Empat tahun silam, Bank Indonesia merilis desain baru uang pecahan kertas. Salah satu wajah pahlawan nasional yang ditampilkan dalam uang pecahan desain baru adalah Frans Kaisiepo. Bagi saya yang saat itu duduk di bangku kelas 2 SMP dengan pengetahuan minimalis, nama serta wajah Frans Kaisiepo teramat asing. Seorang muslim yang nasionalis.
Berbagai macam pertanyaan tentang Frans sempat bermunculan di kepala saya. Misalnya: “Kenapa harus orang ini yang dipasang jadi cover uang? Siapakah dia sebenarnya?”
Hingga duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah, saya masih belum mengetahui siapa Frans Kaisiepo sebenarnya. Sampai pada liburan akhir semester ganjil 2019, saya melihat salah satu postingan tentang Frans Kaisiepo yang ada di feed instagram. Karena merasa tertarik, sayapun langsung membaca artikel singkat yang ditulis di bagian caption.
Sedikit pengetahuan yang dapat saya peroleh tentang Frans Kaisiepo kemudian adalah: ia merupakan delegasi dari Papua dalam Konferensi Malino tahun 1946, pencetus nama Irian dan Gubernur Papua tahun 1964-1973.
Riwayat Hidup Murid Nasionalis
Frans lahir di Biak, 10 Oktober 1921. Biak merupakan pulau kecil yang terletak di Teluk Cendrawasih dekat sebelah utara pesisir Provinsi Papua. Menginjak usia 2 tahun, ibunya, Alberthina Maker meninggal. Ia kemudian dititipkan ke keluarga bibinya. Dalam beberapa sumber, tak banyak yang mengulas tentang bapaknya. Hanya disebutkan bahwa bapak Frans, Albert Kaisiepo merupakan seorang Kepala Suku Biak Numfor dan seorang pandai besi.
Frans beruntung. Meski berasal dari wilayah pedalaman Biak, ia dibesarkan dalam pendidikan kolonial. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat pada tahun 1928-1931, JVVS (Jongens Velvorgschool) di Korido, dan bersekolah di Sekolah Guru Normalis di Manokwari.
Baca Juga: Syafiq Mughni: Ramadhan Bulan Kemanusiaan
Pada tahun kemerdekaan Indonesia, Frans melanjutkan pendidikannya di sekolah singkat bernama Papua Bestuur School yang terletak di Kota Nica—sekarang bernama Kampung Harapan. Di sekolah ini Frans mengenal nasionalisme Indonesia lewat gurunya, Soegoro Atmoprasodjo, bekas aktivis Taman Siswa bentukan Ki Hajar Dewantara, anggota Partai Indonesia (Partindo), dan Digulis.
****
Jasa Soegoro Atmoprasodjo, guru sekaligus direktur asrama di Sekolah Pegawai Papua (Papua Bestuur School) sangat berpengaruh dalam pertumbuhan rasa nasionalisme dalam diri Frans. Soegoro—sang guru muslim nasionalis ini—mengenalkan nasionalisme Indonesia di Papua melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya, membentuk kelompok diskusi politik, dan meyakinkan murid-muridnya bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia. Sang guru juga menekankan bahwa persatuan adalah kunci utama melepaskan diri dari bangsa kolonial Belanda.
Berkat usaha-usaha yang dilakukan oleh Soegoro, benih-benih nasionalisme Indonesia pada diri Frans tumbuh subur. Menurut Bernada Meteray, dalam makalah penelitiannya berjudul Pertumbuhan Kesadaran Nasionalisme Indonesia di antara Orang Papua di Jayapura 1945-1949, Frans termasuk orang yang pertama mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Papua.
Pada tanggal 9 Juli 1946, Frans nekat menerobos masuk penjara kolonial di Hollandia (sekarang Jayapura), kemudian melobi penjaganya untuk menemui Soegoro yang ditahan di sana. Ia berbincang mengenai masa depan Irian sebagai bagian dari Indonesia. Memperoleh wejangan dari Soegoro, walaupun dalam pertemuan hanya berselang selama satu jam, cukup meninggalkan kesan dan haru yang semakin mengobarkan semangat nasionalisme Frans.
