Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Konten Islami di Era Viral: Gen Z Sebagai Agen Dakwah Digital

Athaya Zahra Nayna Ramadhani by Athaya Zahra Nayna Ramadhani
April 24, 2026
in Esai
0
Konten Islami di Era Viral: Gen Z Sebagai Agen Dakwah Digital
18
SHARES
103
VIEWS

Di era serba-viral saat ini, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid atau majelis taklim, tetapi telah berpindah ke ruang digital melalui layar gawai. Transformasi ini menunjukkan bahwa dakwah bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi Z tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai agen dakwah digital yang kreatif, moderat, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (H et al., 2025; Choirin et al., 2024; Kusumawati & Sitika, 2024; Aini et al., 2023; Sofyan et al., 2023; Masripah et al., 2024). Perubahan ini juga sejalan dengan temuan bahwa model dakwah harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan teknologi, tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan utama . Dengan demikian, dakwah digital bukan sekadar fenomena sementara, melainkan bagian dari evolusi metode penyampaian ajaran Islam dalam konteks modern.

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital, sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka lebih menyukai konten yang visual, singkat, interaktif, dan mudah dipahami, terutama melalui platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube (Parhan et al., 2023; Jalaluddin et al., 2024; Choirin et al., 2024). Gaya dakwah yang santai, humoris, dan kontekstual cenderung lebih menarik perhatian mereka dibandingkan dengan ceramah konvensional yang formal (Parhan et al., 2023; Alviyanti & Akil, 2025). Selain itu, media digital terbukti mampu meningkatkan pemahaman keagamaan dan membentuk perilaku positif jika kontennya disajikan sesuai dengan karakter audiens (Triani et al., 2025; Murniasih et al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang dakwah baru yang strategis, bahkan dalam kajian dakwah kontemporer dipandang sebagai sarana utama dalam menjangkau masyarakat luas secara efektif .

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam konteks ini, generasi Z—khususnya mahasiswa—dipandang sebagai “golden generation” yang memiliki posisi strategis dalam menyebarkan nilai-nilai Islam moderat di ruang digital (Choirin et al., 2024; Azisi et al., 2023; Sofyan et al., 2023). Mereka memiliki kemampuan untuk membaca tren, memahami algoritma media sosial, serta mengemas pesan dakwah dalam bentuk yang kreatif dan menarik. Selain itu, mereka juga mampu mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti kesehatan mental, krisis identitas, hingga masalah sosial lainnya, sehingga dakwah menjadi lebih relevan dan kontekstual (Jalaluddin et al., 2024; Rahmah et al., 2025; Masripah et al., 2024). Peran ini sangat penting, terutama dalam menghadapi arus informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai Islam, seperti radikalisme, hoaks, dan konten yang menyimpang. Oleh karena itu, dakwah digital yang dilakukan oleh Gen Z diharapkan mampu menjadi penyeimbang dengan menyebarkan nilai-nilai Islam yang inklusif, toleran, dan damai.

Meskipun memiliki peluang besar, dakwah digital juga menghadapi berbagai tantangan. Kemudahan akses informasi di media sosial sering kali diiringi dengan maraknya misinformasi dan distorsi ajaran agama. Selain itu, terdapat kecenderungan sebagian konten dakwah yang lebih menekankan aspek hiburan dan viralitas dibandingkan substansi, sehingga berpotensi mengaburkan pesan keagamaan yang sebenarnya. Rendahnya literasi digital dan pemahaman agama di kalangan sebagian pengguna juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas dakwah di ruang digital (Jalaluddin et al., 2024; Aini et al., 2023; Murniasih et al., 2024). Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa dakwah tidak boleh terlepas dari nilai-nilai dasar Al-Qur’an yang bersifat fleksibel namun tetap tegas, serta mampu menyesuaikan bahasa dengan kondisi audiens yang dihadapi .

Seiring dengan itu, aspek etika komunikasi menjadi sangat penting dalam dakwah digital. Al-Qur’an telah memberikan pedoman komunikasi yang relevan sepanjang masa, seperti konsep qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), dan qaulan karima (perkataan yang mulia), yang menekankan pentingnya komunikasi yang jujur, santun, dan konstruktif . Prinsip-prinsip ini menjadi sangat relevan dalam era media sosial yang sering kali diwarnai dengan ujaran kebencian, provokasi, dan penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, dakwah digital tidak hanya menuntut kreativitas dalam penyampaian pesan, tetapi juga integritas dalam menjaga etika komunikasi. Seorang da’i digital harus mampu menyampaikan pesan dengan bijak, menghindari konflik yang tidak perlu, serta mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kedamaian.

Agar dapat menjalankan peran sebagai agen dakwah digital secara optimal, generasi Z perlu memiliki beberapa bekal penting, di antaranya literasi agama yang kuat agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami dan menyampaikan ajaran Islam, serta literasi digital yang memadai untuk menyaring informasi dan memahami dinamika media sosial. Selain itu, kreativitas dalam mengemas konten juga menjadi kunci agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh audiens. Namun, yang tidak kalah penting adalah menjaga akhlak dan adab dalam berdakwah, karena pada dasarnya dakwah bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya. Kombinasi antara ilmu, teknologi, dan akhlak menjadi fondasi utama dalam membangun dakwah digital yang efektif dan berkelanjutan.

Dengan demikian, era viral membuka peluang besar bagi generasi Z untuk berperan sebagai agen dakwah digital yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Melalui pemanfaatan media sosial secara bijak, mereka dapat mengubah aktivitas sehari-hari seperti scrolling menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Namun, keberhasilan dakwah digital tidak hanya ditentukan oleh kreativitas dan popularitas, melainkan juga oleh kesesuaian dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan etika komunikasi Islam. Oleh karena itu, generasi Z tidak hanya dituntut menjadi kreator konten, tetapi juga menjadi penjaga nilai dan akhlak dalam ruang digital, sehingga dakwah yang dilakukan tidak hanya viral, tetapi juga bernilai dan membawa manfaat yang luas.

Terkait

Previous Post

Al-Qur’an sebagai Sumber Petunjuk dan Keistimewaan Bahasa Arab

Next Post

Pendidikan Karakter ala Luqman al-Hakim

Athaya Zahra Nayna Ramadhani

Athaya Zahra Nayna Ramadhani

Next Post
Pendidikan Karakter ala Luqman al-Hakim

Pendidikan Karakter ala Luqman al-Hakim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.