Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menjadi Pakar di Era Matinya Kepakaran

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Februari 17, 2020
in Narasi
0
Intelektual Literasi Instan Telah Mengancam Kepakaran. Seperti yang pernah dikatakan oleh para pemikir yang jujur dan open minded bahwa ketika para peneliti berani jujur mengungkapkan hasil temuan-temuannya maka akan banyak sekali perubahan di sana-sini.

Intelektual Literasi Instan Telah Mengancam Kepakaran. Seperti yang pernah dikatakan oleh para pemikir yang jujur dan open minded bahwa ketika para peneliti berani jujur mengungkapkan hasil temuan-temuannya maka akan banyak sekali perubahan di sana-sini.

23
SHARES
133
VIEWS

Tahukah berapa kali dibaca (dikunjungi) tulisanku di jurnal scopus empat tahun lalu: 3 orang.

***

Entah sudah berapa puluh media massa gulung tikar karena ditinggal pembaca — Tempo, Gatra, Kartini, Femina luluh lantak, sementara jurnal-jurnal kian elitis diterbitkan di kampus-kampus atau pusat studi hanya untuk urusan kepangkatan, ditumpuk berserak di rak-rak kampus kemudian ditinggal tidak dibaca oleh penulisnya sendiri.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sementara jumlah media juga terus menyusut, Kompas, Sinar Harapan, Jakarta Post, Pos Kota, Jawa Post, Surya atau harian sore Surabaya post, terbit dengan halaman dan oplag makin tipis— tukang lopernya pun sambat harus banyak merayu pelanggan agar tidak berhenti membaca, media-media konvesional ini habis digerus media online. Pun dengan TV konvesional harus bersaing dengan para ’yutubers’—atau kolaps digulung pisan— ini jaman smartphone.

Realitasnja orang lebih suka baca status ketimbang buku— itupun tak mau lama, maka harus dilengkapi durasi 2 atau 3 menit. Lima menit sudah kepanjangan. Daya tahan membaca kian memendek, orang tak suka dengan yang njelimet dan berbelit dengan bahasa yang sulit agar terlihat pintar— nyatanya banyak yang tak suka. Selera telah berubah. Milenal tak suka baca koran, tak senang baca majalah, apalagi jurnal, mereka suka meme dan baca status. Beberapa majalah diterbitkan untuk kalangan sendiri itupun membelinya setengah dipaksa.

baca juga Minoritas Tapi Bukan Minoritas

Maka meme Rocky Gerung lebih disuka ketimbang makalah para guru besar apalagi hasil riset para akademikus. Bahyak ulama hanya pandai berkata tapi tak pintar menulis. Kita kembali ke peradaban lisan. Kita kehilangan Imam Syaffi dkk. Era Buya HAMKA, Prof Mukti Ali, Prof Harun Nasution, Prof Hasbi, A Hasan, Nurcholish Majid, telah berganti ulama-ulama meme tanpa karya tulis.

***

Tom Nichols penulis buku The Death of Expertise, menyimpulkan bahwa masyarakat hidup dalam era kedunguan (ignorance). Masyarakat dungu karena ogah tabayyun.

Ton Nichols menyebut bahwa Masyarakat Amerika hidup dalam kedunguan (ignorance) karena bangga tidak mengetahui banyak hal. Gelombang ‘literasi instan’ telah melahirkan masyarakat dungu. Kegandrungan pada literasi instan (share dan kopas) telah mengancam kepakaran. Meski tidak bersangkut dengan keahlian dan profesi.

Status dan meme setidaknya telah membenam budaya baca dan riset. Pengetahuan di dapat dari status dan meme. Tak terbayang, jika separo pengetahaun yang ada di kepala kita adalah hoax. Dengan kondisi macam begitu apa yang harus dilakukan para pakar? Apa masih bersikukuh dengan jurnal?

***

Muhammadiyah sebagai masyarakat ilmu, saatnya membangun kembali tradisi iqra; budaya menulis dan membaca untuk mengurangi kebiasaan bully dan persekusi. Memberi pesan keilmuan, perangi hoax dan budaya berpikir cekak —tampil sebagai opinien maker sukur menjadi opinien leader sebagai tempat rujukan. Bukan obyek yang terus gaduh. Menjadi obyek berita —semacam masyarakat dengan kasta terendah karena miskin ilmu dan informasi.

ilustrasi: buananews.com

Terkait

Tags: Literasi Instan Telah Mengancam Kepakaran
Previous Post

Minoritas Tapi Bukan Minoritas

Next Post

Cadar, Stigmatisasi dan Kebebasan Beragama

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Cadar, Stigmatisasi dan Kebebasan Beragama

Cadar, Stigmatisasi dan Kebebasan Beragama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.