Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kepemimpinan Perempuan: Bakat Terpendam atau Ruang Inklusif yang Tidak Pernah Tersedia?

AdminKS by AdminKS
Juni 19, 2026
in Esai, Narasi
0
Kepemimpinan Perempuan: Bakat Terpendam atau Ruang Inklusif yang Tidak Pernah Tersedia?
9
SHARES
55
VIEWS

Oleh: Houri Arshsya Gulystan

Inklusivitas adalah sebuah komitmen kolektif untuk menciptakan lingkungan di mana setiap individu, tanpa memandang latar belakang, identitas, atau kondisi fisiknya, merasa diterima, dihargai, dan memiliki akses yang setara terhadap peluang. Lebih dari sekadar toleransi, inklusif berarti secara aktif meruntuhkan hambatan diskriminasi dan merangkul keragaman sebagai kekuatan, sehingga setiap orang dapat berpartisipasi penuh dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam ekosistem yang inklusif, perbedaan tidak dianggap sebagai pemisah, melainkan sebagai elemen unik yang memperkaya perspektif dan mendorong inovasi serta keadilan sosial.

Sering ditemukan di masyarakat pembicaraan atau pembahasan tentang perempuan dan kepemimpinan. Sejak dulu, kita sering mendengar kalimat seperti, “Perempuan punya bakat alami,” atau sebaliknya, “Perempuan terlalu emosional untuk jadi pemimpin.” Tapi, pernahkah berpikir dan bertanya, apakah ini soal bakat yang ‘terpendam’ di dalam diri perempuan, atau ini soal ‘ruang inklusivitas’ di luar sana yang memang belum terbuka lebar?

Bukan soal kurang mampu, tapi kurang kesempatan coba kita lihat di sekitar kita, di rumah, di organisasi, bahkan di sekolah atau di kampus, banyak perempuan menunjukkan kualitas kepemimpinan yang hebat, kemampuan multi tasking, empati yang tinggi, komunikasi yang detail, dan pendekatan kolaboratif. Ini semua adalah modal penting seorang pemimpin. Namun, ketika kita melihat ke atas posisi pejabat, menteri, atau Pemimpin Organisasi besar tiba-tiba jumlah perempuan menyusut drastis. Kenapa? Banyak orang beranggapan, mungkin perempuan kurang tertarik atau kurang punya “ambisi” untuk mencapai posisi setinggi itu. Padahal, masalahnya seringkali bukan datang dari internal perempuan itu sendiri.

Tembok kaca dan ruang yang sempit Inilah “tembok” yang sering dihadapi Perempuan,

  1. Stereotip yang membatasi: Kita hidup dengan pandangan bahwa pemimpin itu harus tegas, agresif, dan dominan sifat yang secara tradisional dilekatkan pada laki-laki. Ketika perempuan menunjukkan sifat ini, mereka sering dicap “galak” atau “terlalu ambisius.” Padahal, pemimpin bisa datang dengan berbagai gaya.
  • Beban Ganda (The Double Burden): Di banyak budaya, perempuan masih dianggap penanggung jawab utama urusan domestik dan pengasuhan anak. Sulit membayangkan mengejar posisi eksekutif yang menuntut waktu 24/7 sambil mengurus rumah.
  • Lingkaran pergaulan yang tertutup: Kepemimpinan seringkali didapat melalui jaringan dan koneksi yang disebut ‘old boys’ club’. Lingkaran ini cenderung eksklusif dan sulit ditembus oleh mereka yang berada di luar kelompok mayoritas, termasuk perempuan.

Solusinya adalah membuka ruang, bukan mencari bakat terpendam. Kepemimpinan perempuan bukanlah bakat yang perlu “digali” dari tempat persembunyiannya, melainkan potensi yang butuh “ruang” untuk berkembang. Kita tidak perlu mengubah perempuan agar menjadi pemimpin yang maskulin.

Sebaliknya, kita perlu, mendefinisikan ulang pemimpin, memperluas pemahaman kita bahwa pemimpin yang hebat juga bisa sensitif, kolaboratif, dan suportif. Sifat-sifat ini bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan untuk membangun tim yang lebih kuat. Yang kedua adalah, menciptakan kebijakan yang inklusif, menyediakan dukungan nyata, seperti fleksibilitas waktu, dan yang paling penting, menghapuskan standar ganda (seperti ketika seorang ibu dicibir karenamemilih bekerja penuh waktu).

Kepemimpinan perempuan akan benar-benar bersinar ketika lingkungan di sekitar kita tidak lagi memandang gender sebagai kualifikasi atau hambatan. Saat ruang itu tersedia, kita akan menyadari bahwa bakat itu tidak pernah terpendam, hanya saja menunggu pintu dibuka.

Pakar kepemimpinan seperti Alice Eagly mencetuskan Role Congruity Theory. Teori ini berpendapat bahwa ada ketidakselarasan antara persepsi masyarakat tentang “pemimpin” (yang sering dianggap harus dominan dan kompetitif) dengan persepsi tentang “perempuan” (yang dianggap harus mengasuh). Akibatnya, bakat kepemimpinan perempuan tetap “terpendam” bukan karena tidak ada, melainkan karena tidak dikenali atau tidak diberi nilai yang sama dengan bakat laki-laki.

Menurut pengalaman pribadi penulis. Perempuan bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin menurut saya bukan hanya memberi intruksi dan pengaruh untuk orang banyak, tapi kita juga senantiasa berusaha memberikan yang terbaik untuk mimpi yang ingin kita hidupi.

Karena ketika kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan, kita akan mulai merancang, mengarahkan, dan menggerakan diri untuk langkah baik menncapai mimpi kita. Persis seperti what leaders do. ’Pemimpin tidak selalu menggerakan orang lain’ tapi menggerakan dan mengatur diri sendiri sudah bisa disebut sebagai pemimpin.

Maka, menjadi pemimpin di dunia modern itu tidak gampang, baik laki-laki ataupun perempuan sama-sama punya tantangan. Sebagi perempuaan, walaupun tidak banyak, saya merasa ide-ide perempuan sering diragukan, kadang opini perempuan sering dijadikan last choice dalam diskusi. Bikin down? Pasti. Tapi perlahan semua membaik ketika saya mulai mengasah kemampuan lebih dalam lagi. Saya realize sebera besar value yang saya punya dan pada akhirnya kepercayaan diri kembali dan tanpa lagu lagi untuk beropini.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: Kepemimpinan perempuanPerempuan
Previous Post

Parade Tasmi’ 30 Juz Semarakkan Milad UKM MPQ UMS ke-20, Hidupkan Nuansa Qur’ani di Kampus

Next Post

Kearifan Nusantara Sebagai Penyeimbang Eksistensi Manusia Di Era Disrupsi Digital

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Kearifan Nusantara Sebagai Penyeimbang Eksistensi Manusia Di Era Disrupsi Digital

Kearifan Nusantara Sebagai Penyeimbang Eksistensi Manusia Di Era Disrupsi Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.