Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mustofa Kemal Ataturk, Benarkah Peletak Transformasi Peradaban?

Sidik Saiful Anwar by Sidik Saiful Anwar
Agustus 11, 2020
in Sosok
0
Mustofa Kemal Ataturk, Benarkah Peletak Transformasi Peradaban?
58
SHARES
342
VIEWS

Mustofa Kemal Ataturk nama aslinya adalah Gazi Mustofa Kemal Pasa, seorang perwira militer dan negarawan Turki, yang memimpin revolusi negara tersebut. Yang merupakan pendiri serta presiden pertama Republik Turki. Serta telah memperkenalkan serangkaian pembaharuan luas dalam usahanya menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Sehingga majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama belakang “Ataturk” (yang berarti “Bapak Bangsa Turki”)

Islam di Masa Ottoman

Pembahasan tentang gerakan Ataturk, maka tidak terlepas dari gejala dan gejolak keislaman di masa Ottoman. Sehingganya, pembaca akan sedikit mengarungi kedinastian Ottoman, bangsa Turki. Yang terkenal dengan pasukan berkuda dan kemiliteran yang handal. Hal tersebut terjadi sebelum masuknya faham barat dan melakukan transformasi.

TulisanTerkait

Cahaya dari Pesisir: Menelusuri Jejak Intelektual Ahmad Dahlan dan Kartini dalam Arus Pembaruan Bangsa

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Dinasti Ottoman yang berdiri pada abad XIV dan berakhir pada abad XX, dengan pasti telah menjadi kajian sejarah yang sangat kaya dengan peristiwa pelajaran yang dapat dipelajari di era sekarang. Dan kajian sejarah Ottoman, tidak pernah lepas dengan keislaman Bangsa Turki.

Baca Juga: Pembukaan Hagia Sophia, Tanggung Jawab Kesetiaan dan Penghormatan Alur sejarah

Secara antropologis, Bangsa Turki kadangkala disebut ‘war nation’ ataupun ‘war machine’, yang mana hal ini terjadi karena karir mereka dalam perluasan wilayah kekuasaan Ottoman.  Karena sejak semasa Abasid maupun Seljuk, bangsa Turki ini telah dikenal sebagai pasukan berkuda yang handal.

Dinasti Ottoman memiliki puncak kejayaan pada abad XVI. Yang militansi kemiliterannya ditopang oleh sepirit jihad melawan orang kafir Eropa, dengan dimikian semangat penaklukan semakin berkobar.

Runtuhnya Dinasti Ottoman

Massa rakyat di bawah kekuasaan Ottoman itu adalah kaum petani,yang mana tidak memiliki riwayat pendidikan secara baik, sehingga kekuasaan Ottoman mengandalkan kontrol secara militer dan doktin ketaatan kepada sultan sebagai pemimpin agama.

Krisis Ottoman semakin terlihat dipermukaan, ketika apa yang disebut ‘millet system’ semakin otonom dari kontrol pusat. Sementara Eropa sudah bangkit dari keterbelakangan. Millet systemadalah suatu bentuk perjanjian antara Ottoman dan kekuasaan asing untuk menjalin kerjasama ekonomi berdasarkan pengelompokan agama.

Berbagai cara untuk mengantisipasi kemerosotan Ottoman telah dicoba, misalnya oleh gerakan Tanzimat, Turki Muda, dan Sultan Muhammad II (1880). Sebagaimana ciri-ciri gerakan yang ditawarkan yaitu,berusaha untuk mengenalkan mesin percetakan, ilmu kemiliteran dan semacamnya, yang telah dipandang sebagai gerakan baru di Eropa.

****

Namun berbagai upaya dan usaha yang telah dilakukan gagal, karena disebabkan oleh fanatisme teologis, yang menyebabkan keyakinan kuat dikalangan sultan.Karena sultan pada saat itu bernilai sebagai etos ketaatan, sehingga keyakinan tersebut adalah Tuhan mesti berpihak pada dirinya, dan orang kafir Eropa tidak mungkin bisa mengalahkan kekuatan islam.

