Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Satu Kesatuan Sains dan Islam

RedaksiKS by RedaksiKS
Agustus 28, 2020
in Esai
0
Pendidikan keluarga
40
SHARES
238
VIEWS

Oleh: Latifah Nur Fauzi

Isu tentang sains Islam merupakan perkembangan isu tentang Islam dan Sains yang ada sejak abad XVII terkait dengan kontak Islam (sains agama) dan Barat dalam keseluruhan dunia Islam. Pada saat itu, dunia Islam sedang terjangkit catching up sydrom (sindrom pengejaran ketertinggalan).

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Untuk mengatasi hal tersebut upaya dari pemerintah Turki Usmani untuk memodernisasi diri setelah berbagai kekalahan dalam perang melawan Eropa. Kegagalan menguasai Wina (1683 M) yang merupakan titik awal kekalahan yang diikuti kegagalan dalam mempertahankan kawasan Eropa Timur sehingga lepas ke tangan bangsa Eropa. Melalui perjanjian Carlowits (1699 M) Hongaria pindah kekuasaan Austria, Polandia dan Avoz ke Rusia.

Pemerintah Turki Usmani berkesimpulan bahwa faktor penyebab rangkaian kekalahan tersebut adalah ketertinggalan teknologi militer dari bangsa Eropa. Satu-satunya jalan adalah dengan mengejar ketertinggalan yang dilakukan dengan mengirim duta untuk melihat dari dekat sejauh mana kemajuan Eropa kala itu. Sultan Ahmad III (1703-1730M) mulai mengadakan pembaharuan di Turki dengan mengadopasi sains dan teknologi Barat.

Baca Juga: Orasi Pengukuhan Profesor, Najib Burhani Bicara Soal Intoleransi

Itu dilakukan dengan mengirim orang ke Barat dan mengundang orang Barat khususnya untuk mengajar strategi dan penggunaan peralatan modern. Dan dilanjutkan dengan mempelajari dan menyebarkan sains Barat melalui penerjemahan. Usaha lain juga di lakukan oleh Mohamad Ali Pasya di Mesir pasca peninggalan Napoleon yang mendirikan laboratorium di Mesir menjadi tonggak modernisasi di Mesir.

Sains Netral Agama

Dalam perkembangannya, adopsi sains dan teknologi berkutat dalam ilmu-ilmu alam merambah ke ilmu lain. Sebagai dampak dari penerjemahan buku-buku Barat dan pengiriman pelajar ke Barat. Pemikiran politik ketatanegaraan, filsafat, sastra dan lainnya juga turut mempengaruhi masyarakat Islam. Pengaruh tersebut sangat nyata di Turki, antara lain masuknya unsur hukum-hukum Barat khusunya Perancis. Perubahan struktur pemerintah dengan pembatasan wewenang Syeikh hanya pada hukum Islam.

Selain itu di Mesir juga marak pemikiran Barat sejak al-Tahtawi hingga Abduh. Mengejar ketertinggalan dalam bidang sains dan teknologi merupakan upaya membangun kembali kejayaan peradaban Islam.

Corak modernisasi semacam ini menyiaratkan bahwa sains dan teknologi tidak mempengaruhi keyakinan keagaman. Sains dan teknologi adalah alat yang netral dan dapat digunakan oleh siapa saja sekalipun beda agama dan budaya. Pandangan ini di tegaskan oleh banyak pemikir yang dapat digolongkan pada kelompok instrumentalis.

****

Selain itu ada sekelompok ilmuwan tidak sekedar mendukung upaya aposisi dan adopsi sains Barat, karena tidak ditemukan pertentangannya dengan Islam. Bahkan mereka lebih jauh berupaya menunjukkan keselarasan Al-quran dengan sains modern. Berbagai temuan sains modern ditunjukkan dalam ayat-ayat Al-quran yang terkait sehingga dapat membuktikan bahwa temuan itu selaras dengan peryataan Al-quran.

Hal  tersebut membuktikan kebenaran Al-quran secara ilmiah. Hal tersebut dianggap sebagai salah satu kemukjizatan Al-quran karena telah berbicara tentang kebenaran ilmiah sebelum sains modern membicarakannya.

Bahkan muncul konferensi  internasonal tentang kemukjizayatan Al-quran dan hadis pada 18 Oktober 1997 oleh Internatonal Islamic University Islambad dan Hay’at al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah di Mekkah. Semua bahasannya berkisar pada bagian-bagian tertentu dari Al-quran dan hadis melalui temuan ilmiah sebagai pembuktian kebenarannya. Keterbuktian ilmiah tersebut dapat mendongkrak rasa percaya diri umat Islam dalam ketertinggalannya dari Barat dalam bidang sains.

Sains dan Islam adalah Mukjizat

Dalam hubungannya aspek sains secara lebih fundamental oleh para pemikir sains Islam yang lebih  dikenal dengan proyek islamisasi sains, atau yg disebutkan oleh Muzaffar Iqbal sebagai ‘jaringan baru’ (new nexus). Mereka tidak hanya melihat sains sebagai sekedar instrumen yang netral karena menekankan pada sisi temuan. Juga tidak menekankan pada temuannya untuk  membuktikan kebenaran wahyu.

Mereka melihat sains secara lebih menyeluruh bahkan menyentuh aspek-aspek fundamentalnya. Seperti Syed Muad Naquid Al-Attas (1931), Ismail R. al-Faruqi (1921-1986), Zainuddin Sardar (1951).  Para pemikir ini tidak melihat sains hanya sebagai kumpulan teori atu temuan yang diterapkan dalam teknologi beserta metode khasnya. Mereka juga tidak melihat sains Barat sepenuhnya jelek sehingga harus ditolak.

Sama seperti pemikir sains Islam lainnya, Al-Faruqi menilai sains Barat bukan sekedar instrumen yang nentral. Karena persoalan dan pengalaman sejarah yang berbeda dunia Islam dan Barat cenderung memperlihatkan orientasi yang berbeda.

****

Persoalan ketertinggalan dalam bidang sains dan pandangan terhadap kebudayaan Barat yang masih mewarisi mental abad tengah memberikan dominan dalam wacana agama dan sains dalam dunia Islam. Selain itu tujuan untuk kemajuan Islam tersebut adalah sisi lain yang memperlihatkan perbedaan orientasi wacana di Barat.

Baca Juga: Bangkitnya Era Mitos, Matinya Kepakaran

Selain itu umat Islam juga berhadapan dengan persoalan teologis, dikarenakan sains datang dari budaya Barat yang selama ini dianggap sebagai kafir atau bahkan musuh. Maka berbagai wacana yang muncul dalam relasi Islam dan sains dapat dikatakan sebagai proses bagian “apropriasi”.

Meminjam istilah AI Saban, sebagai proses aktif asimilasi dan integrasi warisan suatu budaya ke dalam matriks hidup budaya umat Islam klasik ketika mengambil warisan khazanah Yunani. Inilah yang terjadi dalam dunia Islam sebagai sebuah dinamika percarian formulasi yang tepat dalam agama dan sains.

Penulis adalah Mahasiswa Konseling Islam Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN Surakarta

Terkait

Tags: AgamaEgalitarianIslamPeradabanSains
Previous Post

Memaknai Hijrah dan Gerakan Hijrah secara Lebih Mendalam

Next Post

Beda Tipis Khilafah dengan Syiah

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
khilafah syiah

Beda Tipis Khilafah dengan Syiah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.