Oleh: Andika Pratama
Saat ini kita sedang dilanda dengan datangnya virus yang sangat mematikan yang disebut dengan Virus Corona atau Covid-19. Semua aktivitas berjalannya waktu semakin berkurang dan kebanyakan orang memilih untuk berdiam diri di rumah atau sering kita kenal dengan stay at home. Akan tetapi masih banyak juga orang yang masih berkeluyuran di luar rumah demi mencari rezeki untuk keluarga mereka.
Mereka terkadang tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka sedang di luar rumah. Entah itu kejahatan ataupun virus yang akan mereka bawa ke rumah dan akan menyebabkan menularkan penyakit ke anggota keluarganya. Tapi apalah daya kita semua butuh makan, butuh kehidupan sehari-hari yang itu harus kita penuhi. Jika tidak kita penuhi kita bisa saja meninggal gara-gara tidak makan selama beberapa hari.
Karena kekhawatiran mereka terlalu tinggi akan diberlakukannya Lockdown, maka mereka lebih memilih untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Dengan syarat ketika mereka sudah sampai di rumah mereka harus mengisolasi diri selama 14 hari. Demi menghindari apakah mereka terkena virus corona atau tidak.
Baca Juga: Tinjauan Singkat Buku Rudolf Steiner: Theosophy
Nah setelah 14 hari melakukan isolasi diri mereka baru bisa berinteraksi dengan anggota keluarga mereka. Dan ada juga yang memilih untuk tetap diperantauan dengan banyak alasan dan karena mereka masih ingin tetap berada diperantauan.
Mahasiswa Perantauan di tengah Covid-19
Saat ini kebanyakan anak perantauan baik dari pulau Jawa maupun dari daerah lain ada yang meniatkan untuk pulang ke rumahnya atau tetap berdiam diperantauan. Kebanyakan sudah pulang ke rumah mereka masing-masing dengan alasan supaya mereka aman dekat dengan keluarga. Supaya mereka tidak susah untuk mencari makan dan alasan lainnya.
Akan tetapi bagi mereka yang sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik itu swasta maupun negeri, mereka merasa makmur. Mengapa? Karena mereka mendapatkan bantuan dari pihak universitas atau perguruaan tinggi untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Mereka bahkan akan terus mendapatkan bantuan.
Nah, ini membuktikan bahwa anak perantauan khusunya anak kuliahan, mereka sangat makmur diperantauan baik itu dari kehidupan sehari-hari dari makan sampai ke data internet akan terpenuhi. Karena mereka tidak bisa atau dilarang untuk keluar rumah untuk mencari makan ataupun yang lainnya. Meskipun begitu mereka jauh dari keluarga tidak bisa mudik ke kampung.
Nasib Mahasiswa yang Sudah Pulang Kampung
Bagi anak kuliahan yang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Mereka setelah sampai di rumah harus melewati beberapa tahapan antara lain harus melapor ke pihak kesehatan ataupun pihak pemerintahan setempat. Setelah melapor mereka harus mengisolasi diri selama 14 hari dan setetekah 14 hari mereka baru bisa berinteraksi dengan anggota keluarga mereka. Akan tetapi kebanyakan dari mereka yang ketika datang ke rumah, mereka langsung bisa bernteraksi dengan keluarga mereka.
Ya itu gak mengapa asalkan mereka benar-benar sudah mengecek kesehatan mereka di puskesmas ataupun di rumah sakit. Dan nasib lain yang harus didapatkan anak kuliahan yang pulang ke rumah masing-masing yaitu jeleknya sinyal di tempat mereka berada. Padalal mereka membutuhakan itu untuk kelangsungan mereka untuk bisa ikut kuliah online.
Baca Juga: Pandemik Mengembalikan Khittah “Sekolah Kehidupan”
Karena semenjak virus corona ini datang maka pihak universitas sudah memberikan surat instruksi kepada para dosen untuk melakukan kuliah secara online. Dan parahnya lagi ada universitas yang telah mengadakan Ujian Tengah Semester dan itu juga dilakukan melalui online dan itu sangat membebenkan bagi anak kuliahan yang sudah pulang.
Mengapa? Karena jelek sinyal untuk mengakses soal yang telah dikirkmkan melalui aplikasi ataupun melalui website yang telah ditentukan. Tapi itu sebuah resiko yang harus diterima oleh mereka yang pulang ke rumah masing-masing.
Berjuang Tiada Henti
Itulah kisah perjunagan dari anak kuliahan baik mereka yang masih di perantauan maupun mereka yang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Sangat berat tapi mereka kuat karena mereka yakin bahwa dengan adanya ujian ini. Seakan jika tetap di rantau merana, pulang kampungpun tetap merana. Namun harapannya meraka akan menjadi lebih kuat lagi untuk melawan itu semua dan mereka akan terbiasa dengan perjuangan yang telah mereka alami.
Kami sangat merindukan ramainya kelas, ramainya toko-toko makanan. Tapi ramainya jalanan yang itu semua berubah seketika karena datangnya virus corona ini. Tapi kami yakin insyaallah ini jalan yang terbaik dari Allah untuk kami selaku para penerus umat dan bangsa.
Dan semoga kedepannya virus corona ini akan hilang dan aktivitas kita yang dahulu kita bisa lakukan lagi. Mulai dari kuliah, canda tawa bersama teman di kelas. Jalan-jalan bareng teman dan hal-hal yang telah kita lakukan sebelum datangnya virus corona ini. Mudah-mudahan Ramadhan menjadi keberkahan tersendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta