Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Sekolah Hanya Merayakan Yang Lulus PTN: Menggugat Kekerasan Simbolik dan Ilusi Kesuksesan Tunggal di Sekolah

M. Islahuddin by M. Islahuddin
April 15, 2026
in Esai, Narasi
0
Sekolah Hanya Merayakan Yang Lulus PTN: Menggugat Kekerasan Simbolik dan Ilusi Kesuksesan Tunggal di Sekolah
19
SHARES
111
VIEWS

Oleh: M. Islahuddin

Setiap kali kalender pendidikan memasuki pertengahan tahun, lini masa media sosial dan pagar-pagar sekolah kita nyaris selalu dipenuhi oleh pemandangan yang seragam: deretan spanduk berisi wajah-wajah tersenyum dengan latar belakang logo Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama. Narasi yang dibangun sangat jelas dan lantang: “Selamat dan Sukses atas Diterimanya Siswa/Siswi Kami di PTN”. Sepintas, selebrasi ini tampak sebagai bentuk apresiasi yang wajar. Bukankah wajar merayakan sebuah pencapaian akademik yang diraih dengan kerja keras?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun, jika kita menelisik lebih jauh ke balik tirai glorifikasi tahunan yang terus diulang-ulang ini, tersembunyi sebuah realitas psikologis dan sosiologis yang muram. Perayaan eksklusif bagi mereka yang lolos PTN tanpa ruang apresiasi yang sama bagi jalur kehidupan lainnya sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap esensi pendidikan itu sendiri. Alih-alih menjadi ruang yang membebaskan, sekolah tanpa sadar sedang mempraktikkan apa yang disebut oleh sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, sebagai “kekerasan simbolik” (symbolic violence).

Hasrat manusia akan pencapaian, kemenangan, dan pengakuan memang hal yang lumrah. Namun, masalah menjadi pelik ketika hasrat ini memanjangkan tangannya hingga ke ranah institusi pendidikan. Demi menunjukkan legitimasi dan mencari validasi di mata masyarakat (serta calon pendaftar tahun berikutnya), sekolah merasa harus memamerkan “output unggulan” mereka. Dalam ekosistem pendidikan kita, output unggulan itu telah disempitkan maknanya menjadi satu metrik tunggal: lolos seleksi PTN.

Standar sukses yang sempit ini jelas tidak netral. Secara langsung, standar ini menciptakan garis demarkasi yang tegas antara siapa yang dianggap “pintar” dan siapa yang “biasa saja” atau bahkan “gagal”. Di banyak sekolah, hegemoni PTN ini tidak hanya berhenti pada spanduk akhir tahun, tetapi diterjemahkan ke dalam praktik pedagogis sehari-hari.

Jam pelajaran sering kali dibajak menjadi sesi bimbingan belajar yang berfokus semata-mata pada soal-soal Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Perhatian lebih diberikan kepada segelintir siswa yang dinilai berpotensi menyumbang angka kelulusan PTN, sementara narasi yang diulang-ulang di ruang kelas selalu berkutat pada dogma bahwa “tembus PTN sama dengan sukses”.

Di sinilah letak kekerasan simbolik itu bekerja. Berbeda dengan kekerasan fisik yang meninggalkan luka kasatmata, kekerasan simbolik bekerja secara halus lewat makna, bahasa, dan pengakuan yang didominasi oleh pihak yang berkuasa dalam hal ini, institusi sekolah. Ketika pihak sekolah hanya mempublikasikan nama-nama yang lolos PTN, pesan simbolik yang dikirimkan kepada ratusan siswa lainnya sangatlah kejam: kalian tidak layak ditampilkan.

Siswa yang tidak masuk PTN baik karena memilih Perguruan Tinggi Swasta (PTS), memutuskan untuk langsung bekerja, berwirausaha, atau memang tidak lolos seleksi merasakan tekanan tersebut secara tidak langsung. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang dirayakan dan siapa yang diabaikan.

Dari sana, mereka mulai menyimpulkan posisi diri mereka sendiri dalam hierarki sosial sekolah. Kesimpulan ini lama-kelamaan diinternalisasi menjadi sebuah keyakinan batin yang destruktif: “Berarti saya kurang berhasil,” atau “Berarti saya lebih rendah.” Meski tidak ada guru yang secara verbal menyebut mereka gagal, dampak mental yang ditimbulkan oleh absennya pengakuan ini sangatlah kuat. Sekolah telah merampas rasa percaya diri mereka tepat di titik awal mereka harus menghadapi dunia nyata.

