Indonesia merupakan negara yang dianugerahi kekayaan yang luar biasa oleh Allah Swt. Lihat saja keindahan alamnya, laut luas yang kaya akan sumber dayanya yang melimpah penuh keragaman. Iklim tropis yang menjadikan Indonesia mempunyai dua musim yaitu penghujan dan kemarau.
Setiap hari melihat indahnya matahari terbit dan tenggelam, berbagai tumbuhan tumbuh dengan sangat subur, dan kekayaan bumi lainnya yang melimpah membuat Indonesia menjadi negeri yang indah dan damai .
Coba kita bandingkan dengan negara-negara di Eropa yang mengalami empat musim.
Di mana tidak semua tumbuhan bisa tumbuh di sana, musim dingin dan panas yang ekstrim dan bahkan mataharipun belum tentu terbit dalam setiap harinya. Maka sungguh sebuah kesyukuran kita dapat hidup di Indonesia ini.
Kekayaan Indonesia tidak hanya terbatas pada kekayaan alamnya, tetapi juga keanekaragaan bahasa, suku dan budaya yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Indonesia terdiri dari 546 lebih bahasa daerah, 1.340 suku lebih dan17.504 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 267 juta orang. Keanekaragaman yang sedemikian rupa dinaungi oleh satu negara dan satu kepala negara. Bisa kita bandingkan dengan negara-negara di semenanjung Arab, satu suku yaitu “suku arab” tetapi di bawah naungan puluhan negara. Tetapi hidup di negeri Indonesia ini kita mampu hidup dengan harmonis di tengah keanekaragaman tersebut.
****
Hal ini menjadi sebuah aset kekayaan yang sangat besar, akan tetapi di sisi lain juga menjadi sebuah tantangan dan ujian yang sangat besar. Ancaman dari negara lain sangat mungkin terjadi karena kekayaan alam yang sangat menggiurkan dan keanekaragaman suku yang mudah untuk dipecah belah. Seperti halnya negara adidaya Uni Soviet, sebuah negara besar dan kuat yang akhirnya hancur berkeping-keping menjadi banyak negara.
Baca Juga: Siasat KH. Sholeh Darat dalam Propaganda Bela Negara
Indonesia harus belajar dari sejarah yang dialami oleh Uni Soviet itu baik dari sisi kemajuan ataupun kemunduruannya. Di Indonesiapun pernah berdiri kerajaan-kerajaan Nusantara di mana hingga pernah menguasai dunia. Baik dari segi kekuatan militer maupun ekonominya, sebut saja Majapahit, Singosari, Pasundan, Mataram, dan lain-lainnya.
Lebih lanjut kita juga perlu belajar dari konflik yang terjadi di berbagai daerah baru-baru ini, baik konflik antar suku, agama maupun gerakan kelompok separatis yang menginginkan kemerdekaan di berbagai daerah, seperti Maluku, Poso, Aceh dan Papua yang sampai saat ini nampaknya masih bergejolak. Terlebih ancaman-ancaman dari luar atau asing yang akan perlu selalu diwaspadai setiap saat dengan di tengah situasi dan kondisi bangsa yang terjadi.
United Education dan Multikulturalisme
Bangsa Indonesia telah mengalami sejarah panjang dalam mengelola sebuah perbedaan dan konflik. Maka, demi keutuhan suatu bangsa perlu penanaman pendidikan persatuan (united education) sejak dini dan pemahaman tentang pendidikan multikultural. Di mana multikulturalisme ialah suatu paradigma mengenai hidup bermasyarakat yang didasari atas rasa persatuan dan berusaha mengesampingkan sentimen dalam perbedaan, baik perbedaan dalam ranah agama, pilihan politik, budaya, etnis, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang bersifat alami.
