Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Azhar Ardiansyah Al Aziz by Azhar Ardiansyah Al Aziz
September 20, 2026
in Esai, Filsafat, Narasi
0
ilustrasi. Kalimahsawa
10
SHARES
61
VIEWS

Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia. Kehadiran media sosial tidak hanya menyediakan ruang komunikasi, tetapi juga membentuk pola konsumsi, identitas, hingga cara individu memaknai pengalaman hidupnya. 

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena seperti mendokumentasikan makanan sebelum dikonsumsi, mengunggah aktivitas rekreasi secara real-time, atau membangun branding diri melalui media sosial telah menjadi praktik yang lazim. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman pribadi tidak lagi semata-mata dijalani, melainkan juga diproduksi dan dipertontonkan kepada publik.

Kondisi tersebut dapat dibaca melalui pemikiran Jean Baudrillard, seorang filsuf dan sosiolog Prancis yang dikenal melalui konsep masyarakat konsumsi, simulacra, dan hyperreality. Baudrillard berpendapat bahwa masyarakat kontemporer tidak lagi hidup dalam dominasi produksi barang sebagaimana dikemukakan Karl Marx, melainkan dalam dominasi tanda, citra, dan simbol. Dalam masyarakat modern saat ini, individu tidak hanya mengonsumsi objek karena nilai gunanya, tetapi juga karena makna sosial yang melekat pada objek tersebut.

Dari Nilai Guna menuju Nilai Tanda

Dalam karya The Consumer Society, Baudrillard menjelaskan bahwa konsumsi era modern tidak lagi berpusat pada pemenuhan kebutuhan, melainkan pada produksi identitas. Barang dan jasa tidak sekadar berfungsi sebagai alat pemenuh kebutuhan praktis, tetapi juga menjadi sarana komunikasi sosial (status).

Sebagai contoh, secangkir kopi yang dikonsumsi di sebuah coffeshop tidak hanya dipahami sebagai minuman semata, melainkan juga simbol gaya hidup tertentu “Gue bakal keliatan orang have ni kalo ngopi disini”. Demikian pula buku, pakaian, atau ponsel yang ditampilkan melalui media sosial sering kali berfungsi sebagai penanda identitas sosial “Gue mau beli iphone biar keliatan kaya”. Dalam konteks ini, nilai suatu objek tidak lagi ditentukan oleh kegunaannya, melainkan oleh kemampuan objek tersebut dalam merepresentasikan status, selera, dan citra tertentu.

Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran dari use value (nilai guna) menuju sign value (nilai tanda). Individu mengkonsumsi simbol-simbol yang memungkinkan mereka memperoleh pengakuan sosial. Oleh karena itu, aktivitas konsumsi pada era digital tidak dapat dipahami hanya sebagai tindakan ekonomi, melainkan juga sebagai proses produksi makna dan identitas. Beberapa orang maksain mendapatkan suatu barang agar terlihat berbeda di lingkungan sosialnya.

Hyperreality dan Kehidupan Digital

Konsep sentral dalam pemikiran Baudrillard adalah hyperreality atau hiperrealitas. Hiperrealitas merujuk pada kondisi ketika representasi atau citra menjadi lebih dominan dibandingkan realitas yang direpresentasikannya. Dalam situasi ini, batas antara kenyataan dan simulasi menjadi semakin kabur.

Maksudnya adalah teknik marketing pada era ini terlalu dilebih-lebihkan karena kebutuhan views, viral, dan sebagainya. Contoh dalam platform tiktok misalnya, para affiliate ini terlalu mengunggulkan jualannya padahal secara aslinya tidak sebagus itu juga.

Media sosial merupakan salah satu ruang utama tempat hiperrealitas diproduksi. Melalui berbagai platform digital, individu menampilkan versi terbaik dari kehidupannya. Liburan ditampilkan dengan aesthetic, hubungan sosial dipertunjukkan tanpa konflik seakan couple goals, dan produktivitas kita dipertontonkan tanpa kejenuhan. Realitas yang kompleks disederhanakan menjadi potongan-potongan video visual yang menarik dan mudah dikonsumsi.

Meskipun pengguna media sosial menyadari bahwa konten tersebut telah melalui proses seleksi, editing, dan script tertentu, yang menonton tetap cenderung menjadikannya sebagai standar perbandingan. Akibatnya, muncul berbagai gejala psikologis seperti FOMO (Fear of Missing Out), yaitu kecemasan karena merasa tertinggal dari kehidupan orang lain. 