Jika ditarik lebih dalam ke ranah struktural, obsesi sekolah terhadap PTN ini adalah cermin dari sistem seleksi nasional yang menekan, tuntutan reputasi, dan logika pasar pendidikan yang komodifikatif. Mengutip kritik dari para pemikir pendidikan seperti Paulo Freire dan Michael Apple, pendidikan di titik ini telah berubah wujud.

Ia bukan lagi sebuah proses memanusiakan manusia atau ruang untuk membebaskan potensi beragam yang dimiliki siswa. Sebaliknya, pendidikan telah direduksi menjadi sekadar alat reproduksi standar dominan. Sekolah beralih fungsi menjadi pabrik penyaring yang mengklasifikasikan manusia, di mana mereka yang sesuai dengan cetakan (lolos PTN) akan dipajang di etalase, sementara yang lain dibuang ke gudang pengabaian.

Lantas, bagaimana kita harus membenahi benang kusut yang telah mengakar ini? Pembenahan tidak bisa hanya mengandalkan imbauan moral; ia membutuhkan restrukturisasi cara berpikir dan kebijakan.

Pertama, ubah definisi sukses di level sekolah.
Sekolah harus mulai menampilkan semua jalur masa depan siswanya secara setara. Apresiasi yang sama kuat dan narasi yang sama bangganya harus diberikan kepada siswa yang diterima kerja kontrak, yang membuka usaha kecil-kecilan, yang masuk sekolah vokasi, maupun yang melanjutkan ke PTS. Semua pilihan yang halal dan dijalani dengan tanggung jawab adalah sebuah kesuksesan.

Kedua, ubah praktik pembelajaran di kelas.
Tugas utama pendidik bukanlah mencetak mesin penjawab soal pilihan ganda agar lolos seleksi. Guru dan sekolah harus kembali pada muruah pendidikan: membantu siswa mengenali kekuatan, minat, dan peluang riil yang sesuai dengan keunikan diri mereka masing-masing. Ruang kelas harus menjadi tempat di mana kecerdasan musikal, kinestetik, dan interpersonal dihargai sama tingginya dengan kecerdasan logis-matematis.

Ketiga, rombak sistem pengakuan dan publikasi.
Jika sekolah ingin membuat spanduk atau unggahan media sosial, buatlah representasi keberagaman capaian. Rayakan fakta bahwa sekolah tersebut telah melahirkan calon teknisi andal, seniman muda, pengusaha pemula, selain juga mahasiswa PTN.

Keempat, intervensi di level kebijakan.
Pemerintah dan dinas pendidikan harus mendorong indikator kinerja sekolah yang jauh lebih luas. Angka masuk PTN tidak boleh lagi dijadikan satu-satunya berhala untuk menilai kualitas sebuah SMA/SMK. Keterserapan di dunia kerja, keberlanjutan studi di berbagai instansi, hingga pengembangan kompetensi karakter harus menjadi metrik penilaian yang ekuivalen.

Pada akhirnya, sebuah sekolah tidak bisa dikatakan sukses jika demi terlihat hebat di spanduk, mereka tanpa sadar telah membuat sebagian besar anak didiknya merasa menjadi manusia yang gagal. Sudah saatnya kita meruntuhkan altar pemujaan PTN yang sempit ini dan mulai merayakan setiap langkah kecil anak-anak kita dalam menemukan jalan hidupnya masing-masing. Sebab pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang merangkul semua, bukan yang hanya merayakan segelintir pemenang dalam sebuah perlombaan yang aturannya tidak pernah adil.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: pendidikan
Previous Post

Validasi Manusia vs Ridha Allah: Kita Lagi Mengejar yang Mana?

Next Post

Tidak Terjadi Apa-Apa, Tapi Kita Sudah Lelah: Wajah Overthinking Generasi Modern

M. Islahuddin

M. Islahuddin

Next Post
Tidak Terjadi Apa-Apa, Tapi Kita Sudah Lelah: Wajah Overthinking Generasi Modern

Tidak Terjadi Apa-Apa, Tapi Kita Sudah Lelah: Wajah Overthinking Generasi Modern

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.