Multikulturalisme juga sering disebut dengan pluralisme, yaitu adanya saling menerima atau keterbukaan terhadap perbedaan suku, bahasa, budaya, agama dan pikiran atau pandangan hidup orang lain. Meskipun ada batasan tertentu terutama dalam hal agama, multikultural maupun pluralisme sangat relevan dengan keadaan saat ini dan relevan untuk waktu yang akan datang. Pemahaman multikultural sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara apalagi Indonesia yang latar belakang keragamannya sangat menonjol.
****
Pemahaman multikultural harus ditanamkan pada anak melalui pendidikan, baik dalam nuansa pendidikan formal, informal maupun non-formal. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman yang semakin berkembang cepat, termasuk dalam hal kesatuan dan persatuan bangsa. Pemahaman tentang multikultural harus ditanamkan sejak dini yaitu di keluarga, di mana anak harus diberi pengertian akan perbedaan, mulai dari perbedaan jenis kelamin termasuk hak dan kewajibannya masing-masing, sampai adanya perbedaan pendapat.
Kemudian di lingkungan sekolah dan masyarakat anak harus dipahamkan bahwa manusia terlahir dengan kondisi yang berbeda. Mulai dari terlahir dari orang tua yang berbeda, kondisi ekonomi yang berbeda sampai dengan perbedaan suku dan agama.
Sedangkan di tingkat pendidikan menengah dan tinggi seseorang harus mampu menghargai perbedaan yang lebih luas, tidak hanya seputar suku, budaya dan agama tetapi juga tentang pandangan politik atau kekuasaan yang dewasa ini acap kali menjadi sumber perpecahan masyarakat. Pengkultusan kebenaran dalam pilihan politik sangatlah niscaya, karena kebenaran politik atau kekuasaan bersifat relatif, cocok untuk orang-orang tertentu tetapi belum tentu cocok untuk orang atau golongan yang lain.
Islam dan Keragaman
Sehingga anak tahu bahwa keragaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan, maka kebersamaan. Saling menghormati dan menghargai merupakan instrumen untuk hidup berdampingan secara harmonis. Al-Quran sudah menjelaskan tentang keberagaman ini dalam surat Al-Hujurat ayat ke-13 berikut:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Berdasarkan ayat tersebut telah sangat jelas bahwa adanya perbedaan adalah agar manusia memiliki visi untuk saling mengenal. Karena melalui saling mengenal, akan timbul rasa saling pengetian, rasa saling memahami, rasa saling menghormati dan memunculkan kemauan untuk menghargai perbedaan di masyarakat. Rasulullah Saw juga mengajarkan tentang kesamaan derajat, menghapus perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara penguasa dan rakyat biasa, sehingga tercipta keadilan sosial bagi seluruh masyarakatnya.
Baca Juga: Pesantren Salafi Melawan Radikalisme
Coba kita bayangkan jika suatu suku merasa paling baik dan merasa paling berhak menguasai Indonesia. Maka akan merendahkan suku lain dan timbul konflik antar suku yang berkepanjangan hingga menimbulkan korban jiwa. Apakah ini visi manusia dilahirkan? Apakah ini yang kita inginkan?
****
Lihat saja dalam sejarah kelam di Amerika penindasan dan perbudakan ras kulit putih terhadap ras kulit hitam yang begitu mengerikan. Hal ini terjadi karena fanatisme kesukuan yang keterlaluan. Hal inilah yang sama-sama tidak kita inginkan. Konflik yang berujung mala petaka.
Jika semua orang mempunyai prinsip yang sama, yaitu perasaan yang memandang bahwa pada dasarnya manusia harus hidup berdampingan. Baik dalam hal agama, suku ataupun golongan untuk saling menghormati, maka akan tercipta nuansa keselarasan yang baik dalam hidup. Indonesia adalah negara kita, kampung halaman kita, tempat istirahat kita. Rumah kita membangun peradaban dan Indonesia adalah istana kita, maka sudah sewajarnya kitalah yang merawat dan menjaganya.[]
Penulis adalah Kandidat Doktor (S3) Pendidikan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta