Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Demokrasi Milenial di Era Digital

Muhammad Saleh by Muhammad Saleh
Agustus 11, 2020
in Esai
0
Apakah “Musim Kemarau” Toleransi Datang Lagi?
65
SHARES
385
VIEWS

Pada tahun 2020-2030 sering kali dianggap sebagai era para pemuda. Sebab, pada periode tersebut diperkirakan terjadinya puncak bonus demografi. Yang dimaksudkan bonus demokrafi disini adalah bonus yang dinikmati suatu negara akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi penduduk yang dialaminya (milenial demokrasi).

Pemuda sebagai agen perubahan. Jauh sebelum proklamasi, para pemuda telah menegaskan sebuah cita-cita akan adanya satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bernama Indonesia. Kita kembali mengingat momen sumpah pemuda 1928 merupakan awal reputasi dan tekad anak muda untuk mewujudkan mimpinya menjadi bangsa yang merdeka. Kemerdekaan Indonesia dipelopori oleh pemuda.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Siapakah Generasi Milenial Itu?

Pembahasan mengenai generasi milenial mulai menguat untuk dibahas sejak tahun 2015. Pembahasan mengenai “apa generasi milenial?” menjadi hangat mengingat banyaknya anggapan yang dialamatkan kepada generasi tersebut. Menurut Alvara Research (2016) dimana tahun 2020, generasi milenial berada pada usia produktif (20-40) yang berjumlah 83 jutajiwa 34 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Dialektika pembahasan milenial membuahkan adanya batasan pembeda antara generasi pendahulunya (generasi X) dengan generasi kini (generasi milenial) yang lahir berbarengan dengan akselerasi perkembangan teknologi dan informasi di dunia.

Era milenial yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, melahirkan generasi-generasi milenial yang juga sangat bergantung pada keberadaan teknologi. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini sangat mengancam kehidupan sosial manusia. Manusia di era milenial, cenderung hidup solitaire, asyik dengan dirinya, dan asyik dengan dunianya.

Baca Juga: Memaknai Keberadaan Sukma Intelektualisme

Kemajuan teknologi yang serba memudahkan, membuat manusia merasa bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa memerlukan interaksi dengan banyak orang. Keadaan seperti ini, membuat generasi muda menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi masyarakat di sekitarnya. Dan bahkan nyaris para pemuda tidak lagi memiliki semangat perjuangan, apalagi semangat perlawanan.

Di era digital saatini, pemikiran dan peran pemuda sangat diharapkan. Karena itu, pemuda tidak boleh acuh tak acuh dengan kondisi bangsa dan negara saat ini.

Teknologi, Informasi dan Demokrasi

Seiring cepatnya perkembangan teknologi, membawa dampak pada kondisi sosial masyarakat, terutama mereka yang hidup berbarengan dengan lahirnya platform digital. Akses informasi mudah didapatkan. Berbeda dengan generasi sebelumnya di mana Koran fisik menjadi rujukan utama, yang dengan mudah dikendalikan oleh otoritas pemerintah.

Hasil riset rilisan New Research Center (2010) secara gambling menjelaskan keunikan generasi milenial dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini terlihat tajam pada penggunaan teknologi yang ada saat ini.

Baca Juga: Konsep Tauhid Seharusnya Menginspirasi Sikap Moderasi

Penggunaan internet di Indonesia mengalami tren meningkat dari waktu ke waktu berkaitan meluasnya dampak perkembangan teknologi di ruang globalisasi. Secara individu, generasi milenial tergolong mayoritas sebagai pengguna dalam kategori ketergantungan, sementara berbanding terbalik dengan kelompok individu pada generasi X.

Kondisi demikian juga menyebabkan demokrasi mengalami pergeseran. Demokrasi di era digital ini, bahkan pengarahan informasi bagi publik jadi penentu bagi publik. Menurut Leggewie dan Beiber dalam Nielsen (2018), kebebasan memperoleh atau memberikan informasi secara efektif lebih penting dibandingkan potensi mendapatkan akses dalam proses politik digital.

****

Demokrasi dunia digital saat ini, sangat memberikan keleluasaan bagi masyarakat dalam mengeluarkan opini dan argumentasinya, bahkan menyebarluaskannya. Held (2004) mengatakan bahwa masyarakat bisa bersikap sebagai pengadil dan menjadi legislatif dalam demokrasi masa sekarang.

Berbicara terkait demokrasi, bukanlah hal yang tabu dibicarakan di level akar rumput. Beragam tagar, opini, berita bisa menjadi sebuah alat penekan maupun pendukung bagi sebuah kebijakan. Hal ini merupakan salah satu dampak buruk dari derasnya arus teknologi dan informasi yang tumbuh dalam ruang lingkup demokrasi, seperti pembodohan secara massif melalui konten bohong, dan masih banyak yang lainnya.

