Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bersedekah Memang Istimewa, Tapi Tidak Boleh Menyiksa

Akhmad Idris by Akhmad Idris
Juni 7, 2020
in Akhlak
0
Sumber: huffingtonpost.com

Sumber: huffingtonpost.com

30
SHARES
174
VIEWS

Bulan suci Ramadhan kerap kali disebut sebagai “Bulan Sedekah”, sebab di bulan ini banyak orang yang sibuk bersedekah, baik lewat berbagi ta’jil maupun berbagi untuk sahur. Kebiasaan memberi memang telah dicontohkan oleh Nabi dalam kehidupan beliau sehari-hari. Nabi Muhammad sangat gemar bersedekah. Penggunaan term “sangat” disebabkan oleh keengganan Nabi Muhammad menyimpan uang lama-lama.

Di dalam kitab Fi Bayt al-Rasul karya Nizar Abazhah ̶ seorang Guru Besar dalam bidang Sirah Nabawiyyah  di Akademi al-Fath al-Islami Syria ̶ diceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah dalam keadaan sedang menjadi Imam pada jama’ah shalat Ashar. Tiba-tiba Nabi Muhammad teringat ihwal beberapa keping emas yang ada di rumah beliau. Segera Nabi Muhammad mempercepat shalat, lalu pasca shalat Nabi langsung bergegas kembali pulang.

TulisanTerkait

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Ketika Anak Membangkang, Siapa Sebenarnya yang Harus Disalahkan?

Validasi Manusia vs Ridha Allah: Kita Lagi Mengejar yang Mana?

Selang beberapa saat, Nabi Muhammad telah kembali dengan membawa beberapa keping emas tersebut. Nabi Muhammad lalu bersabda, “Emas ini telah mengganggu shalatku. Oleh sebab itu, aku ingin terbebas dari belenggu ini”. Hal yang terjadi selanjutnya adalah keping emas telah berpindah kepemilikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Kisah Uang Tujuh Dinar

Tak hanya itu, bahkan ketika Nabi Muhammad dalam keadaan kritis ̶ hari-hari menjelang Nabi Muhammad wafat ̶ beliau masih saja teringat ihwal sisa uang tujuh dinar yang belum disedekahkan. Tanpa berpikir panjang, Nabi Muhammad segera memerintahkan keluarganya untuk menyedekahkan seluruhnya. Sayangnya, perintah itu diacuhkan begitu saja oleh istri-istrinya, sebab mereka lebih bingung dan sedih melihat Nabi Muhammad yang sedang sakit.

Ketika Nabi telah siuman ̶ sebelumnya tidak sadarkan diri alias pingsan ̶ beliau melihat Aisyah sedang duduk di samping beliau. Lalu Nabi Muhammad bertanya, “Apa yang telah kau lakukan terhadap uang tujuh dinar tersebut?” Dengan keputusasaan dan kesedihan, Aisyah menjawab, “Semuanya masih utuh ada padaku. Kami semua sibuk mengurusmu, wahai Rasulallah.”

Baca Juga: Benarkah Cara Beragama Muhammadiyah Bercorak Individualistik dan Egoistik?

Kemudian Nabi Muhammad Saw meminta uang tujuh dinar tersebut, menggenggamnya dalam telapak tangan, dan bersabda penuh iba, “Apa yang bisa dikatakan oleh Muhammad jika nanti menghadap Allah dengan masih membawa ini (uang tujuh dinar)?” Untuk kesekian kali, Nabi Muhammad kembali memerintahkan uang itu segera disedekahkan. Kali ini, uang itu benar-benar habis tak bersisa untuk kaum fakir.

Urgensi bersedekah memang tampak jelas dari cara Nabi dalam keadaan sakit masih merepotkan diri untuk menyedekahkan hartanya, namun apakah bersedekah itu tanpa batas? bahkan hingga seluruh harta yang dimiliki bebas disedekahkan?

Dermawan yang Sesuai Takaran

Jika berderma tidak terbatas, maka bagaimana jadinya jika seseorang memilih menyedekahkan semua harta yang dimiliki hingga dirinya tak memiliki apa-apa, bahkan untuk sekadar baju saja tak punya? Di dalam kitab Fi Bayt al-Rasul juga dijelaskan tentang asbab an-Nuzul dari surat al-Isra’ ayat 29 yang berhubungan dengan pertanyaan ini.

Suatu waktu, seorang budak pernah datang menemui Nabi Muhammad dan berkata, “Ibu menyuruhku meminta ini dan itu kepadamu”.

Nabi Muhammad menjawab, “Aku hari ini sama sekali tidak memiliki satu hal apapun yang bisa kuberikan pada ibumu.”

“Ibuku sempat berkata bahwa baju yang kau kenakan saat ini juga boleh,” ucap budak tersebut.

Tanpa berpikir panjang, Nabi Muhammad langsung melepas baju dan memberikannya pada budak tersebut. Akhirnya, Nabi Muhammad terduduk di rumah beliau tanpa berpakaian. Kondisi semacam ini membuat Nabi Muhammad tak bisa keluar rumah untuk melakukan shalat berjamaah ketika telah tiba waktunya. Para Sabahat sungguh terheran-heran melihat kondisi Nabi Muhammad tanpa pakaian. Seketika itu juga, Umar bin Khattab bertanya pada beliau, “Apakah seperti ini perintah Allah?”

Sedekah dalam Keseimbangan

Atas pertanyaan Umar inilah, turun surat al-Isra’ ayat 29 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya. Karena dengan seperti itu, kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Al-Quran al-Adzim menafsiri ayat tersebut sebagai anjuran keseimbangan dalam berderma. Manusia tak boleh terlalu pelit ̶ lewat analogi tangan terbelenggu leher ̶ dan juga tidak boleh loman yang overdosis ̶ lewat analogi terlalu mengulurkan tangan.

Setiap manusia yang terlalu pelit akan mendapatkan celaan, sedangkan mereka yang terlalu menghambur-hamburkan akan berujung penyesalan. Ayat ini tentu saja menjadi “alarm” bagi seseorang yang terlalu “bernafsu” dalam bersedekah hingga “menyiksa” dirinya sendiri. Seperti contoh bersedekah kepada orang fakir hingga tidak bisa menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada keluarga.

Baca Juga: Sukses di Waktu Ashar

Oleh sebab itu; di bulan yang mulia ini, mengerti tentang anjuran bersedekah saja masih belum cukup, tetapi juga harus bijaksana dalam menyisihkan sebagian dari rezekinya. Bersedekah itu hukumnya sunnah, tetapi menafkahi keluarga dan menjaga kehidupan diri itu hukumnya wajib.

Penulis adalah Alumni Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Malang

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: AnjuranramadhanSedekah
Previous Post

Noorhaidi Hasan: Anak Muda & Gerakan Hijrah Politis

Next Post

Merespon Pandemi, Muhammadiyah adalah Teladan Terbaik

Akhmad Idris

Akhmad Idris

Next Post
Muhammadiyah dan salafi

Merespon Pandemi, Muhammadiyah adalah Teladan Terbaik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.