firaun,” jawab khalifah. Sontak ulama tadi beringsut mundur tak jadi bernasehat karena kalah ‘alim.

Loss-Democration menyediakan ketersediaan ruang publik tanpa batas bagi khalayak untuk menyampaikan aspirasi dan kehendak. Semua bicara bahkan yang seharusnya tidak bicara. Aspirasi tanpa batas, kritik tanpa adab.

Jika rakyat dan penguasa saling curiga akibatnya fatal. Jadi jelas mana yang harus diubah, sistemnya atau orang-orangnya yang berkuasa. Bukankah pemimpin adalah cermin kata al Mawardi? Pemimpin baik lahir dari masyarakat baik, pemimpin culas lahir dari masyarakat culas. Tesis ini begitu gamblang menggambarkan realitas demokrasi.

Dalam diskursus politik kekuasaan modern hampir semua sepakat bahwa demokrasi adalah cara memerintah terbaik dibanding kerajaan, monarki, bahkan khilafah sekalipun. Jadi apa yang sebenarnya kita inginkan? Perubahan sistem atau orang?

Mungkin saja seorang khalifah atau raja atau presiden atau emir ditakdirkan menjadi ‘wakil Tuhan’ di bumi yang bisa dilihat. Dengan begitu semua kehendak dan harapan tumpah, termasuk sumpah serapah akibat kesal. Di saat itulah kekuasaan menemukan ma’rifat nya dalam ketenangan dan kesahajaan ditengah amuk massa karena penderitaan dan ketidak adilan. Wallahu Ta’ala a’lam.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: demokrasikhilafah
Previous Post

Islam dan Modernisasi: Merawat Ide Pembaruan Cak Nur

Next Post

Nasehat Buya: Bukan Telat tapi Kartu Truf

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Nasehat Buya: Bukan Telat tapi Kartu Truf

Nasehat Buya: Bukan Telat tapi Kartu Truf

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.