Maraknya tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang membuat demokrasi di platform digital menjadi reseh, bahkan nyaris tidak mencerdaskan. Tidak perlu ditutupi lagi, pelbagai informasi bohong atau hoaks justru massif untuk menjatuhkan sebuah kelompok.

Segala kemajuan yang terjadi perlu dimanfaatkan demi memperkuat demokrasi. Generasi milenial perlu memetik pelajaran yang dilakukan pendahulunya karena gagap memasuki teknologi yang bergulir cepat itu.

Milenial dan Demokrasi

Berbicara tentang milenial tentu dilekatkan dengan hal-hal yang mendorong ke arah pembaharuan di pelbagai bidang. Hal itu terlihat bagaimana sarana dan prasarana yang tersedia bagi kaum milenial, dengan kecanggihan alat tekonlogi akan mempermudah mereka untuk meraih kesuksesan.

Generasi milenial di Indonesia hari ini menjadi semacam pembuka babakan baru demokrasi. Jelas sangat menarik untuk diperbincangkan bagaimana nasib demokrasi di tangan milenial. Karena di dalam diri kaum milenial terdapat tiga karakter, yaitu: creative, connected, confidence, ketiga karakter ini akan berdampak pada demokrasi yang lebih inovatif dan inklusif sesuai dengan karakter mereka.

Kenapa begitu? Pertama, milenial memiliki modal pendidikan yang cukup mempuni dibandingkan generasi sebelumnya. Artinya mereka mempunyai ragam referensi yang kelak membentuk pemikiran menjadi lebih terbuka. Kedua, milenial memiliki banyak koneksi melalui group-group yang memudahkan koneksi satu dengan yang lain. Ketiga, milenial akan mendapatkan ide-ide baru seiring berkembangnya teknologi yang akan bermanfaat untuk mengisi kekosongan demokrasi.

Baca Juga: Haedar Nashir: MUI sebagai Perekat Umat dan Bangsa

Sampai saat ini, ruang demokrasi cenderung dikuasai oleh lingkaran elitis, tokoh lokal, anak tokoh atau pengusaha masih menghiasi ranah pemerintah atau masyarakat. Ketergantungan segelintir tokoh kerap kali membikin peranannya absolut, dan berpotensi terjadi pelanggaran hak kewajiban mereka dalam menjalani demoraksi. Disinilah peran milenial sangat dibutuhkan dalam mengelola demokrasi untuk masa depan.

Kaum Milenial Untuk Demokrasi

Kita kembali menelisik demokrasi Orde Lama. Pada masa Orde Lama, demokrasi dihidupi oleh para elite-elite nasional yang silih berganti melakukan mobilisasi massa untuk merebut kekuasaan dan menjadikan politik identitas baik suku daerahan sampai ideologi adalah alat untuk mendapatkan simpati. Demokrasi pada saat itu terlihat baik, namun tidak teratur sehingga menggunakan cara-cara penjatuhan lawan dalam merebut sebuah kekuasaan.

Setelah memasuki Era Orba, demokrasi justru terbungkam dengan munculnya kebijakan stabilitas politik yang kemudian mengunkung ruang gerak bagi gerakan dan masyarakat.

Selama masa itu, demokrasi yang sesungguhnya masih hidup hanya ada di arus bawah tanah yang sekali meletup dan menampakkan diri kemudian menghilang.

Sejak reformasi bergulir, demokrasi mengalami perkembangan pesat dengan kemunculan banyak partai dan menjamurnya organisasi non-pemerintah di Indonesia. Di samping itu system transisi pemerintahan dan penyampaian aspirasi berjalan lebih demokratis. Kondisi pasca-reformasi ini lantas memunculkan romantisme demokrasi di era awal kemerdekaan.

Romantisme demokrasi hanya berjalan sekitar dua dasawarsa, setelah itu demokrasi di Indonesia mengalami stagnan. Selepas dua dasawarsa reformasi disuguhkan dengan praktik gerakan politik lama yang kuno, apung dan using. Cara-cara ini sejalan dengan munculnya praktik KKN dalam perebutan kekuasaan. Generasi milenial menjadi harapan bagi nasib demokrasi bangsa, bagaimana demokrasi itu bisa melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat di negara Indonesia ini. Wallahu A’lam Bissawab

Terkait

Tags: demokrasiKamum MudaKebangsaanmilenial
Previous Post

Mustofa Kemal Ataturk, Benarkah Peletak Transformasi Peradaban?

Next Post

Islam Moderat Absen dari Tayangan Televisi

Muhammad Saleh

Muhammad Saleh

Next Post
Makroen Sanjaya

Islam Moderat Absen dari Tayangan Televisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.