Nol koma sekian persen kemungkinan kita mati karena virus corona. Tapi 100 persen lainnya kita akan mati setiap saat dengan berbagai sebab yang sudah ditetapkan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
***
Ironis memang. Kita ini kawanan yang mengaku bertuhan, tapi berlaku seperti orang tak bertuhan saat ada ujian berupa wabah. Masjid-masjid sepi dari jamaah karena menghindari virus corona, sementara mall, plaza, dan pasar malah sesak pengunjung. Menghindari berjamaah di masjid namun justru berkerumun di pasar dan tempat lainnya. Ini menurut saya adalah budaya hedon.
Tidak tau kenapa tiba-tiba virus corona menjadi penyebab kematian yang paling menakutkan. Bahkan dalam beberapa kasus, virus ini telah menggantikan peran Izrail sebagai malaikat pencabut nyawa. Dan membuat takut dan panik raja kerajaan penjaga dua tempat paling disucikan umat Islam. Baitullah pun sepi, thawaf terancam terhenti. Ini memalukan.
Kita boleh berikhtiar untuk sehat dan sembuh dari segala sakit, tapi tak ada pelindung dari mati. Meski sembunyi di sebuah benteng besi berlapis-lapis, mati akan tetap datang menjemput. Allah berfirman dalam Alquran surat An-Nisa ayat 78 yang artinya: ” …di manapun Anda berada maka kematian akan tetap menjemput Anda,”
Tapi ini peliknya. Sejak di hidupkan, manusia paling takut dengan mati—berbagai obat penyembuh sakit diciptakan, kosmetik penangkal keriput agar tetap awet muda,bahkan orang Mesir kuno telah menciptakan ramuan agar jasad para Pharau tetap awet tidak hancur dimakan ulat (mumi).
***
Sejak tinggal di surga, Adam dan Hawa juga ingin hidup abadi, selamanya tinggal di surga. Maka, dia memakan buah Khuldi karena bujuk rayu iblis, tergiur untuk hidup abadi menjadikan manusia gelap mata. Lupa pada yang esensi pada tujuan hidup yang sesunguhnya.
Pada akhirnya kita mesti sadar, bahwa dunia itu artinya fana atau sementara. Bukan tempat tinggal sesungguhnya, semua kesenangan hanyalah senda dan gurau saja.
baca juga: Himbauan Din Syamsuddin Tentang Corona
Bukan menantang mati tapi juga tak elok berlebihan berlindung dari mati. Kita semua tetap bakal mati, mati karena terjangkit corona atau mati dengan cara tidur pulas lalu tak bangun lagi. Yang perlu ditegaskan adalah, bahwa kita hanya ikhitiar untuk sembuh dan terhindar dari sakit, bukan usaha keras berlindung dari mati.
***
“Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah kepada kami, Dialah pelindung kami. Dan kepada Allah lah hendaknya orang-orang beriman bertawakal”
Begitulah bunyi firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 50. Dalam surat yang lain, Allah mengatakan: “Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan” (Al-Waqi’ah:60).
editor: Yusuf R Yanuri