Dalam perspektif Baudrillard, yang sesungguhnya terjadi bukanlah perbandingan antara dua realitas, melainkan antara realitas dengan simulasi semu.

Simulacra dan Produksi Identitas Digital

Baudrillard menggunakan istilah simulacra untuk menjelaskan representasi yang tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan realitas aslinya. Dalam masyarakat digital, identitas yang ditampilkan melalui media sosial seringkali berkembang menjadi representasi yang berdiri sendiri (branding).

Seseorang dapat membranding dirinya sebagai pribadi yang produktif, bahagia, alim, atau bahkan intelektual melalui unggahan yang dipilih secara selektif. Identitas digital tersebut kemudian menjadi patokan utama bagi orang lain dalam mengenali dirinya. Dengan kata lain, representasi digital perlahan memperoleh posisi yang lebih dominan dibandingkan pengalaman asli individu tersebut “Mau posting buku terus ah di story biar keliatan suka baca buku”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern tidak hanya mengonsumsi citra yang diproduksi orang lain, tetapi juga secara aktif memproduksi citra tentang dirinya sendiri. Kehidupan sosial kemudian berubah menjadi arena produksi dan pertukaran simbol yang berlangsung secara terus-menerus.

Algoritma dan Logika Pertunjukan

Perkembangan media sosial semakin memperkuat kondisi tersebut melalui peran algoritma. Platform digital bekerja dengan memberikan penghargaan terhadap konten yang memperoleh perhatian tinggi dalam bentuk likes, komentar, dan jangkauan audiens. Sistem ini secara tidak langsung membentuk preferensi pengguna mengenai apa yang dianggap menarik, relevan, dan layak dipublikasikan “Kalo gua posting ini banyak yang like ga yah?” atau “Gua mau bikin nyenggol orang ah biar nama gua naik”.

Akibatnya, banyak orang mulai menyesuaikan aktivitas mereka agar lebih mudah dilihat di media sosial. Pengalaman tidak lagi dinilai dari maknanya, tetapi dari banyaknya perhatian yang bisa didapat. Kreativitas pun sering dibuat agar sesuai dengan algoritma, sementara menunjukkan diri berubah menjadi usaha membangun citra.

Pada akhirnya, kehidupan seperti menjadi panggung. Orang tidak hanya menjalani suatu pengalaman, tetapi juga memikirkan bagaimana pengalaman itu akan terlihat di mata orang lain di dunia digital.

Pemikiran Baudrillard bukan berarti dipahami sebagai penolakan terhadap teknologi atau media sosial. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa kita jangan terfokus bagaimana mengabadikan momen, tetapi menikmati momen tanpa kebutuhan validasi sosial. Jangan sampai kita mencari momen untuk kebutuhan konten semata.

Dalam situasi tersebut, manusia berisiko kehilangan hubungan langsung dengan realitas yang dialaminya. Kehadiran fisik tergantikan oleh dokumentasi, pengalaman digantikan oleh representasi, dan makna hidup diukur melalui respons audiens digital.

Oleh karena itu, tantangan utama masyarakat digital bukan sekadar kemampuan mengakses teknologi, melainkan kemampuan mempertahankan kesadaran kritis di tengah banjir citra yang terus diproduksi. Kehidupan yang autentik menuntut individu untuk tidak hanya hadir dalam ruang digital, tetapi juga hadir secara utuh dalam pengalaman nyata yang dijalaninya.

Melalui gagasan masyarakat konsumsi, simulacra, dan hyperreality, Jean Baudrillard menjelaskan bahwa kehidupan sekarang semakin dipengaruhi oleh gambar, simbol, dan media sosial. Media sosial mengubah cara kita membentuk identitas, menikmati pengalaman, dan melihat kenyataan. Akibatnya, hidup bukan hanya untuk dijalani, tetapi juga untuk ditampilkan kepada orang lain.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi seberapa sering kita mengunggah kehidupan ke media sosial. Yang lebih penting adalah apakah kita masih benar-benar menikmati hidup apa adanya. Sebab, ketika penampilan menjadi lebih penting daripada kenyataan, kita bisa kesulitan membedakan mana hidup yang benar-benar kita jalani dan mana yang hanya kita pertontonkan.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Previous Post

Pembiasaan Al-Qur’an dan Program Wajib BTA di SMA Batik 2 Surakarta

Next Post

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Mahasiswa PAI FAI UMS

Next Post
Ilustrasi. Kalimahsawa

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.