Secara sejarah, islam pada mulanya dinilai sebagai pengantar kejayaan Ottoman. Pada akhirnya islam diideologisasikan sebagai kekuatan penyangga Ottoman yang tampak besar tapi rapuh. Karena doktrin ideologis yang telah ditanamkan adalah etos jihad dan ketaatan pada ulil al-amri ketimbang etos kerja dan etos keilmuan.

Modernisasi Bukan Westernisasi

Menginjak pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 1923. Republik Turki secara resmi memproklamirkan, dimana Mustafa Kemal Ataturk terpilih sebagai presiden  pada umurnya yang ke-42 tahun, oleh sidang parlemen.

Jikalau gerakan Ataturk ditempatkan dalam perspektif sejarah, maka peristiwa tersebut merupakan mata rantai yang memiliki kesinambungan dengan sejarah sebelumnya. Apa yang dilakukan Ataturk merupakan pengejawantahan ide-ide tentang modernisasi dan westernisasi, yang pernah dicanangkan oleh tokoh-tokoh sebelumnya , terutama Ziya Gokalp.

Ide-ide yang dicanangkan oleh Gokalp, sampai kini hampir tidak ditentang oleh intelektual Turki. Dengan kata lain, telah mengisyaratkan bahwa, secara kultural islam tetap bertahan dan telah menjadi identitas bangsa Turki hingga hari ini. Dan pada masa kekuasaan kemal Ataturk, kini keislaman bangsa Turki lebih bersifat individual dan kultural, dengan ungkapan lain Ataturk yaitu “Islam-Yes, Negara Islam-No”.

Dengan demikian secara tegas-tegas, yang ditentang oleh Ataturk adalah Ideologi Klerikisme (Ottoman), bukan nilai-nilai Islamnya.

Gerakan Kemal Ataturk

Ketika peristiwa terjadinya kekalahan perang dunia pertama, Turki Usmani berada diambang kehancuran. Dan ketika itu, Ataturk pun melihat bahwa satu-satunya ideologi yang dapat memobilisasi massa dan kaum intelektual Turki, tidak adalagi kecuali ideologi nasionalisme. Sedangkan model pembaharuan dan alternatif satu-satunya ialah meniru Barat.

Ada kemiripan antara Ottoman dengan dengan gerakan Ataturk melihat islam, yaitu islam didekati secara prakmatik untuk tujuan politik. Yang mana Ataturk melihat islam sebagai refleksi sosial masyarakat Turki yang telah berakar dan memiliki kekuatan integrasi bagi pertumbuhan Bangsa Turki.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh modernisasi dan westernisasi di Turki tidak pernah menyatakan anti-agama, tetapi adanya keinginan untuk mengadakan rasionalisasi agama, agar agama menjadi kekuatan penopang bagi kemajuan Bangsa Turki.

****

Sebagaimana dikemukakan oleh Syerif Mardin, sistem pendidikan Barat yang dipaksakan oleh Ataturk ternyata telah berjasa besar bagi peningkatan intelektual ‘kaum santri’. Dengan demikian, kalau saja Revolusi Ataturk ini berlangsung seabad sebelumnya, mungkin sekali nasib dunia islam tidak akan tertinggal sedemikian jauhnya dari barat, dalam bidang iptek dan sosial kemasyarakatan.

Sehingga hasil westernisasi dan modernisasi sistem pendidikan yang diimpor oleh Mustofa Kemal Ataturk justru pada gilirannya telah memberikan peluang dan fasilitas bagi umat Islam Turki untuk beradaptasi dengan dunia Barat tanpa harus tercerabut dengan keyakinan agamanya.

Ilustrasi: serambiindonesia.co

Terkait

Tags: Mustafa KemalRevolusiTurkiWesternisasi
Previous Post

Milad Al-Insyirah Muhammadiyah

Next Post

Demokrasi Milenial di Era Digital

Sidik Saiful Anwar

Sidik Saiful Anwar

Next Post
Apakah “Musim Kemarau” Toleransi Datang Lagi?

Demokrasi Milenial di Era Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.