Mengapa sebagai agama sempurna tapi umatnya terus berselisih tak pernah habis? Atau karena terlalu detailnya ajaran itu sehingga membuka ruang untuk berselisih?
Bahkan umat Islam bertengkar sejak jenazah Rasulullah SAW belum dikubur. Saya sulit menerima penjelasan berbagai konflik dan selisih tentang berbagai ajaran agama Islam yang sudah disebut sempurna itu, padahal wahyu Allah SWT menjelaskan “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa-idah: 3)
baca juga: Kontribusi Muslimah di Era Milenial
Tidak ada agama sehebat agama Islam. Tapi kenapa justru para pemeluknya terpuruk? Negara-negara Islam banyak yang terbelakang, tertinggal, mundur, banyak utang dan terus bertengkar? Padahal mengklaim memiliki kitab paling asli, ajarannya terjaga, Nabi terhebat dan hebat-hebat yang lain!
Tapi di mana ada komunitas Islam yang bisa dijadikan teladan? Mana ada negara Islam yang bebas dari korupsi, tidak ada deskriminasi, ilmu pengetahuannya terdepan punya kampus qualified, sistem ekonominya berbasis umat, pasarnya bebas riba, anak kecil disayang orangtuanya dihormati, para wanitanya bermatabat? Non sens saya bilang!
Ajaran Islam hanya klise. Umat Islam bahkan makin jauh dari agamanya. Politiknya keok, ekonominya tertinggal, pengetahuannya terbelakang, ulamanya terus berselisih tak pernah bisa berhenti.
Terus ribut soal-soal furu’. Kita terus bertengkar dari sejak nawaitu dibaca sir atau jahr hingga salam dibaca utuh atau sebagian. Lalu bagaimana kemudian bisa menjelaskan bahwa ajaran ini sempurna ?
Syaikh Abduh bisa menjelaskan sedikit. Al Islamu mahjuubun bil muslimiin. Islam itu tertutup oleh umatnya sendiri. Ajaran Islam sudah sangat sempurna tapi umatnya jauh dari sempurna. Islam demikian tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Tapi tidak dengan umatnya. Bukan antum yang sempurna tapi Islam yang sempurna. Islam absolut benar tapi bukan pemahaman antum tentang Islam yang mutlak benar.
baca juga: Dilema Mahasiswa: di Rantau Merana, Pulangpun Merana
Jadi apa sebenarnya pangkal kemunduran dan keterbelakangan itu? Pertanyaan sederhana tapi susah di urai. Menilai pekerjaan orang lain itu pangkal selisih. Merasa paling benar sendiri yang lain salah itu pangkal segala pecah. Mengagumi pendapat sendiri abai pada fatwa ulama itu pangkal kerusakan. Menakar iman teman seiring itu pangkal permusuhan. Karena sesungguhnya Islam sudah sangat sempurna tapi antum yang belum selesai!