Paruh pertama abad 20. Enam juta Yahudi mati—setelah sebelumnya lama berdoa dan tidak kunjung di jawab—artinya Atheisme bukan tanpa sebab.
Holocaust adalah salah satu trauma yang menghilangkan kepercayaan manusia modern kepada Tuhan. Sebagian besar korban kekejian Nazi putus asa karena Tuhan ternyata tidak mendengarkan doa mereka. Enam juta orang Yahudi mati. Setelah sebelumnya di siksa, wanitanya diperkosa dan dibakar hidup-hidup. Itu terjadi pada pertengahan abad ke-20.
Pada awal abad ke-21, ketidakpercayaan kepada agama makin meluas karena orang-orang beragama justru diilhami nihilisme kaum teroris-jihadis untuk menghancurkan peradaban atas nama Tuhan. Itulah dua akar traumatik menguatnya agnostisisme dan atheisme.
Tapi benarkah manusia sungguh-sungguh kehilangan kepercayaan kepada Yang Suci ketika keyakinan pada spiritualitas tak pernah sirna, meskipun terjadi krisis kepercayaan kepada agama-agama?
Kita mungkin saja punya Tuhan yang sama bahkan agama atau manhaj juga serupa— tapi pengenalan kita terhadap Tuhan adalah hal yang privacy—dan bisa sangat mungkin berbeda. Jadi apa yang kita persembahkan kepada Tuhan ? Agar dikenang sebagai hamba yang taat.
baca juga Menuju Maqashid Syari’ah Generasi Z (1)
Setiap kita pasti di uji— dan besyukur tidak menjadi muslim Rohingyae atau Uighur atau minoritas India atau bahkan kita tidak tinggal di Suriah atau Afghanistan yang terus berperang puluhan tahun untuk mempertahankan ‘kebenaran Tuhan’.
Beruntung ujian kita tak seberat mereka— dan bisa saja hidup aman adalah ujian itu sendiri, apakah kita bersyukur atau malah bertindak kurang terpuji—hidup mengkufuri nikmat dan terus berangan untuk sesuatu yang tidak mungkin.
Kita menyaksikan Para failasuf abad modern memberi pandangan-pandangan optimistik, Richard Kearney, James Wood, Catherine Keller, Charles Taylor, Julia Kristeva, Gianni Vattimo, Simon Critchley, Mereka membincang kembali agama dalam kerangka sekularitas. Setidaknya mereka sedang berusaha agar 1,2 milyar orang atheis kembali percaya dan menemukan tentang yang sakral: Tuhannya —dalam skeptisisme pada ajaran-ajaran agama. Tak terelakkan mereka akhirnya tiba pada tema tentang Tuhan di luar agama,
Tetapi tidak semua perdebatan pasca “kematian Tuhan” berakhir dengan penemuan Tuhan baru di luar agama – sebuah tema yang disebut ana-theisme – seperti digambarkan di atas.
Atheisme Baru, trajektory (lintasan) sebaliknya, yang makin menekankan tesis bahwa Tuhan hanyalah delusi psikotik, atau bahwa agama makin meracuni segala sesuatu, tetap menjadi kecenderungan utama sekularisme.
Sebab itulah kita tetap disuruh berdoa agar dikukuhkan hidayah— “Ya Tuhanku janganlah Kau palingkan hati kami setelah Kau”.
Ilustrasi: liputan6.com