Pencetus Nama Irian
Selang dua hari dari pertemuannya dengan Soegoro, Frans berangkat menghadiri Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, suatu pertemuan yang diadakan oleh Gubernur Jenderal Belanda, Hubertus van Mook, untuk membentuk negara federal. Dalam konferensi ini, Frans mengusulkan pengubahan nama Papua menjadi Irian. Irian berasal dari bahasa Biak, irarian yang berarti sinar matahari yang menembus kabut di laut.
Pengusulan pengubahan nama Papua dilator-belakangi oleh ketidaksukaan Frans terhadap kata Papua. Papua memiliki konotasi negative, yakni mengandung kesan merendahkan orang-orang lokal.. Papua yang berasal dari bahasa Maluku, pua-pua artinya keriting. Nama Irian kemudian dijadikan akronim oleh Soekarno dan tokoh nasionalis lainnya sebagai kepanjangan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands.
Selain pengusulan nama irian, Frans mendukung wilayah Papua diintegrasikan ke dalam Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, Frans menolak apabila Papua berada di bawah karesidenan Maluku seraya menghendaki agar wilayah itu dipimpin oleh orang-orang Papua sendiri.
Usulan Frans tidak mendapat respons positif dari pihak Belanda. Bahkan dianggap tak lebih sebagai bentuk chauvinisme Biak. Gerakan Frans tentu dipandang merugikan Belanda. Gerakan Frans dalam Konferensi Malino dianggap sebagai penghalang bagi upaya mendapatkan dukungan dari daerah-daerah yang baru diserah-terimakan oleh Inggris dan Australia kepada Belanda dalam pembentukan negara federasi.
Sejak saat itu, tak ada lagi wakil dari Papua di konferensi-konferensi selanjutnya. Paska Malino, Frans dipinggirkan oleh Belanda. Ia dikirim untuk bersekolah di Opleidingsschool voor Inheemsche Bestuursambtenaren (OSIBA) selama lima tahun. Kemudian dijadikan kepala di distrik-distrik terpencil, seperti Ransiki, Manokwari, dan Mimika.
Pepera dan Akhir Hayat
Untuk menuntut penyatuan Papua ke dalam wilayah Indonesia, Frans mendirikan partai politik Irian Sebagian Indonesia (ISI) pada tahun 1961. Frans saat itu menjabat sebagai Kepala Distrik di Mimika. Pada tahun yang sama, Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-Alun Utara Yogyakarta.
Sembari menjabat sebagai Gubernur Papua menggantikan Eliezer Jan Bonay, ia juga mengemban misi untuk memenangkan Indonesia dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Dalam rangka menjalankan misinya, Frans melancarkan kampanye ke seluruh kabupaten yang ada di Papua. Papua bergabung dalam wilayah Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya.
Baca Juga: Arief Budiman, Catatan tentang Perkenalan Kecil dari Jauh
Setelah masa jabatannya sebagai gubernur selesai, Frans diangkat menjadi anggota MPR (1972), dan berlanjut menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) mulai tahun 1973-1979. Pada tahun 1979, Frans wafat. Dimakamkan di tanah kelahirannya di Biak, di Tempat Pemakaman Pahlawan Nasional Cendrawasih.
Warisan Nasionalisme Frans
Berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, Frans Kaisiepo ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Namanya juga diabadikan sebagai nama Bandara Udara Frans Kaisiepo di Biak dan nama kapal keempat dari korvet kelas SIGMA milik TNI Angkatan Laut.
Belasan tahun kemudian, fotonya diabadikan dalam uang pecahan Rp10.000,-. Ada dua poin penting terkait ini, yaitu: pertama, perjuangan Frans untuk Papua agar tidak dilupakan baik oleh rakyat maupun pemerintah Indonesia. Kedua, ada keterkaitan erat antara Papua dengan Muslim Nasionalis yang telah mendorong lahirnya nasionalisme Indonesia di Papua.
Maknanya, dalam membangun Indonesia kini dan masa depan, tak perlu lagi ada pertentangan antara nasionalisme dan Islam; Islam dan nasionalisme. Seluruh warga Negara Indonesia, apapun agama, suku, ras, dan bahasa daerahnya, adalah nasionalis sejati. Sama seperti Frans dan Soegoro.
Penulis adalah Sekretaris Bidang Pers dan Jurnalistik Badan Eksekutif Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah (BESMA), 2019/2020
Sumber Ilustrasi: ktinpremium.id