Oleh: Ibnu Ihsan
Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, pendidikan karakter menjadi persoalan yang semakin penting untuk diperhatikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang membawa banyak manfaat, namun, di sisi lain, juga menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan manusia. Tidak sedikit orang yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam akhlak, kurang memiliki tanggung jawab, dan mudah kehilangan arah hidup. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, melainkan harus kita tanamkan sejak dini sehingga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Islam, konsep pendidikan karakter sesungguhnya telah lama diajarkan. Salah satu gambaran paling indah dapat kita temukan dalam kisah Luqman al-Hakim yang termuat dalam Surah Luqman ayat 12–19. Luqman dikenal sebagai sosok yang diberi hikmah oleh Allah Swt. Ia bukan seorang nabi, namun, kebijaksanaan dan nasihatnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari kedudukan, melainkan dari ilmu, kebijaksanaan, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama (Surakarta, 2016).
Pada ayat ke-12, Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah.’” Hikmah adalah kemampuan untuk memperoleh ilmu, memahaminya, dan mengamalkannya. Karena itu, Luqman diarahkan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. M. Quraish Shihab, seorang mufasir Indonesia, mendekati konsep syukur dengan lebih banyak merujuk pada aspek psikologis dan sosial. Dalam tafsirnya, terutama dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa syukur adalah kesadaran manusia terhadap nikmat yang diterima dan bagaimana nikmat tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberi manfaat bagi sesama. Menurutnya, syukur memiliki tiga tingkatan, yaitu syukur dengan hati (mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah), syukur dengan lisan (mengucapkan pujian kepada Allah), dan syukur dengan perbuatan (memanfaatkan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya) (Asmoro & Nurrohim, 2025).
Setelah itu, pada ayat ke-13, Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini diabadikan di dalam Al-Qur’an dengan kisah Luqman dan putranya yang berupa pengetahuan Islam yang paling baik di sepanjang sejarah (Wafa, 2023). Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan pertama yang harus kita tanamkan kepada anak-anak adalah pendidikan tauhid. Seorang anak perlu mengenal Tuhannya sejak dini agar hidupnya memiliki arah yang jelas. Ketika keyakinan kepada Allah tertanam kuat, ia akan lebih mudah membedakan antara yang benar dan yang salah.
Kemudian, setelah itu, Luqman juga menanamkan keyakinan bahwa setiap manusia kelak akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Kesadaran tentang hari kembali ini penting agar anak memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya, tetapi ada balasan atas setiap kebaikan maupun keburukan yang dilakukan. Dengan keyakinan seperti ini, seseorang akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup.
Sejalan dengan itu, pada ayat ke-16, dijelaskan bahwa meskipun suatu amal hanya sebesar biji sawi yang tersembunyi di dalam batu, di langit, ataupun di bumi, Allah tetap mengetahuinya. Pesan ini begitu dalam maknanya. Anak diajarkan untuk jujur dan bertanggung jawab, bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena sadar bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu (Efektivitas et al., 2026).
Setelah fondasi iman tertanam, pendidikan kedua yang harus kita tanamkan kepada anak-anak adalah pendidikan akhlak. Dalam Surah Luqman ayat 14, Allah berfirman, “Dan Kami wasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.” Pada ayat ini, manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Seorang ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, lalu menyusui dengan penuh kasih sayang. Sementara itu, seorang ayah berjuang mencari nafkah dan menjaga keluarganya. Kemudian, pada ayat 15, dijelaskan bahwa meskipun orang tua berbeda keyakinan, anak tetap diperintahkan mempergauli keduanya dengan baik dalam urusan dunia. Karena itu, berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan atas cinta dan pengorbanan yang begitu besar.
Selain itu, Luqman juga menanamkan sikap rendah hati. Dalam ayat ke-18, ia menasihati agar tidak memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh. Kesombongan sering kali membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, padahal semua manusia berasal dari tanah yang sama.
Pada ayat ke-19, Luqman melanjutkan nasihatnya dengan mengatakan agar sederhana dalam berjalan dan melembutkan suara ketika berbicara. Ini merupakan pelajaran tentang etika dan pengendalian diri. Cara berjalan dan sikap tubuh seseorang dapat mencerminkan kepribadiannya. Orang yang santun dalam ucapan dan tenang dalam sikap biasanya lebih mudah diterima dalam pergaulan. Sejalan dengan itu, Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya berkomunikasi dengan baik, seperti berkata jujur (qaulan sadidan), perkataan yang baik (qaulan ma’rufa), lemah lembut (qaulan layyina), dan perkataan yang berbobot (qaulan tsaqila) (Nurrohim, 2024).
Setelah membentuk akhlak, pendidikan ketiga yang harus kita tanamkan adalah pendidikan ibadah. Dalam ayat ke-17, Allah berfirman, “Wahai anakku, dirikanlah salat.” Shalat merupakan tiang agama dalam Islam dan menjadi simbol ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai rukun Islam kedua, shalat memiliki kedudukan penting dan tidak sekadar ritual, tetapi juga sarana komunikasi langsung dengan Allah yang mengandung nilai spiritual, moral, dan sosial. Pada ayat yang sama, Luqman juga memerintahkan amar makruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia harus peduli terhadap lingkungan, berani menyampaikan kebenaran, dan berusaha menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat (An & Nurrohim, 2011).
Terakhir, nasihat tersebut ditutup dengan perintah untuk bersabar atas segala ujian yang menimpa. Sabar adalah kekuatan batin yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Tidak semua jalan akan mudah dilalui, dan tidak semua harapan akan segera tercapai. Namun, orang yang sabar akan tetap teguh, tidak mudah menyerah, dan mampu bangkit dalam setiap keadaan.
Adapun implementasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kisah Luqman setidaknya terdapat enam metode pembelajaran yang digunakan Luqman al-Hakim dalam memberikan pengajaran kepada anaknya, yaitu metode mau’izah, targhib wa tarhib, dialog (hiwaar), keteladanan, pembiasaan, dan perumpamaan (amtsal). Jadi, dari beberapa metode pendidikan yang diberikan Luqman kepada anaknya, tentunya dapat menjadi contoh teladan bagi para guru, khususnya orang tua, dalam menginternalisasi pendidikan karakter kepada anak didiknya (Mualimin, 2023).
Kisah Luqman memberi pelajaran bahwa mendidik anak bukan hanya soal memberi pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai. Dunia hari ini mungkin dipenuhi orang-orang pintar, tetapi tetap membutuhkan lebih banyak manusia yang jujur, rendah hati, sabar, dan dekat dengan Tuhannya. Karena itu, nasihat Luqman al-Hakim akan selalu relevan sepanjang zaman.
Editor: Rafidah Azis